Prof. Satomi Ogawa Berbagi Pengalaman menjadi Perawat di Daerah Konflik dan Bencana

  • By USINers
  • In Ners News
  • Posted 25 Februari 2020

NERS NEWS - Mahasiswa/i Prodi Magister Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga (FKp-UA) angkatan M-12 mendapat kesempatan istimewa, dikunjungi seorang guru besar keperawatan dari negeri Sakura, Prof. Satomi Ogawa,  pada Senin pagi (24/02/2020) pukul 10.00 WIB. Bertempat di Ruang Florence, profesor dari The Japanese Red Cross Kyushu International College of Nursing itu memberikan kuliah umum dengan tajuk: War and Nursing. Selain memperkenalkan diri, Perawat spesialis daerah konflik dan bencana alam itu juga memperkenalkan nama tempatnya berkarya, khususnya terkait dengan organisasi Red Cross International.

Pada bagian awal kuliahnya, Prof. Satomi Ogawa menjelaskan secara singkat mengenai konsep-konsep umum terkait kondisi perang, bencana alam, dan serangan teroris. Semua peristiwa tersebut menimbulkan jatuhnya korban, baik yang meninggal dunia maupun yang masih bisa diselamatkan. Korban yang masih hidup itulah yang menjadi fokus Red Cross (seperti Palang Merah Indonesia/PMI) dalam memberikan pertolongan.

Sebagai perawat atau tenaga kesehatan pada umumnya, Prof. Satomi Ogawa mengingatkan, bila suatu saat memiliki kesempatan menjadi bagian tim penolong bagi korban perang maupun bencana, pastikan untuk selalu memegang teguh prinsip etik; menjadi penolong yang adil bagi semua orang; dan tidak ada diskriminasi.

Keterampilan yang perlu dimiliki seorang perawat dalam kondisi perang dan bencana, tidak beda jauh dengan kompetensi seroang perawat gawat darurat. Setiap orang diharapkan mampu melakukan triase (memilah pasien sesuai dengan kondisi kegawatannya) dengan tepat. Termasuk untuk merawat luka, menangani patah tulang, bedah minor seperti nekrotomi atau memotong jaringan tubuh yang sudah mati, dan kegiatan perioperatif.

Pada bagian-bagian akhir presentasinya, Prof. Satomi Ogawa lebih banyak menunjukkan foto atau gambar ketika dirinya bergabung dengan tim Red Cross di daerah konflik Pakistan dan Afganistan.

Kondisi rumah sakit darurat yang didirikan Red Cross di daerah konflik seperti itu, tentunya tidak memenuhi standar yang seharusnya. Mulai dari bangunan gedungnya, fasilitas dan peralatan medis tidak semuanya tersedia. Karena itu, Prof. Satomi Ogawa mengingatkan agar perawat mampu berpikir kritis untuk mencari solusi lain dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di tempat tersebut.

Saat foto-foto korban ditunjukkan, mahasiswa yang tampak serius menyimak langsung menjerit pelan. Terlihat ada tungkai yang putus; jari-jari tangan yang hancur; seorang gadis remaja yang kehilangan kakinya; dan masih banyak gambar tragis lainnya. Termasuk anak-anak yang menunjukkan muka murung, menunjukkan bukan hanya terjadi luka fisik, tapi batinnya juga ikut terobek.

Kuliah yang berlangsung kurang lebih 2 jam itu diakhiri dengan sesi diskusi dan foto bersama. Semuanya tampak senang, meski ketika ditanya mengenai tugas perawat di Red Cross, salah seorang mahasiswa berpendapat, “Jadi perawat umum saja tantangannya lumayan banyak. Apalagi menjadi perawat di lokasi perang dan bencana?”

Penulis: Saverinus Suhardin (Mahasiswa Magister Keperawatan)

Pin It
Hits 863

Terpopuler