Sinau Bareng Cak Nun pada Dies Natalis ke-65 Universitas Airlangga

  • By USINers
  • In Ners News
  • Posted 05 Desember 2019

NERS NEWS – Sinau Bareng Cak Nun dan Kyai Kanjeng dalam rangka memperingati dies natalis ke-65 Universitas Airlangga telah dilaksanakan pada Jumat siang (15/11/2019) di Aula Garuda Mukti, Gedung Rektorat Kampus C UNAIR. Acara ini disambut oleh Bapak Wakil Rektor III Prof. Ir. Amin Alamsjah, M,Si., Ph.D. Dalam sambutannya, Prof. Amin mengatakan bahwa, untuk menjadi orang yang tegas dan bermanfaat adalah dengan cara meningkatkan kemampuan diri.

“Saya harap setiap tahun UNAIR bisa mengundang cak nun untuk sinau bareng, tingkatkan kemampuan diri anda untuk menjadi orang yang tegas dan bermanfaat” ucap Prof. Amin

Acara yang berlangsung sangat meriah ini selain dihadiri oleh K.H. Emha Ainun Nadjib, atau yang biasa dikenal dengan Cak Nun, turut hadir pula Sabrang Mowo Damar Panuluh, putra Cak Nun yang juga merupakan vokalis grup band Letto. Acara dibuka dengan penampilan Sabrang bersama Kyai Kanjeng yang membawakan beberapa lagu yang unik, karena alat musik gamelan beserta biola, gitar, dan bass dimainkan secara bersamaan. Para penonton pun menyambut antusias dengan ikut bernyanyi bersama.

Usai dibuka dengan lagu, acara dilanjutkan dengan diskusi bersama yang membahas tentang kebermanfaatan manusia. Pada sesi ini, Cak Nun dan Sabrang menyampaikan pandangan tentang bagaimana setiap manusia mempunyai tujuan masing-masing di dunia ini. Keduanya juga menyinggung soal harapan UNAIR yang ingin menjadi lebih bermanfaat bagi masyarakat.

“Jika sebuah universitas ingin bermanfaat maka harus bisa mendidik mahasiswa dengan baik. Fungsi dari universitas sendiri adalah untuk melahirkan orang-orang yang bisa melihat sesuatu dengan apa adanya,” ujar Sabrang.

“Karena makna ‘pandai’ yang sebenarnya adalah saat kita bisa melihat sesuatu apa adanya, melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang lain,” lanjutnya.

Sabrang menuturkan bahwa sebagai manusia, kita harus bisa memanajemen informasi yang masuk dan tidak boleh mempercayai sesuatu dengan mudah. Hal ini penting untuk dilakukan mengingat banyaknya informasi yang beredar dalam kehidupan sehari-hari.

“Banyak orang yang salah persepsi, dengan mengira bahwa orang pintar harus tahu semuanya. Padahal, ada hal-hal yang lebih baik tidak diketahui dan puncak dari ilmu pengetahuan sendiri adalah ketidaktahuan,” imbuh Cak Nun.

Cak Nun menyampaikan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar. Sebagai contohnya adalah Kiai Kanjeng yang bisa memainkan berbagai lagu dari seluruh dunia meskipun menggunakan alat musik tradisional. Cak Nun juga berharap akan lahirnya peradaban baru yang lebih baik.

“Semoga dari kota pahlawan ini, bisa terbentuk sebuah peradaban baru,” harapnya.

Di penghujung acara, Rektor UNAIR,  Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., M.T., Ak., CMA., menyampaikan bahwa UNAIR ada untuk memberi kebermanfaatan. UNAIR akan selalu ada untuk mewujudkan Indonesia yang adil dan beradab.

“Keadilan adalah kata yang paling dekat dengan ketakwaan, sehingga dengan keadilan Insya Allah, jalan kita akan dimudahkan,” pungkasnya.

Penulis: Adelya Salsabila Putri (Airlangga Nursing Journalist)

Pin It
Hits 109

Terpopuler