INFORMASI TEST ELPT (CLICK HERE) Dampak Media Sosial terhadap Kesehatan Mental

Dampak Media Sosial terhadap Kesehatan Mental

  • By Titis Nurmalita Dianti
  • In Lihat
  • Posted 23 Februari 2021

Media sosial telah menjadi bagian dari cara berinteraksi sehari-hari, bagi hampir setiap orang. Meski begitu, tidak sedikit juga yang belum menggunakannya dengan bijaksana sehingga dampak negatif media sosial masih sulit untuk dihindari.

Biasanya orang menggunakan media sosial untuk meredakan stres atau melampiaskan sesuatu, mulai dari mengkritik suatu pemberitaan, layanan konsumen, menyerukan kampanye, melihat video lucu, dan lain-lain. Sayangnya, sering kali unggahan seseorang justru menyerupai stres yang tak ada habisnya. Penggunaan media sosial berlebih dapat memberikan pengaruh terhadap kesehatan mental Anda. Bahkan, penggunaan media sosial disebut sebagai salah satu penyebab depresi. Benarkah demikian?

Dampak Media Sosial terhadap Kesehatan Mental

Di sisi lain, penggunaan media sosial yang kurang bijak dapat berpengaruh buruk terhadap kesehatan mental Anda. Saat ini, media sosial kerap dikaitkan sebagai salah satu faktor risiko depresi dan gangguan kecemasan. Kaitan antara depresi dan media sosial tidak hanya seputar tekanan sosial untuk membagikan atau mengikuti berita terkini.

Munculnya kondisi kejiwaan yang satu ini juga disebabkan oleh kecenderungan pengguna sosial media membandingkan dirinya dengan keberhasilan yang dicapai orang lain. Saat melihat teman atau kerabat yang memiliki pekerjaan yang bagus, pasangan yang baik, serta rumah yang indah, Anda dapat merasa turut berbahagia. Namun tidak jarang, rasa iri yang dapat memicu depresi, justru muncul. Bahkan perasaan ini memicu keinginan bunuh diri, ketika melihat pencapaian Anda tidak sebanding dengan teman-teman Anda.

Hubungan depresi dan media sosial, juga berkaitan dengan koneksi yang Anda miliki dengan teman-teman di jejaring tersebut. Koneksi yang terbentuk di media sosial, tidak berlangsung melalui tatap muka secara langsung. Hal tersebut membuat koneksi yang terbentuk menjadi kurang memuaskan secara emosional, sehingga memicu munculnya rasa terisolasi dari kehidupan sosial.

Media sosial tidak selamanya buruk untuk kesehatan mental Anda. Beberapa dampak sosial media yang positif juga bisa Anda dapatkan, seperti berikut ini :
1. Dapat Menginspirasi Gaya Hidup Sehat
Media sosial dapat Anda gunakan sebagai alat motivasi dalam mencapai gaya hidup sehat. Misalnya untuk berhenti merokok atau rutin berolahraga. Dengan membagikan resolusi di media sosial, Anda bisa mendapatkan dukungan positif dan menjadi inspirasi agar orang lain mengikutinya.
2. Sebagai Sarana untuk Menyebarkan Bantuan
Medsos dapat menjadi sarana untuk membantu orang lain. Begitu banyak akun yang menyediakan informasi mengenai saluran pencegahan bunuh diri, maupun forum-forum anonim yang membantu pengguna internet untuk membagikan pengalaman pribadinya, dan menerima motivasi serta saran untuk memerbaiki kehidupannya.
3. Membantu Menemukan Solusi bagi Persoalan Hidup
Permasalahan yang umumnya dialami oleh orang dengan masalah pada kesehatan mental seperti depresi, adalah keengganan untuk menceritakan masalah kepada orang-orang terdekat. Saat ini, sudah semakin banyak orang yang mencari solusi untuk hal tersebut melalui media sosial. Anda bisa menemukan banyak akun media sosial yang membagikan saran seputar masalah kesehatan, dan topik-topik lain. Meski media sosial dapat memberikan dampak negatif pada kesehatan mental, jika Anda menggunakannya dengan bijak, kemajuan teknologi ini dapat membantu memperbaiki kesehatan Anda. Ikutilah akun-akun yang membangun, dapat memberi motivasi, dan membagikan informasi yang berguna bagi Anda.

Berbagai bukti kaitan antara depresi dan media sosial

Salah satu peneliti studi, Jordyn Young dari Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat, mengemukakan bahwa seseorang yang lebih jarang menggunakan media sosial umumnya cenderung tidak depresi dan tidak kesepian. Ia juga menambahkan, mengurangi penggunaan media sosial dapat menyebabkan terjadinya perbaikan, utamanya dalam hal kualitas kesejahteraan hidup seseorang.

Studi tersebut melibatkan 143 mahasiswa dari Universitas Pennsylvania yang dibagi secara acak menjadi dua kelompok: kelompok yang diperbolehkan melanjutkan penggunaan media sosial seperti biasa dan kelompok yang diberikan batasan signifikan terhadap penggunaan media sosialnya.

Selama tiga minggu, kelompok yang dibatasi tersebut hanya boleh mengakses media sosial paling lama 30 menit setiap harinya. Waktu tersebut dibatasi, yaitu 10 menit untuk masing-masing tiga platform yang berbeda, yakni Facebook, Instagram, dan Snapchat.

Untuk memastikan kondisi eksperimental tetap berjalan, para peneliti melihat data penggunaan aplikasi di ponsel para peserta, yang mendokumentasikan berapa lama waktu yang digunakan untuk membuka masing-masing aplikasi setiap harinya. Pada akhir studi, didapat hasil bahwa pada kelompok yang dibatasi penggunaan media sosialnya, tampak terdapat penurunan gejala depresi serta kesepian setelah membatasi penggunaan media sosial.

Para pakar berhipotesis, ini merupakan akibat suatu konten yang biasanya telah dipilih secara saksama, dalam arti hanya menampilkan apa yang ingin orang tersebut perlihatkan. Misalnya mengunggah makan di restoran mewah, dokumentasi kebahagiaan liburan keluarga, liburan romantis dengan pasangan, pesta dengan teman-teman, atau konten lain yang umumnya ingin memperlihatkan keriaan atau energi positif lainnya.

Nah, orang-orang yang melihat konten tersebut akan membandingkan hidupnya dengan konten yang ia lihat, yang mana konten tersebut terkesan jauh lebih menarik. Adanya perbandingan inilah yang diduga memicu seseorang mengalami depresi.

Karena sudah ada hasil studi yang mengemukakan bahwa aktivitas media sosial yang berlebihan dapat mengakibatkan rasa kesepian dan depresi, karenanya Anda diharapkan bersikap bijak dalam hal penggunaannya. Misalnya saat bersama dengan teman-teman atau keluarga, baiknya jangan sibuk memandangi smartphone. Ingat, kebersamaan di dunia nyata jauh lebih membahagiakan ketimbang sibuk melihat berbagai konten unggahan di media sosial.

Penulis : Muchamad Naufal Falakhi (Airlangga Nursing Journalist)
Editor : Titis Nurmalita Dianti (Airlangga Nursing Journalist)

Referensi :
Adnani, N. B. (2019, April 1). Depresi Akibat Bermain Media Sosial, Apakah Mungkin? https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3625373/depresi-akibat-media-sosial-apakah-mungkin
Putri, N. H. (2019, May 20). Hati-hati, Menggunakan Medsos Berlebihan Bisa Picu Depresi. https://www.sehatq.com/artikel/media-sosial-bisa-menjadi-penyebab-depresi

Pin It
Hits 5781