NERS NEWS - “Kalau dulu perawat lebih banyak dituntut bekerja saja, saat ini ditambah lagi dengan tuntutan penelitian dan publikasi,” demikian Dr. Ahsan, SKp.,M.Kes menggambarkan perkembangan profesi perawat di era Revolusi Industri 4.0 ini. Hal itu disampaikan pada kesempatan Seminar dan Workshop Nasional Keperawatan yang diselenggarakan oleh Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga (FKp Unair) pada hari Sabtu (30/11) lalu.

Sebagai salah satu pengurus pada Departemen Bidang Penelitian DPP PPNI, Pak Ahsan berusaha memotivasi perawat untuk menjadi peneliti dengan menunjukkan berbagai instrumen yang disiapkan organisasi profesi perawat. Saat ini, PPNI telah menetapkan regulasi yang mengatur hal teknis dalam melakukan penelitian dan publikasi bagi perawat. Tidak hanya itu, instrumen atau lembaga pendukung juga diatur secara jelas seperti ketentuan menjadi peneliti, reviewer, jurnal ilmiah, komisi etik, dan sebagainya.

Dosen pada Prodi Magister Keperawatan Universitas Brawijaya Malang itu juga mengakui kalau urusan penelitian dan publikasi masih menjadi momok bagi perawat saat ini. Hal itu terjadi karena belum terbiasa. “Awalnya kita harus paksakan dulu. Lama-lama terbiasa, hingga nanti menjadi sebuah kebutuhan,” jelasnya dengan semangat di panggung Aula Kahuripan Lt.3 Gedung Rektorat Kampus C Unair.

Lebih lanjut diterangkan mengenai kebiasaan perawat yang dianggap kurang baik, yaitu meneliti dan memublikasi hanya karena tuntutan sewaktu kuliah. Begitu sudah lulus, tidak dilakukan lagi. Supaya semangat melakukan kegiatan ilmiah itu tidak segera luntur, makanya ada kebijakan tentang jabatan fungsional.

Secara umum, terdapat delapan (8) peran PPNI dalam penelitian dan publikasi, yaitu: menentukan kebijakan penelitian profesi ners; meningkatkan kemampuan melakukan riset; melakukan motivasi, pembinaan angota dalam riset keperawatan; memfasilitasi publikasi hasil penelitian dalam jurnal nasional / internasional; memfasilitasi pertemuan ilmiah nasional dan linternasional; memfasilitasi penelitian perawat WNI dan WNA dalam penelitian; memfasilitasi kesejahteraan perawat melalui riset; dan memberikan perlindungan hukum perawat dalam menjalankan riset kepewatan.

Ada satu hal penting yang ditekankan Pak Ahsan bagi perawat yang melakukan penelitian dan publikasi, yaitu harus jujur. Bila perawat melakukan aktivitasnya dilandaskan pada kejujuran, maka hasil penelitiannya akan lebih sahih sehingga memberi dampak yang baik bagi pengembangan ilmu. Bila melakukan falsifikasi atau manipulasi data, selain bertentangan dengan prinsip etik penelitian, hal itu juga bisa membuat hasil penelitian itu tidak berguna untuk diterapkan dalam tatanan praktik atau dalam urusan mengubah kebijakan.

Karena itu, Pak Ahsan berulang-ulang menyampaikan tentang penting sikap jujur dalam diri seorang perawat. Begitu juga saat menulis artikel untuk kepentingan publikasi, kejujuran itu bisa ditunjukkan dengan cara tidak melakukan plagiasi. Jujur menjadi pesan utama Pak Ahsan sebelum menutup sesinya dalam seminar yang diselenggarakan oleh mahasiswa Prodi Magister angkatan M12 dan Prodi Doktoral angkatan D1/D2 FKp Unair itu.

Penulis: Saverinus Suhardin (Mahasiswa Magister Keperawatan)

Hits 567