
NERS NEWS— Peran keluarga sebagai pendamping pasien pasca operasi memiliki andil yang sangat krusial dalam menentukan keberhasilan penyembuhan dan pencegahan komplikasi. Berangkat dari urgensi tersebut, mahasiswa Program Pendidikan Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga (FKp UNAIR) Kelompok 2-S2 sukses menyelenggarakan kegiatan Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) bertajuk “Pencegahan Infeksi pada Luka Operasi”.
Kegiatan edukatif ini digelar di Ruang Tunggu ROI Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, pada Jumat, 18 September 2026. Sasaran utama dari penyuluhan ini adalah para keluarga penunggu pasien yang sedang menjalani perawatan.
Luka operasi atau insisi bedah merupakan luka yang dibuat secara sengaja melalui prosedur medis. Kendati dikerjakan dalam kondisi steril, risiko terjadinya infeksi nosokomial seperti Surgical Site Infection (SSI) tetap ada. Berdasarkan data dan panduan klinis, infeksi ini dapat muncul dalam kurun waktu 30 hari pasca tindakan dan berisiko memperpanjang masa rawat inap, meningkatkan biaya perawatan, hingga memicu komplikasi berat seperti sepsis.
Seluruh anggota tim yakni Elya Arundati, Lintang Prameswari, Mohammad Ferdy Arrosyd, Nanda Durroti El Jaudah, Vera Niken Wulandari bersama tim dosen pembimbing akademik Harmayetty, S.Kp., M.Kes., dan pembimbing klinik Yashinta Meyla Rosiana, S.Kep., Ns., menginisiasi penyuluhan ini untuk membekali keluarga pasien dengan pengetahuan praktis di bidang keselamatan pasien (patient safety).
Kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih 45 menit ini dikemas secara menarik menggunakan metode ceramah, diskusi, serta tanya jawab. Guna memudahkan pemahaman peserta yang berasal dari latar belakang beragam, tim penyuluh memperkenalkan sejumlah singkatan praktis yang mudah diingat:
- Tanda-tanda Infeksi (“BENGKAK”): Peserta diajak mengenali tanda klinis seperti (B) Bengkak di sekitar luka, (E) Eritema atau kemerahan, (N) Nyeri bertambah, (G) Getah atau nanah yang keluar, (K) Kulit terasa hangat, (A) Aroma tidak sedap, hingga (K) Kondisi badan demam.
- Faktor Risiko (“SEHAT”): Materi juga menyoroti pentingnya (S) Status gizi, (E) Existing disease atau penyakit penyerta seperti Diabetes Melitus, (H) Hygiene atau kebersihan luka, (A) menghindari aktivitas berlebihan, serta (T) penerapan teknik perawatan yang benar.
- Strategi Pencegahan (“AMAN”): Meliputi (A) atur kebersihan tangan 6 langkah, (M) makanan tinggi protein seperti telur dan ikan agar luka cepat kering, (A) amati kondisi luka secara berkala (A), hingga prinsip (N) No sentuh! atau membuka balutan luka secara sembarangan.
Suasana interaktif terlihat tatkala sesi tanya jawab dibuka. Salah satu peserta, Ny. E, melontarkan pertanyaan kritis mengenai cara pengolahan makanan tinggi protein (seperti telur) agar kandungan gizinya tidak rusak saat dikonsumsi pasien pasca operasi.
Tim penyuluh dengan sigap menjelaskan bahwa sumber protein seperti telur dapat diolah secara sederhana melalui proses pengukusan atau perebusan hingga matang sempurna tanpa menggunakan suhu berlebihan, sehingga kandungan protein esensialnya tetap terjaga optimal untuk mempercepat penutupan jaringan luka.
Meski sempat menemui tantangan berupa dinamika fokus peserta yang bervariasi di tengah suasana IGD yang dinamis, tim penyuluh berhasil mengatasinya dengan menggunakan bahasa yang komunikatif, membagikan media edukasi berupa poster dan leaflet interaktif, serta melibatkan audiens secara langsung.
Berdasarkan evaluasi struktur, proses, hingga hasil pasca kegiatan, seluruh rangkaian acara berjalan lancar sesuai dengan Satuan Acara Penyuluhan (SAP) yang telah dirancang. Para peserta terbukti mampu memahami materi dasar, mengenali tanda infeksi dini, serta berkomitmen menerapkan langkah-langkah pencegahan secara mandiri di rumah.
Melalui kegiatan PKRS ini, diharapkan angka kejadian infeksi luka operasi dapat ditekan secara signifikan, sekaligus meningkatkan kualitas hidup serta kemandirian keluarga dalam merawat pasien secara komprehensif di RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Penulis: Kelompok 2 S2 Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga tahun 2026.




