Seribu Lilin Pada Malam Perenungan Hari Kesehatan Jiwa

  • By USINers
  • In Ners News
  • Posted 11 Oktober 2019

NERS NEWS - Sebagai kelanjutan perayaan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) yang berlangsung kemarin Kamis (10/10/2019) di Fakultas Keperawatan (FKp) Unair, pada sore hari bakda magrib, dilanjutkan dengan acara malam perenungan yang ditandai dengan penyalaan seribu lilin. Kegiatan yang berlangsung di halaman danau Unair itu dihadiri oleh mahasiswa dan dosen dari berbagai fakultas/jurusan, lembaga pemerhati ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) seperti Yayasan Rehabilitasi Jiwa Al Hafish, tenaga kesehatan, dan masyarakat umum.

Koordinator kegiatan, -Pak Iskandar, S.Kep.,Ns, menjelaskan kegiatan penyalaan seribu lilin itu dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada siapa saja yang berpartisipasi untuk mereflesikan hidupnya dan hubungan dengan orang lain. Persoalaan gangguan jiwa yang terjadi selama ini, ada baiknya direnungkan, biar kita makin peka dengan lingkungan sekitar dan bisa menghadirkan solusi terbaik.

“Sebenarnya ada dua tujuan utama yang ingin kita gemakan dalam kegiatan ini. Pertama, supaya masyarakat umum makin sadar untuk tidak memberi stigma buruk lagi kepada ODGJ. Kedua, peserta yang didominasi perawat dan mahasiswa keperawatan itu diharapkan makin bertumbuh rasa pedulinya dalam merawat atau mendampingi ODGJ dan peka dengan isu global seperti pencegahan bunuh diri yang menjadi tema HKJS tahun ini,” ungkap Pak Iskandar di sela kegiatan berlangsung. Dr. Ahmad Yusuf, S.Kp, M.Kes yang mewakili Dekan FKp Unair memberikan apresiasi kepada mahasiswa Prodi Magister Keperawatan, khususnya yang mengambil peminatan Keperawatan Jiwa, atas inisiatif menjalin kerja sama lintas sektor dalam memeriahkan HKJS.

“Tema hari kesehatan jiwa tahun ini yang menekankan tentang pencegahan bunuh diri memang sangat relevan, sebab kejadian bunuh diri selalu meningkat tiap tahunnya. Ini waktunya kita sadar dan berusaha mengedukasi yang lain untuk mencegah bunuh diri,” terang dosen yang menjabat sebagai Wadek III FKp Unair tersebut. Acara selanjutnya berlangsung khidmat dengan penampilan seni seperti pembacaan puisi, menyanyikan lagu-lagu bertema semangat perjuangan. Ada pula yang berbagi cerita dan pengalaman, baik sebagai pelaku bunuh diri maupun sebagai penolong dan pendamping orang yang melakukan percobaan bunuh diri.

Salah seorang mantan pasien ODGJ yang kini masih dalam pantauan Yayasan Rehabilitasi Mental Al Hafish, berani tampil membagikan kisahnya di hadapan khalayak ramai. Dia memperkenalkan diri dengan penuh percaya diri, nama panggilannya Reza. Reza mengaku, dulu pernah berkuliah di salah satu PT swasta di Surabaya. Karena merasa tidak mampu menghadapi tantangan hidup, saat itu dia melakukan percobaan bunuh diri. Kabar baiknya selalu gagal. Kemudian dia dirawat cukup lama di rumah sakit jiwa.

Singkat cerita, dia berhasil pulih. Paska perawatan dari rumah sakit, dia belajar keterampilan komputer. Berkat keterampilan itu, kini dia bisa hidup mandiri karena bisa bekerja sebagai tenaga administrasi di salah satu kantor swasta. Banyak lagi kisah lain pada malam itu. Pada intinya, semua ingin meyakinkan kalau ODGJ bukan lah akhir dari segala perjuangan hidup. Mereka masih punya peluang menjadi lebih sehat dan produktif. Dukung mereka dengan tidak memberi stigma yang buruk dan terima mereka selayaknya sesama manusia.

Penulis: Saverinus Suhardin, S.Kep.,Ns (Mahasiswa Magister Keperawatan)

Pin It
Hits 374

Terpopuler