Calon Perawat Komunitas Berbagi Cara Hidup Sehat di Kampung Anak Negeri

  • By USINers
  • In Ners News
  • Posted 26 Desember 2019

NERS NEWS - Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan mahasiswa Prodi Magister Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga (FKp Unair) pada Kamis (19/12) lalu di Kampung Anak Negeri Surabaya berisi seputar informasi hidup sehat. Anak-anak terlantar atau biasa juga disebut dengan istilah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang berdomisili di pondok bilangan Wonorejo Timur milik Dinas Sosial Kota Surabaya itu, sering mengeluh berbagai penyakit yang sebenarnya bisa dicegah.

“Sebelum memutuskan apa yang ingin kami bagikan dengan adek-adek di sini,” jelas Nur Sayid JR, S.Kep.,Ns selaku salah satu panitia, “tentu saja dilakukan survei awal. Setelah menimbang banyak hal, kami akhirnya mengusung konsep Learn and Happy Together yang berisi pola hidup sehat dan P3K.”

Lingkungan Kampung Anak Negeri Surabaya itu terdiri dari bangunan berlantai dua yang membentang sedemikian rupa sehingga terlihat seperti sebuah persegi. Di halaman depan bagian kiri, dekat dengan tempat parakir, ada sebuah kantin yang dikelola beberapa anak muda yang dianggap mampu.

Di tengah gedung persegi itu, terdapat halaman yang cukup luas. Selain menjadi tempat anak-anak bermain kejar-kerjan atau futsal mini, halaman tengah itu juga ditanami berbagai jenis bunga dan terdapat sebuah kolam dengan air mancur yang menambah keindahannya.

Fasilitas yang ada di sana terbilang cukup lengkap. Selain ruang tidur bagi anak-anak, di sana juga memiliki fasilitas khusus seperti ruang makan, dapur, musala, ruang latihan bersepeda, ruang latihan bertinju, ruang melukis, ruang membaca, serta aula yang lumayan jembar. Di aula yang terletak di gedung paling belakang itulah yang menjadi pusat kegiatan sore itu.

Setelah melewati sesi pembukaan, Masunatul Ubudiyah, S.Kep.,Ns yang berperan sebagai pewara, memberikan kesempatan kepada Anis Fauziah, S.Kep,Ns untuk berbagi informasi seputar masalah gatal-gatal pada kulit. Bersama rekan Glorya Latuperissa, S.Kep.,Ns dan Ahmad Naufal, S.Kep.,Ns, Anis mengemas isi pendidikan kesehatannya sesederhana mungkin dan dibawakan dengan gaya bercerita (story telling).

Selain masalah penyakit kulit, calon perawat kesehatan komunitas itu juga berbagi tips sederhana tentang menangani berbagi cedera yang sering terjadi sehari-hari. Konsep P3K yang diajarkan tentu saja tidak semuanya, hanya dipilih yang sekiranya mudah dilakukan anak-anak, serta disesuaikan dengan aktivitas harian mereka di pondok tersebut.

Selama melakukan proses interaksi, diketahui beberapa kekeliruan terkait penanganan cedera yang telah diyakini anak-anak selama ini. Salah satu contoh misalnya, ketika terjadi luka bakar, mayoritas anak-anak menyebutkan perlu menamburkan area luka dengan pasta gigi; ada yang menyebut kecap; seorang mengusulkan madu; dan bahan lainnya.

Padahal, menurut kakak mahasiswa angkatan M12 dengan peminatan Keperawatan Komunitas itu, sebaiknya hanya disiram dengan air bersih dan suhu normal di area luka bakar. Kalau ada bula (tonjolan kecil akibat terbakar), sebaiknya tidak usah dipecahkan secara sengaja. Kalau lukanya besar dan korban belum tertangani dengan maksimal, maka harus segera ke rumah sakit terdekat. Rasa panas atau nyeri di seputar area luka, hanya didinginkan dengan air bersih dan bersuhu normal saja.

Selain itu, anak-anak juga diajarkan teknik menangani cedera lain, seperti kalau mengalami cedera tumpul saat latihan tinju; teknik menolong orang yang terkilir saat latihan bersepeda atau main futsal; dan teknik menghentikan perdarahan bila melihat kawan yang mengalami luka oleh benda tajam. Semua yang diajarkan tentu saja tindakan awal yang sangat sederhana, anak-anak diingatkan untuk tetap mencari pertolongan pada orang dewasa yang ada di sekitarnya, sehingga bisa  memfasilitasi ke tempat pelayanan kesehatan.

Tidak sekadar bercerita, kegiatan yang menjadi ajang peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) itu juga dilengkapi sesi praktik. Supaya lebih atraktif, mahasiswa bimbingan Ibu Dr. Retno Indarwati S.Kp., M.Kep., itu memfasilitasi dengan beberapa permainan.

Dari total 37 orang yang menempati Kampung Anak Negeri, sore itu hanya 23 anak yang bisa berpartisipasi. Liyannya masih mengikuti kegiatan tambahan di sekolah masing-masing. Anak-anak yang hadir itu dibagi menjadi 6 kelompok, terdiri dari 3 atau 4 orang.

Setelah dibagi, dua kelompok dipertandingkan dalam kompetisi yang terbagi menjadi tiga pos. Pertama, pos praktik P3K. Anak-anak diberi kesempatan untuk mempraktikkan secara langsung apa yang telah diajarkan dan disimulasikan sebelumnya.

Dua kelompok lain diarahkan ke pos 2, tempat bermain memasukkan paku ke dalam botol. Di sana telah siap Try Hartuti, S.Kep.,Ns, Maulin Halimah, S.Kep.,Ns, dan Windarti, S.Kep.,NS, yang memfasilitasi permainannya. Anak-anak yang berjumlah 3 atau 4 orang itu berdiri melingkari sebuah botol bekas minuman. Badan mereka diikat dengan seutas tali, dimana ujungnya yang berada di tengah, berpusat pada sebuah paku. Mereka akan menggerakan tubuh (dilarang keras menggunakan bantuan tangan maupuan kaki) untuk mengarahkan paku yang di tengah itu ke dalam mulut botol. Siapa yang lebih dulu bisa memasukan paku, merekalah pemenanganya.

Di pos 3 ada permainan Pipa Line yang disiapkan oleh Inta Susanti, S.Kep.,Ns, Christina Meo, S.Kep.,Ns dan Fathmy Fitri, S.Kep.,Ns. Anak-anak diminta untuk memindahkan bola plastik kecil secara beregu dengan bantuan kertas karton. Permainan ini juga melarang penggunaan tangan secara langsung menyentuh bola. Pemenangnya ditentukan jumlah bola yang berheasil dipindahkan dari titik awal hingga garis finis.

Selama permainan itu berlangsung, Ni Ketut Putri, S.Kep.,Ns yang bertugas megatur waktu permaian sekaligus sebagai operator musik, terus menyajikan lagu-lagu bernada rancak yang menambah kemeriahan suasana. Bila waktu yang ditentukan berakhir, maka kelompok anak-anak itu berpindah ke pos yang lainnya sampai semuanya mendapat giliran.

Anak-anak, panitia, maupun bapak/ibu pendamping mereka itu bergermbira bersama hingga kegiatannya berakhir. Sebelum bubar, atas pemintaan anak-anak, semua yang hadir ikut goyang Kewer-Kewer yang dipandu oleh seorang anak yang telah sangat fasih menggerakan tubuhnya. Kegiatan yang berakhir pada pukul 17.00 itu diakhiri dengan foto bersama dan tidak lupa membersihkan sampah dengan anak-anak. “Kapan lagi datang ke sini, Kak?” beberapa anak bertanya kepada Kakak-kakak mahasiswa.

Penulis: Saverinus Suhardin (Mahasiswa Magister Keperawatan)

Pin It
Hits 387

Terpopuler