Pola Diet Untuk Memenuhi Asupan Nutrisi Seimbang Dengan Prinsip Small Frequent Meals (Porsi Kecil Namun Sering) Pada ODHA

2020-10-07 04:32:10


HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah sejenis virus yang menyerang/menginfeksi sel darah putih yang menyebabkan menurunnya kekebalan tubuh manusia, sedangkan AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome disebabkan oleh infeksi HIV dilansir dari Infodatin Kemenkes 2014 (Kemenkes, 2014).

Setiap orang yang telah terinfeksi HIV memiliki kebutuhan khusus terhadap nutrisi baik sebelum menjalani terapi ataupun disaat sedang menjalani terapi. Terapi antiretroviral (ARV) sering dijadikan suatu pilihan bagi seseorang yang terinfeksi HIV, hal tersebut dikarenakan terapi AVR memiliki tujuan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menurunkan angka kematian (Margareth, Hadisaputro and Margawati, 2018).

Asupan makanan yang tidak memadai/adekuat oleh orang dengan HIV/AIDS, akan menyebabkan infeksi karena dapat memperburuk imunosupresi/sistem kekebalan tubuh sehingga terjadi adanya percepatan proses infeksi dan meningkatkan perkembangan penyakit yang akibatnya dapat mempercepat perkembangan HIV menjadi AIDS yang lebih parah bahkan kematian (Anderson et al., 2017). Pemenuhan nutrisi yang tidak adekuat akan menurunkan kekuatan sistem kekebalan tubuh sehingga dapat meningkatkan progresifitas virus dalam tubuh dan mengakibatkan malnutrisi atau gangguan lainnya.

Nah, ini ada salah satu cara untuk memenuhi nutrisi yang adekuat pada ODHA yaitu dengan prinsip Small Frequent Meals (SFM). Apa itu SFM? SFM (Small Frequent Meals) merupakan merupakan pola makan dengan porsi makan kecil namun sering. Beberapa pedoman nutrisi klinis merekomendasikan SFM (misalnya, 6-10 porsi kecil per hari) dalam jangka pendek untuk pasien yang mengalami rasa kenyang dini (Dashti & Mogensen, 2017). Pola makan SFM efektif digunakan pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA) untuk membentuk gaya hidup yang sehat yaitu dengan mempertahankan status gizi yang baik dengan menyediakan zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh serta untuk membangun dan memelihara sistem kekebalan tubuh sehingga memungkinkan tubuh untuk melawan infeksi.

Pola makan SFM memastikan bahwa ODHA menerima nutrisi yang cukup dan seimbang agar mereka makan dalam porsi yang lebih kecil (agar perut bisa menyerap makanan) namun lebih sering di sepanjang hari. ODHA dianjurkan ngemil sepanjang hari untuk memperbanyak asupan makanan. Frekuensi makan dengan cara ngemil yang nyaman dan terus meningkat dapat menyediakan 100–300 kkal per camilan sehingga terbentuk keseimbangan energi positif dan menghalangi penurunan berat badan pada ODHA serta mengobati gejala berbagai penyakit kronis seperti HIV/AIDS.

Keseimbangan energi positif untuk mencegah asupan energi yang tidak diinginkan yang dapat dilakukan dengan menentukan jumlah makanan (mis. 4–6 porsi kecil) dan perkiraan kandungan kalori setiap kali makan (mis. 200-300 kkal per makanan) sehingga dapat membantu mencapai tujuan energi yang diinginkan

Cara lainnya yang dapat dilakukan untuk mencegah pola makan yang tidak tepat pada ODHA dengan mempromosikan pola makan yang sehat berfokus pada berbagai makanan yang kaya biji-bijian, serat, protein, buah dan sayuran utuh serta padat sebagai camilan.

Oleh : Dr. Ninuk Dian K, S.Kep., Ns., MANP, Hairunnisak, Lidia Lestiawati,Nia Meilansari, Indah Choirun Nisa, Melania Natalia Tia Darmiati, Marthalia Oktavianty Dwi Cahyani, Fanda Raka Aridianto, Mellisa Dwi Mustika, Atikah Nuraini, Nofita Dwi Rohmawati dan Nafilah Azmi Yaswar

Sumber Bacaan :

Kemenkes (2014) ‘Infodatin AIDS.pdf’, Situasi dan Analisis HIV AIDS, pp. 1–8. Available at: http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/Infodatin AIDS.pdf.

Anderson, K. et al. (2017) ‘Hubungan Status Gizi Dengan Kualitas Hidup Orang Dengan Hiv/Aids Di Semarang’, Diponegoro Medical Journal (Jurnal Kedokteran Diponegoro), 6(2), pp. 692–704.

Anderson, K., Pramudo, S. G., Achsan, M., & Sofro, U. (2017). Hubungan Status Gizi Dengan Kualitas Hidup Orang Dengan Hiv/Aids Di Semarang. Diponegoro Medical Journal (Jurnal Kedokteran Diponegoro), 6(2), 692–704.

Dashti, H. S., & Mogensen, K. M. (2017). Recommending small, frequent meals in the clinical care of adults: A review of the evidence and important considerations. Nutrition in Clinical Practice, 32(3), 365–377. https://doi.org/10.1177/0884533616662995

Kemenkes. (2014). Infodatin AIDS.pdf. In Situasi dan Analisis HIV AIDS (pp. 1–8). http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/Infodatin AIDS.pdf

Margareth, W., Hadisaputro, S., & Margawati, A. (2018). Hubungan Asupan Seng, Vitamin a, Dan Stadium Klinis Terhadap Status Gizi Dan Jumlah Cd4+ Pada Anak Terinfeksi Hiv Di

Wilayah Kota Dan Kabupaten Semarang. Media Gizi Mikro Indonesia, 10(1), 13–26. https://doi.org/10.22435/mgmi.v10i1.594

Picbougoum, B. T., Kpoda, H. B. N., Berthé, A., Somda, S. M. A., Hien, A., Meda, N., & Testa, J. (2017). Statut nutritionnel et profil alimentaire des adultes vivant avec le VIH suivis à l’hôpital du district de Dô au Burkina Faso. Nutrition Clinique et Metabolisme, 31(3), 188–193. https://doi.org/10.1016/j.nupar.2017.01.002


KIRIM TULISAN
LITERASI HIDUP SEHAT