Penelitian Kesehatan di Era Revolusi Industri 4.0

  • By USINers
  • In Ners News
  • Posted 12 Desember 2019

NERS NEWS - Prof.dr. Djoko Santoso, Ph.D.,K-GH.,FINASIM mengingatkan peserta Seminar dan Worskshop Nasional Keperawatan yang berlangsung Sabtu (30/11) lalu, tentang pentingnya memiliki kemampuan beradaptasi di era disrupsi saat ini. “Mau tidak mau, tenaga kesehatan harus adaptable dengan perubahan yang terjadi di era revolusi industri 4.0. Pilihannya hanya dua, adaptasi atau ketinggalan?”

Wakil Rektor I Universitas Airlangga itu melanjutkan penjelasan tentang peluang penelitian bagi tenaga kesehatan di era revolusi industri 4.0. Menurutnya,  kemajuan iptek saat ini justru memudahkan untuk melakukan penelitian. Dengan bantuan teknologi informasi, banyak proses yang dulunya panjang, kini bisa dipotong menjadi lebih ringkas.

Di hadapan 700-an peserta yang memenuhi Aula Kaharupin Lt.3 Gedung Rektorat Kampus C Unair, pakar kesehatan ginjal itu memberi beberapa contoh yang telah terjadi. Diantaranya ada layanan kesehatan mulai dari proses konsultasi dengan tenaga kesehatan hingga pembelian obat-obatan bisa dilakukan secara daring; proses kuliah tidak lagi melulu di kelas, tapi sudah bisa lakukan secara online atau dengan teleconference; antrian pasien yang lama kini bisa dilakukan lewat aplikasi; dan masih banyak lagi jenis lainnya.

Kemudahan yang sama juga berlaku untuk kepentingan penelitian. “Dengan memanfaatkan teknologi yang canggih, bisa mempercepat-mempemudah-mengefisienkan aktivitas penelitian,” kata Guru Besar Unair tersebut.

Pada tahap identifikasi fenomena masalah, bisa dilakukan dengan mudah menggunakan media elektronik. Misalnya jurnal ilmiah yang bisa diakses secara daring, memudahkan peneliti mencari tahu sejauh mana informasi tentang isu yang akan diteliti.

Begitu pula pada proses selanjutnya, peneliti dengan mudah menemukan sumber pustaka ilmiah; banyak perangkat yang tersedia untuk memudahkan penghitungan statistik atau merekam data hasil penelitian; tersedia perangkat yang bisa mendeteksi adanya plagiasi atau memperbaiki tata bahasa Inggris dan sebagainya.

Pada tahap penerapan hasil penelitian juga sama. Peneliti dengan mudah menemukan jurnal ilmiah yang cocok dengan topik penelitian. Selain itu, tata cara penulisan maupun pengiriman artikel juga dengan mudah ditemukan di website jurnal ilmiah tujuan. Bila berhasil diterbitkan di jurnal internasional bereputasi, maka jangkauan hasil atau penerapannya bisa ke seluruh dunia.

Prof. Djoko melanjutkan, saat ini penelitian di bidang kesehatan yang sedang tren dan mengalami perkemnangan pesat mencakup tiga bidang, yaitu Nano Technology, Biotechnical Engineering, dan Stem Cell. Berbagai penelitian tersebut memberi banyak manfaat dalam bidang pelayanan kesehatan. Keuntungan yang bisa didapat berupa penemuan obat baru; penanganan penyakit kronis lebih efektif; data akan membantu penelitian medis, perawatan pasien, kemajuan rumah sakit, obat-obatan; personalized medicine akan berkembang  dan peningkatan monitoring pasien.

Kepeda perawat, Prof. Djoko berpesan untuk tetap mempertahankan komunikasi terapeutik yang berkualitas dengan pasien dan keluarganya. Penggunaan teknologi memang kadang merenggangkan hubungan terapeutik tersebut, karena itu perawat maupun tenaga kesehatan lain tetap dianjurkan untuk menjalin komunikasi yang efektif. “Perkembangan teknologi boleh saja melampaui kecerdasan manusia, tapi caring yang menjadi roh utama perawat tidak akan terganti,” tutupnya.

Penulis: Saverinus Suhardin (Mahasiswa Magister Keperawatan)

Pin It
Hits 710

Terpopuler