Pentingnya Dukungan Nutrisi bagi Penderita ODHA

2020-10-08 01:32:19


ODHA merupakan singkatan dari Orang Dengan HIV/AIDS, sebagai pengganti istilah bahwa orang tersebut sudah terinfeksi HIV/AIDS. Di Indonesia sendiri istilah ODHA sudah disepakati bersama sebagai istilah yang mengartikan seseorang tersebut sudah postif HIV/AIDS. sebagian besar ODHA akan mengalami kekurangan vitamin sehingga memerlukan makanan tambahan. Salah satu dampak dari HIV menyebabkan penderita kehilangan nafsu makan dan gangguan penyerapan nutrisi. Hal ini berhubungan dengan menurunnya cadangan vitamin dan mineral dalam tubuh. Sedangkan nutrisi merupakan suatu proses dimana tubuh manusia menggunakan makanan untuk membentuk energi, mempertahankan kesehatan, pertumbuhan dan untuk berlangsungnya fungsi normal setiap organ. Nutrisi untuk ODHA adalah ikatan zat kimia yang dibutuhkan oleh tubuh, khususnya ODHA atau orang yang didiagnosis mengidap HIV AIDS. Yang fungsinya untuk pemenuhan kebutuhan gizi, menghasilkan energi, dan membangun jaringan serta membantu proses kehidupan.

Perlu kita ketahui Sampai saat ini, secara global terdapat 400 anak terinfeksi HIV setiap hari, dan 3,5 persen penularan infeksi HIV terjadi dari ibu ke anak. Di Indonesia jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS tembus angka 500.000 yaitu 511.955. Di Surabaya sendiri kasus HIV tahun 2017 adalah sebanyak 914 jiwa. Sebagian besar anak terinfeksi HIV mengalami malnutrisi disertai dengan keterlambatan perkembangan dan gangguan kejang.

Apa yang terjadi jika ODHA mengalami malnutrisi? kesehatan umum pada ODHA akan cepat menurun dan dapat mempercepat perkembangan penyakit HIV menjadi AIDS. Selain itu, malnutrisi juga dapat menghambat pengobatan. Nutrisi berperan penting dalam mempertahankan sistem imun bagi penderita HIV/AIDS. Nutrisi yang buruk bagi penderita HIV AIDS akan meningkatkan kerentanan dan memperparah penyakit infeksi oportunistik. Infeksi oportunistik sendiri adalah infeksi yang dapat menyerang pada manusia yang memiliki imun yang rendah, karena pada penderita HIV AIDS imun cenderung menurun. Akibat infeksi ini akan menimbulkan kehilangan berat badan dan rusaknya sel bagian pada organ tubuh, tahap akhir dari keadaan malnutrisi ini adalah HIV wasting syndrome dimana penderita akan mengalami 10% penurunan berat badan disertai dengan diare dan demam. Penurunan berat badan yang drastis menjadi salah satu faktor penyebab kematian awal HIV/AIDS yang meningkat dan penurunan waktu harapan hidup.

Nutrisi yang adekuat dapat memperbaiki kondisi kesehatan bagi ODHA. Selain itu, nutrisi yang baik juga dapat membantu tubuh dalam memproses obat-obatan yang dikonsumsi ODHA dan mempertahankan tingkat aktivitas fisik serta meminimalkan penyakit-penyakit yang terkait dengan HIV/AIDS sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup ODHA. Asupan makanan yang cukup juga dapat mencegah terjadinya malnutrisi dan dapat mengembalikan serta mempertahankan berat badan ideal. Nutrisi pada ODHA juga sangat dipengaruhi oleh pola konsumsi. Pola konsumsi yang tidak memenuhi kebutuhan akibat infeksi HIV dapat menyebabkan kekurangan gizi yang lebih parah pada stadium AIDS sehingga lebih rentan terhadap infeksi lainnya.

Zat gizi yang mengandung makronutrient dan mikronutrient menjadi salah satu makanan penting untuk penderita HIV/AIDS. Makronutrient adalah makanan yang mengandung zat gizi protein, lemak, dan karbohidrat sedangkan mikronutrient adalah makanan yang menagndung vitamin dan mineral. Mikronutrien penting untuk kekebalan, pertumbuhan, dan perkembangan kerja otot dan fisik, karena mereka dapat mempercepat banyak proses dalam tubuh dan merupakan komponen penting dari organ tubuh tertentu. Karena peran penting mikronutrien dalam menunjang fungsi tubuh, maka orang yang terinfeksi HIV status mikronutrient yang memadai sangat dibutuhkan. Konsumsi vitamin A dosis tinggi secara berkala terbukti mengurangi morbiditas atau kematian karena diare pada anak yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV. Pemberian vitamin E, 800 mg / hari, ditambah vitamin C, 1 g / hari, dapat mengurangi kelebihan zat radikal bebas dalam tubuh dan beban HIV pada orang dewasa yang terinfeksi HIV.

Akibat asupan zat gizi yang kurang dari kebutuhan penderita HIV yang terinfeksi akan mengalami pemecahan protein yang lebih cepat di dalam tubuhnya. Disini protein dari makronutrient dibutuhkan. Pada pasien HIV simtomatik (HIV tahap 3) dapat dicapai dengan asupan protein antara 1,2-1,8 g/kgBB/hari. Sebuah penelitian dan rujukan lain telah menyebutkan protein juga dapat diberikan sebesar 1–1,4 g/kgBB/hari Rekomendasi pemberian lemak pada pasien HIV tidak berbeda dengan orang sehat pada umumnya. Pada pasien HIV dengan diare, pemberian salah satu produk lemak unggulan yaitu lemak yang tedapat pada minyak kelapa dapat dipertimbangkan untuk memperbaiki penyerapan berlebih lemak, pergerakan usus dan gejala lain pada sistem pencernaan. Minyak ikan yang diberikan bersama dengan minyak kelapa diketahui dapat memperbaiki fungsi imun oleh karena kombinasinya dapat mengurangi peradangan.

Oleh:

Dr. NINUK DIAN K. S.Kep.Ns., MANP, Listia Cahya Amini, Nur Athiyyah Amini, Hani Salsabila Deva, Dea Khoirunnisa, Rahajeng mahardhini, Fitri Millenia, Dina Shifana, Sabrina Fadilah, Mahayu Sarita, Moch. Lukman Hakim

Referensi:

Widayanti, L. P., & Kunci, K. (2020). Evaluasi PMTCT ( Prevention Mother To Child Transmission ) pada IRT dengan HIV di Jatim Evaluation of PMTCT ( PREVENTION MOTHER TO CHILD TRANSMISSION ) Among Housewives with HIV in East Java.

Yuniarti, Y., Purba, M. B. and Pangastuti, R. (2013) ‘Pengaruh konseling gizi dan penambahan makanan terhadap asupan zat gizi dan status gizi pasien HIV/AIDS’, Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 9(3), p. 132. doi:10.22146/ijcn.15446

Dewi, A. (2017) ‘Hubungan Karakteristik Dan Konsumsi Antiretroviral Dengan Status Nutrisi Pada Odha Di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun 2017’, Wahana Inovasi, 6(1), pp. 112–119.

Kevin Anderson, Setyo Gundi Pramudo& Muchlis Ashan (2016). Status Gizi dengan Kualitas Hidup Orang dengan HIV/AIDS di Semarang. Jurnal Kedokteran Universitas Dipenogoro. 6(2), 692-704.

De Pee, S., & Semba, R. D. (2010). Role of nutrition in HIV infection: review of evidence for more effective programming in resource-limited settings. Food and nutrition bulletin, 31(4_suppl4), S313-S344.

Pettalolo, S. R. (2015). EFEK SUPLEMENTASI EKSTRAK IKAN GABUS DAN VITAMIN C TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN, LEKOSIT, LIMFOSIT, ALBUMIN DAN IMT PADA PASIEN HIV/AIDS. GIZI INDONESIA, 38(1), 41-48.

Darastri, L., & Nandang M. (2015) Peran Pendamping Bagi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Jurnal Kesehatan Masyarakat Universitas Padjajaran, vol 2 no 3.


KIRIM TULISAN
LITERASI HIDUP SEHAT