Obesitas pada Remaja di Era saat ini

NERS NEWS – Remaja merupakan kelompok usia yang sangat sensitif terhadap masalah gizi karena remaja mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat dibandingkan dengan kelompok usia sebelumnya (Ida Niara et al., 2022). Persepsi pertumbuhan mempengaruhi komposisi tubuh, tingkat aktivitas fisik, berat badan, dan pertumbuhan massa tulang (Amrynia & Prameswari, 2022). Masalah gizi di kalangan remaja 15-19 tahun banyak yang mengalami gizi lebih yaitu obesitas. Masalah obesitas merupakan masalah global bahkan World Health Organization (WHO) telah menyatakannya sebagai epidemi global (Mutia et al., 2022). Obesitas terjadi ketika asupan energi secara signifikan melebihi pengeluaran energi dalam jangka waktu yang lama, yang ditunjukkan dengan peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT). Prevalensi di Indonesia 13,5% usia 18 tahun keatas mengalami overweight, sementara itu 28,7% mengalami obesitas (IMT ≥ 25) (Kementerian Kesehatan RI, 2018).

Faktor penyebab obesitas antara lain faktor genetik, fisiologis, lingkungan, dan sosial ekonomi, termasuk jenis kelamin, kemakmuran keluarga, dan tingkat pendidikan (Hamulka et al., 2018). Faktor lingkungan yaitu terjadinya perubahan gaya hidup, frekuensi konsumsi fast food yang sering, lebih banyak penggunaan ponsel dan televisi, lebih banyak gaya hidup menetap, dan penurunan aktivitas fisik mungkin berisiko menjadi faktor penyebab obesitas pada remaja (Seema S, Rohilla KK, Kalyani VC, 2021).

Dampak obesitas yang dapat terjadi yaitu mengalami kesulitan bernapas, peningkatan risiko patah tulang, hipertensi, penanda awal penyakit kardiovaskular, resistensi insulin dan masalah psikologis (Sugitami. et al., 2019). Masalah psikologis seperti kecemasan, depresi, kurang percaya diri, peningkatan emosional, dan masalah terkait intimidasi dan isolasi sosial sehingga mempengaruhi kualitas hidup pada remaja (Likhit Weerawong et al., 2021). Remaja bertubuh besar sering diperlakukan tidak baik, atau dikenal fenomena fatphobia, sizeism, atau diskriminasi terhadap ukuran. Hal ini tidak dapat dibiarkan karena termasuk body shaming dan berdampak negatif pada kualitas hidup seseorang. Pada beberapa kasus, pengidap obesitas rentan mengalami anoreksia dan bulimia, gangguan pola makan yang membuat pengidapnya kehilangan nafsu makan demi bertubuh kurus (Nugroho, 2020). Oleh karena itu diperlukan penatalaksanaan yang tepat pada remaja obesitas.

Beberapa upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi angka obesitas yaitu melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dan Gerakan Nusantara Tekan Angka Obesitas (Gentas) (Kementerian Kesehatan RI, 2017). Sejauh ini, intervensi untuk pencegahan kegemukan atau obesitas berfokus pada perubahan perilaku pada individu tersebut seperti meningkatkan latihan fisik sehari-hari atau meningkatkan kualitas diet dengan membatasi asupan kalori berlebih (Kansra et al., 2021).

Daftar Pustaka:

Amrynia, S. U., & Prameswari, G. N. (2022). Hubungan Pola Makan, Gaya Hidup Sedentary, dan Durasi Tidur dengan Kejadian Gizi Lebih Pada Remaja (Studi Kasus di SMA Negeri 1 Demak). Jurnal Kesehatan dan Gizi Masyarakat Indonesia, 2(1), 112-121.

Hamulka, J., Wadolowska, L., Hoffmann, M., Kowalkowska, J., & Gutkowska, K. (2018). Pengaruh program edukasi terhadap pengetahuan gizi, sikap terhadap gizi, kualitas diet, gaya hidup, dan komposisi tubuh pada remaja Polandia. Proyek ABC makan sehat: Desain, protokol, dan metodologi. Nutrisi, 10(10). https://doi.org/10.3390/nu10101439

Ida Niara, S., Pertiwi Program Studi Kesehatan Masyarakat, Y., Ilmu Kesehatan, F., & Pembangunan Nasional Veteran Jakarta Abstrak, U. (2022). Pencegahan Obesitas pada Remaja Melalui Intervensi Promosi Kesehatan: Studi Literatur Pencegahan Obesitas pada Remaja Melalui Intervensi Promosi Kesehatan: Studi Literatur. Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat, 14, 2022.

Kansra, A. R., Lakkunarajah, S., & Jay, M. S. (2021). Obesitas pada Anak dan Remaja: Sebuah Tinjauan. Frontiers in Pediatrics, 8(Januari), 1-16. https://doi.org/10.3389/fped.2020.581461

Kementerian Kesehatan RI. (2018). Epidemi Obesitas. Dalam Jurnal Kesehatan (pp. 1-8). http://www.p2ptm.kemkes.go.id/dokumen-ptm/factsheet-obesitas-kit-informasi-obesitas

Kementrian Kesehatan RI. (2017). Penduan Pelaksanaan Gerakan Nusantara Tekan Angka Obesitas (GENTAS). Direktorat Jendral Pencegakan dan Pengendalian Penyakit.

Likhitweerawong, N., Boonchooduang, N., Kittisakmontri, K., Chonchaiya, W., & Louthrenoo, O. (2021). Efektivitas aplikasi seluler dalam mengubah berat badan, kebiasaan makan sehat, dan kualitas hidup pada anak-anak dan remaja dengan obesitas: uji coba terkontrol secara acak. BMC Pediatrics, 21(1), 1-9. https://doi.org/10.1186/s12887-021-02980-x

Mutia, A., Jumiyati, J., & Kusdalinah, K. (2022). Pola Makan Dan Aktivitas Fisik Terhadap Kejadian Obesitas Remaja Pada Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Gizi Perguruan Tinggi, 11(1), 26-34. https://doi.org/10.14710/jnc.v11i1.32070

Nugroho, P. S. (2020). Analisis Risiko Kegemukan pada Remaja dan Dewasa Muda Analisis Faktor Risiko Kegemukan pada Remaja dan Dewasa Muda Analisis Faktor Risiko Kegemukan pada Remaja dan Dewasa Muda Universitas Muhammadiyah, Kalimantan Timur, Indonesia sedang mengalami permasalahan ganda permasalahan penyakit menular ya. Jurnal Dunia Kesmas, 9(4), 537-544.

Seema S, Rohilla KK, Kalyani VC, B. P. (2021). Cakupan kesehatan universal – Ada lebih dari yang terlihat. Jurnal Kedokteran Keluarga dan Perawatan Primer, 10(5), 1890-1894. https://doi.org/10.4103/jfmpc.jfmpc_1524_20

Sugitami, Rayhana, Suryaalamsah, I., Rahmini, Akbar, Z, A., Harisatunnasyitoh, Z., Azyah, D, I., Yuliarti, N, A, T., Annisa, S, N., Anandita, K., & Naufal, F, R. (2019). Peningkatan pengetahuan tentang kegemukan dan obesitas pada pengasuh pondok pesantren igbs darul marhamah desa jatisari kecamatan cileungsi kabupaten bogor jawa barat. Pengabdian Masyarakat, 1(September), 1-5. https://jurnal.umj.ac.id/index.php/semnaskat/article/viewFile/5434/3644

Penulis: Novika Reza Ajeng Issa Putri, S.Kep., Ns
Editor: Salwa Az Zahra(Jurnalis Keperawatan Airlangga)