NERS NEWS — Surabaya, 15 November 2025 — Upaya promotif dan preventif terhadap penyakit degeneratif kembali digaungkan oleh mahasiswa Kelompok 2 A1 Angkatan 2023 Program Studi S1 Keperawatan Universitas Airlangga melalui kegiatan Project-Based Learning (PjBL) dengan tema “Healthy Bone, Healthy Life: Wujudkan Generasi Bebas Osteoporosis.” Kegiatan edukatif ini dikemas secara komunikatif dengan pendekatan komunitas untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap risiko osteoporosis yang dapat muncul seiring bertambahnya usia.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung di Balai RW 06 Ngesong, Surabaya, dengan sasaran warga mulai usia dewasa hingga lansia yang rentan mengalami penurunan massa tulang. Antusiasme peserta terlihat sejak registrasi dibuka. Beberapa warga bahkan mengaku belum pernah mengikuti edukasi khusus terkait kesehatan tulang sebelumnya. Hal ini menjadi landasan kuat bahwa sosialisasi mengenai osteoporosis masih perlu diperluas dalam lingkup masyarakat. Turut hadir pula dosen pembina PjBL yaitu Prof. Dr. Tintin Sukartini, S.Kp., M.Kes.
Acara dimulai dengan pembukaan oleh mahasiswa, disusul penyampaian profil program serta tujuan kegiatan. Dilanjutkan dengan screening awal menggunakan pre-test untuk memetakan tingkat pengetahuan warga. Memasuki inti kegiatan, penyuluhan disampaikan dengan media presentasi visual, contoh kasus, serta demonstrasi sederhana mengenai peran kalsium, vitamin D, dan aktivitas fisik dalam menjaga kekuatan tulang. Ketua pelaksana, Citra Umma Choiroh, memberikan pesan penting bagi masyarakat dengan tegas, “Kesehatan tulang hari ini menentukan kualitas hidup kita di masa depan. Dengan membiasakan pola hidup sehat sejak sekarang, kita sedang membangun masa tua yang kuat dan terbebas osteoporosis. Kami berharap masyarakat dapat mengintegrasikan kebiasaan tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari demi mencapai kualitas hidup yang lebih baik.”
Penjelasan tambahan mengenai perbedaan osteoporosis dan osteoarthritis juga diberikan di sela sesi ini, mengingat masih banyak warga yang menganggap keduanya sebagai penyakit yang sama. Materi tambahan ini turut menekankan bahwa osteoporosis merupakan pengeroposan tulang, sedangkan osteoarthritis adalah kerusakan tulang rawan pada sendi, sehingga gejala dan penanganannya berbeda.
Nuansa partisipatif semakin terasa saat warga berdiskusi dan mengajukan pertanyaan. Kegiatan ditutup dengan post-test, penyerahan apresiasi kepada peserta paling aktif, serta dokumentasi bersama seluruh panitia dan warga.
Melalui program ini, mahasiswa berharap masyarakat tidak hanya memahami osteoporosis secara teori, tetapi juga mampu menerapkan perilaku pencegahan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Edukasi kecil dapat menjadi langkah besar menuju masyarakat yang kuat, aktif, dan bebas dari kerapuhan tulang.
Penulis: Aliya Mafaza
Editor: Nandyta Putri Rahmadhani (Airlangga Nursing Journalist)