
NERS NEWS — SURABAYA – Perkembangan pelayanan kanker menuntut perawat tidak hanya mampu memberikan asuhan keperawatan yang aman dan berkualitas, tetapi juga mampu membaca masalah klinis, memanfaatkan bukti ilmiah, dan mengembangkan inovasi yang menjawab kebutuhan nyata pasien. Perubahan kebutuhan pasien, perkembangan teknologi kesehatan, serta semakin kompleksnya perjalanan perawatan kanker menjadikan kemampuan berinovasi sebagai salah satu kompetensi penting bagi perawat spesialis.
Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Spesialis Keperawatan Medikal Bedah (Sp.KMB), Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga (FKp Unair) menyelenggarakan kuliah tamu bertema “Inovasi dalam Keperawatan Onkologi” pada Rabu, 30 September 2026. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting ini menghadirkan Ns. Endah Panca Lydia Fatma, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.MB. dari Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya sebagai narasumber dan diikuti mahasiswa Sp.KMB semester 1 dan semester 3 atau Angkatan 7 dan 8.
“Inovasi bukan sekadar teknologi. Inovasi adalah solusi berbasis evidence untuk masalah klinis nyata.”
Inovasi Berawal dari Masalah Nyata Pasien
Salah satu pesan penting dalam kuliah tamu tersebut adalah bahwa inovasi keperawatan tidak harus selalu dimulai dari teknologi yang kompleks. Inovasi justru dapat berawal dari kemampuan perawat mengidentifikasi persoalan yang dijumpai dalam praktik sehari-hari, kemudian mencari solusi berdasarkan bukti ilmiah.
Dalam paparannya, narasumber menjelaskan bahwa proses tersebut dapat dimulai dengan mengamati fenomena klinis melalui pengalaman perawat, keluhan pasien dan keluarga, rekam medis, hasil audit maupun hasil penelitian. Kondisi aktual kemudian dibandingkan dengan kondisi ideal untuk menemukan kesenjangan, dilanjutkan dengan pengumpulan data, analisis penyebab, penentuan prioritas masalah, hingga penyusunan pertanyaan klinis menggunakan pendekatan PICOT.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa evidence-based nursing tidak berhenti pada penggunaan hasil penelitian, tetapi dapat menjadi titik awal lahirnya perubahan dalam pelayanan. Inovasi yang dikembangkan perlu relevan dengan kebutuhan pasien, dapat diterapkan dalam praktik, dan pada akhirnya memberikan dampak terhadap kualitas pelayanan serta hasil asuhan keperawatan.


Suasana kuliah tamu secara daring yang diikuti mahasiswa Sp.KMB FKp Unair Angkatan 7 dan 8. (Dokumentasi Prodi Sp.KMB FKp Unair)
Teknologi Membuka Ruang Baru dalam Keperawatan Onkologi
Perkembangan teknologi digital turut membuka peluang besar bagi inovasi keperawatan onkologi. Materi kuliah tamu memperkenalkan beberapa perkembangan yang telah diteliti dalam pelayanan kanker, antara lain eHealth, patient navigation, dan remote patient monitoring. Pendekatan digital bahkan dapat dikembangkan untuk menghubungkan patient-reported outcomes dengan pengelolaan gejala pasien.
Pemanfaatan teknologi tersebut menjadi semakin relevan karena perjalanan pasien kanker tidak hanya berlangsung ketika pasien berada di rumah sakit. Pasien juga membutuhkan pemantauan gejala, edukasi, dukungan pengambilan keputusan, dan kesinambungan perawatan setelah kembali ke rumah. Karena itu, inovasi keperawatan berpotensi menjembatani pelayanan rumah sakit dengan kebutuhan pasien dan keluarga di komunitas.
Namun, teknologi bukan satu-satunya bentuk inovasi. Pembahasan juga diarahkan pada pelayanan paliatif dan perawatan luka pada pasien onkologi. Pelayanan paliatif menekankan kenyamanan pasien dan dukungan kepada keluarga, sedangkan perawatan luka mencakup berbagai kondisi, termasuk luka akibat kanker, luka pascaoperasi, serta luka tekan.
Materi juga memperkenalkan berbagai pendekatan yang dapat mendukung pengkajian dan pelayanan pasien, seperti Pressure Ulcer Scale in Oncology (PUSO) untuk risiko luka tekan pada pasien onkologi, instrumen pengkajian kebutuhan perawatan paliatif, serta Edmonton Symptom Assessment System (ESAS) untuk membantu menilai berbagai gejala yang dialami pasien.
Perawat Spesialis sebagai Penggerak Perubahan
Kuliah tamu ini sekaligus menegaskan posisi strategis perawat Spesialis Keperawatan Medikal Bedah dalam pengembangan pelayanan kesehatan. Pendidikan spesialis tidak semata-mata diarahkan untuk menghasilkan tenaga dengan kemampuan klinis yang lebih mendalam, tetapi juga profesional yang mampu menjalankan peran sebagai peneliti, advanced clinician, pendidik klinik, clinical leader/case manager, serta pengelola pelayanan berbasis bukti.
Bagi mahasiswa Sp.KMB FKp Unair, kemampuan tersebut menjadi penting karena inovasi pelayanan tidak dapat dilepaskan dari clinical reasoning dan kemampuan menerjemahkan bukti ilmiah ke dalam praktik. Perawat spesialis berada pada posisi yang dekat dengan pasien sekaligus memiliki kapasitas akademik untuk mengidentifikasi masalah, mengevaluasi bukti, mengembangkan intervensi, dan menilai dampak perubahan yang dilakukan.
“Perawat masa depan bukan hanya menjalankan praktik, tetapi juga menciptakan perubahan. Dengan evidence, clinical reasoning, dan keberanian berinovasi, perawat Sp.KMB dapat menjadi penggerak peningkatan kualitas pelayanan dan hasil asuhan keperawatan.”
Memperkuat Pembelajaran Berbasis Evidence dan praktik Klinis
Kegiatan dibuka oleh Ns. Rima Ambarwati, mahasiswa Sp.KMB Angkatan 8, kemudian dilanjutkan dengan sambutan Wakil Dekan I FKp Unair Dr. Sriyono, M.Kep., Ns.Sp.Kep.MB. Sesi kuliah dimoderatori oleh Ns. Tri Sakti Wirotomo, mahasiswa Sp.KMB Angkatan 8, dan ditutup oleh Koordinator Program Studi Sp.KMB Dr. Abu Bakar, M.Kep., Ns.Sp.Kep.M.B.
Kuliah tamu ini menjadi bagian dari penguatan pembelajaran pada mata ajar Keperawatan Medik, Keperawatan Bedah, Praktik Klinik Medik, dan Praktik Klinik Bedah. Kehadiran praktisi dan akademisi dari luar Universitas Airlangga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperluas perspektif mengenai perkembangan pelayanan sekaligus menghubungkan teori, hasil penelitian, dan realitas praktik klinis.
Melalui kegiatan tersebut, Program Studi Spesialis Keperawatan Medikal Bedah FKp Unair terus mendorong terciptanya atmosfer akademik yang mengintegrasikan evidence-based practice, inovasi, clinical reasoning, dan kebutuhan nyata pasien. Harapannya, lulusan tidak hanya menjadi pengguna pengetahuan, tetapi juga mampu menghasilkan gagasan dan inovasi yang memberikan kontribusi nyata bagi transformasi pelayanan keperawatan.
Penulis: Tim Program Studi Spesialis Keperawatan Medikal Bedah, Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga




