KKN PPM DIKTI UNAIR Terus Pacu Keberlanjutan Kampung Pelangi

  • By USINers
  • In Ners News
  • Posted 20 Juli 2019

UNAIR NEWS – Perbaikan lingkungan kota melalui strategi kampung kreatif telah diterapkan di berbagai kota di Indonesia, termasuk Surabaya. Salah satunya di Kampung RT 3/RW 4, Kelurahan Kendangsari, Kecamatan Tenggilis Mejoyo. Sejak tahun 2018, kawasan yang lekat dengan kesan kumuh, padat penduduk, serta keberadaan sampah di beberapa sudut gangnya tersebut menjelma menjadi Kampung Pelangi.

Kelurahan Kendangsari dipilih sebagai Kampung Pelangi lantaran pernah menjadi tempat binaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Airlangga. Inisiatif merintis dan melakukan pembenahan pada kampung itu datang dari dosen pembina KKN Elida Ulfiana, S. Kep., Ns., M. Kep. Tujuannya untuk mengatasi permasalahan di perkampungan, khususnya terkait kebersihan, sekaligus memberdayakan masyarakat di lingkungan setempat.

Tahun ini UNAIR kembali menerjunkan para penggawanya guna melakukan monitoringserta menjaga keberlanjutan program Kampung Pelangi melalui KKN Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Pendidikan Tinggi (Dikti). Sebanyak 22 mahasiswa dari berbagai fakultas terlibat di dalamnya dengan didampingi oleh tiga pengajar, yakni Elida; Eka Mishbahatul Mar’ah Has, S. Kep., Ns., M. Kep.; dan Dr. Lilis Sulistyorini Ir., M. Kes.

Perbaikan lingkungan kota melalui strategi kampung kreatif telah diterapkan di berbagai kota di Indonesia, termasuk Surabaya. Salah satunya di Kampung RT 03/RW 04, Kelurahan Kendangsari, Kecamatan Tenggilis Mejoyo. Sejak tahun 2018 silam, kawasan yang lekat dengan kesan kumuh, padat penduduk, serta keberadaan sampah di beberapa sudut gangnya tersebut, menjelma menjadi Kampung Pelangi.

Kelurahan Kendangsari dipilih sebagai Kampung Pelangi karena pernah menjadi tempat binaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Airlangga. Inisiatif merintis dan melakukan pembenahan pada kampung ini datang dari dosen pembina KKN, Elida Ulfiana, S. Kep., Ns., M. Kep. Tujuannya untuk mengatasi permasalahan di perkampungan khususnya terkait kebersihan, sekaligus memberdayakan masyarakat di lingkungan setempat.

Tahun ini, UNAIR kembali menerjunkan para punggawanya guna melakukan monitoringserta menjaga keberlanjutan program Kampung Pelangi melalui KKN Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Pendidikan Tinggi (Dikti). Sebanyak 22 mahasiswa dari berbagai fakultas terlibat di dalamnya dengan didampingi oleh tiga pengajar yakni Elida, Eka Mishbahatul Mar’ah Has, S. Kep., Ns., M. Kep., dan Dr. Lilis Sulistyorini Ir., M. Kes.

“Pengembangan Kampung Pelangi Kendangsari sebagai kampung kreatif dilakukan melalui lima tahap. Mulai dari penyusunan ide kreatif sampai evaluasi. Saat ini, kami berada di tahap realisasi ide kreatif, tepatnya tahap pengembangan. Di tambah lagi, komposisi mahasiswa yang berasal dari berbagai fakultas sangat mendukung untuk melakukan pengembangan kawasan ini,” jelas Elida di sela-sela pelaksanaan KKN.

Elida menguraikan, bahwa sebelum menjalankan KKN, mahasiswa beserta tim pengajar sudah terlebih dulu melakukan sosialisasi program dan menjaring aspirasi masyarakat untuk bersama-sama menyelaraskan tujuan awal. Mereka juga mengajak serta perangkat kampung dalam study banding ke Kampung Warna-warni Jodipan di Malang, agar dapat bertukar pikiran seputar pengembangan kampung dengan perangkat kampung di sana.

”Pengembangan Kampung Pelangi Kendangsari sebagai kampung kreatif dilakukan melalui lima tahap. Komposisi mahasiswa yang berasal dari berbagai fakultas pun sangat tepat sehingga mampu untuk melakukan pengembangan di kawasan ini,” jelas Elida.

“Ada empat program yang kemudian disepakati mahasiswa, yaitu kerja bakti kreatif setiap hari minggu, pengelolaan bank sampah, perintisan wirausaha batik shibori serta kampung sehat,” terang wanita yang merupakan pengajar di Fakultas Keperawatan (FKp) UNAIR itu.

Ketua pelaksana KKN PPM DIKTI 2019—Yulianto Ardiansyah atau akrab disapa Ardi—menuturkan bila dalam kerja bakti kreatif kali ini, selain membersihkan lingkungan perkampungan juga dilakukan pengecatan seperti tahun lalu. Bedanya terdapat perluasan lokasi pengecatan dan koordinasi bersama jajaran karang taruna. Selanjutnya, pada program kampung sehat mereka melakukan diseminasi juru pemantau jentik (jumantik).

“Kami ingin memfokuskan pengecatan melalui pembuatan sudut promosi kesehatan (promkes) serta sudut ramah anak. Jadi, kami bikin beberapa mural dengan melibatkan masyarakat setempat, termasuk anak-anak. Gambarnya macam-macam, ada yang mengampanyekan bahaya rokok, cegah stunting, demam berdarah, menjaga kebersihan dan 3R (pengelolaan sampah),” ujar mahasiswa jurusan Ilmu Administrasi Negara ini.

Program pengecatan yang telah berlangsung dua kali itu mendapat respon positif dari masyarakat karena memiliki nuansa informatif. Dengan keberadaan dua sudut tersebut, masyarakat lebih waspada terhadap kebersihan. Di sisi lain, program pengecatan tersebut juga menjadi wadah dalam menumbuhkan kreatifitas masyarakat utamanya anak-anak.

Dalam pengembangan Kampung Pelangi, kerjasama lintas sektor sangat dibutuhkan sebagai sistem pendukung. Oleh karena itu, peserta KKN PPM DIKTI UNAIR menggandeng sejumlah mitra. Di antaranya ialah Bank Sampah Induk Surabaya (BSIS) untuk membantu pengelolaan sampah serta Grand Batik guna mengadakan pelatihan batik shibori.

“Kami sedang melakukan upaya kerjasama dengan Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Surabaya dalam mendukung pelatihan kewirausahaan untuk pengembangan batik shibori di masa mendatang. Kemudian, Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Kota Surabaya terkait donasi beberapa tanaman anti nyamuk, juga komposter,” imbuh Ardi.

Dihubungi secara terpisah, Ketua Rukun Tetangga (RT), Suliono mengatakan jika pihaknya sangat berterima kasih atas terpilihnya Kampung RT 03/RW 04 sebagai Kampung Pelangi. Dia berharap agar di masa mendatang, warga dapat memelihara apa yang telah diperoleh dari program KKN ini dan melakukan perubahan terkait gaya hidup yang lebih bersih.

“Ketika mengikuti study banding ke Jodipan dua minggu lalu, memang sangat berarti buat saya. Karena saya dapat melihat pengelolaan kampung yang cukup baik dan terkoordinasi. Namun, untuk menjadi seperti Jodipan memerlukan proses panjang. Mahasiswa sekarang lebih kreatif. Ke depan kita berupaya agar terdapat suatu kerjasama berupa pemantauan dengan pembimbing atau mahasiswa setiap berapa bulan sekali,” kata Suliono.

Harapan serupa juga disampaikan Elida, ia berpesan agar Kampung Pelangi dapat menjadi kawasan bernuansa warna-warni yang sehat dan asri, jumlah sampah berkurang dan wirausaha batik shibori bisa berkembang sebagai sumber pendapatan masyarakat. (*)

Penulis: Nabila Amelia

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Pin It
Hits 214

Terpopuler