Ide Mahasiswa FKp Unair untuk Keperawatan Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0

  • By USINers
  • In Ners News
  • Posted 11 Desember 2019

NERS NEWS - Mahasiswa Prodi Magister angkatan M12 Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga (FKp Unair), selain menjadi panitia penyelanggara, ada juga yang dipercayakan menjadi pembicara dalam kegiatan Seminar dan Workshop Nasional Keperawatan yang mengusung tema: Translation Nursing Research into Practice in Industry Era 4.0.

Ada empat mahasiswa yang tampil secara panel dengan pembicara tamu pada hari Sabtu (30/11) lalu. Mereka merupakan utusan dari peminatan Keperawatan Medikal Bedah (KMB), Keperawatan Jiwa, Keperawatan Komunitas, dan Manajemen Keperawatan.

Keempat mahasiswa itu, masing-masing membicarakan topik sesuai dengan peminatan atau keahliannya. Mereka berusaha menyampaikan ide, yang pada intinya mau menunjukkan bagaimana memanfaatkan hasil riset untuk dipakai dalam tatanan praktik klinik atau untuk mengubah kebijakan di tatanan pelayanan.

Di hadapan 700-an peserta yang memenuhi Aula Kahuripan Lt.3 Gedung Rektorat Kampus C Unair itu, mereka berusaha meyakinkan rekan perawat, bahwa upaya untuk menerapkan praktik berbasis bukti (Evindence Based Practice) itu mudah dilaksanakan. Berikut ini merupakan ide yang disampaikan mahasiswa FKp Unair yang mungkin berguna untuk kemajuan keperawatan di Indonesia.

 Pengkajian Risiko dan Mortalitas SKA

C.H.R. Yeni Suryandari, S.Kep., Ns mengangkat masalah tingginya angka kematian yang disebabkan oleh Sindrom Koroner Akut (SKA) atau penyakit jantung. “Masalah penyakit jantung, kalau tidak ditangani secara cepat dan tepat, kecil kemungkinan bisa tertolong,” demikian fakta yang disampaikan mahasiswa peminatan KMB tersebut.

Sebagai salah satu solusi untuk menekan persoalan tersebut, maka perlu sebuah pengkajian yang bisa mendeteksi lebih dini risiko kegawatan yang akan terjadi. Bila diketahui lebih awal, maka semakin mudah untuk diberikan tindakan dengan tingkat keberhasilan yang lebih baik.

Perawat yang bekerja di RKZ Surabaya itu memperkenalkan beberapa instrumen yang sudah terbukti ampuh lewat berbagai penelitian di berbagai belahan dunia. Diantaranya ada yang dinanamakan Killip, Grace, dan Timi. “Ketiga instrumen itu bisa digunakan bersamaan atau dipilih salah satu yang sesuai dengan kondisi tempat kerja masing-masing,” demikian pesan perawat yang biasa dipanggil Ibu Yeni itu.

Model Pelayanan Bebas Pasung

Iskandar.,SKep.Ns langsung mengungkap data banyaknya Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang dipasung di Indonesia. Tindakan penanganan yang melanggar HAM ini, disebutkan bisa memberi banyak efek negatif pada proses pemulihannya. “Tidak hanya itu, pemasungan bisa menghilangkan potensi pendapatan daerah juga,” terang mahasiswa S2 peminatan Keperawatan Jiwa tersebut.

Sebagai perawat yang juga bekerja di RS Jiwa Menur Surabaya, Pak Iskandar menceritakan pengalaman bersama timnya dalam membentuk berbagai program inovatif untuk pembebasan pasung. Diantaranya ada MLM (Multi Level Management) Pasung sebagai salah satu cara cepat untuk program bebas pasung di Jawa Timur dan ATM (Administrasi Terpadu Manajemen) Pasung.

“Itu program lama yang telah dikerjakan. Saat ini, kami persembahkan program baru lagi, SI-CANTIK untuk Unair yang hebat,” kata Pak Iskandar bersemangat yang disambut tepuk tangan hadirin. Si-Cantik merupakan inovasi pelayanan kesehatan jiwa masyarakat berbasis Android yang dikembangkan mahasiswa Magister Keperawatan (M12) peminatan Keperawatan Jiwa. Sebelumnya, program ini mendapat penghargaan dengan kategori terinovatif dari Pemprov Jawa Timur.

Perkesmas Berbasis Telenursing

Mahasiswa peminatan Keperawatan Komunitas, -Masunatul Ubudiyah, S.Kep., Ns, menganjurkan penggunaan konsep telenursing untuk menjangkau semua lapisan masyarakat, khususnya untuk menyukseskan program perkesmas. “Lewat program ini, pasien bisa menanyakan tentang masalah kesehatannya langsung kepada perawat atau dokter dengan memanfaatkan tekonologi komunikasi,” demikian penjelasan Ns. Natul.

Berbagai contoh penerapan yang dilakukan di negara lain menujukkan hasil positif. Melalui telenursing, perawat dapat memberikan pelayanan yang lebih efektif dan efisien. Hal ini cocok diterapkan dalam tatanan pelayanan keperawatan komunitas, dimana jumlah kliennya mencakup seluruh masyarakat yang tinggal di suatu wilayah.

“Pelayanan yang efektif dan efisien, memungkinkan kita bisa mencapai tujuan untuk memandirikan keluarga dan komunitas dalam mejalankan hidup sehat,” tutup perawat yang kini menjadi salah satu staf di FKp Unair tersebut.

Inovasi Timbang Terima

Timbang terima yang menjadi media komunikasi antara perawat dengan perawat yang menyampaikan dan menerima laporan tentang kondisi pasien. Bila informasi yang disampaikan atau diterima itu keliru, tentu saja berbahaya bagi keselamatan pasien. “Sudah ada inovasi timbang terima secara elektronik, sehingga risiko kesalahan itu bisa dikurangi,” kata Enniq Mazayudha, S.Kep., Ns dari peminatan Manajemen Keperawatan.

Perawat yang berkerja di RS PKU Muhammadiyah Surabaya itu menjelaskan, inovasi yang diberi nama ISBAR3 Comunication Tool, merupakan alat komunikasi yang menjelaskan informasi untuk dikomunikasikan secara terstruktur dalam proses timbang terima.

Berbagai penelitian yang bertujuan untuk menguji kefektifan metode tersebut menunjukkan hasil yang positif. Karena itu, Ns. Enniq menyarankan program tersebut bisa diterapkan di semua rumah sakit. Selain memudahkan kerja perawat, media itu juga menjamin keselamatan pasien.

Penulis: Saverinus Suhardin (Mahasiswa Magister Keperawatan)

Pin It
Hits 1683

Terpopuler