Gambar: Perawat sedang melakukan posisi tengkurap pada pasien ARDS di ICU (sumber: shutterstock.com)
Selama pandemi COVID-19, masyarakat kerap mendengar tentang pasien kritis yang “ditengkurapkan” di ruang ICU. Prosedur ini disebut prone positioning, sebuah teknik merawat pasien dengan gangguan pernapasan berat seperti Acute-Respiratory-Distress-Syndrome (ARDS). Meski terbukti meningkatkan kadar oksigen dan peluang hidup, praktik ini ternyata tidak selalu mudah dilakukan di lapangan.
Penelitian tim perawat yang diketuai oleh Dr Sriyono mengungkap sisi lain dari prosedur yang sering dianggap sederhana ini. Dalam studi kualitatif yang melibatkan 15 perawat ICU berpengalaman, para peneliti menggali apa yang mendorong dan menghambat tenaga kesehatan ketika menempatkan pasien kritis dalam posisi tengkurap. Hasil penelitian memberikan gambaran unik tentang tantangan di balik layar—tantangan yang jarang diketahui publik, tetapi sangat menentukan keselamatan pasien.
Manfaat Besar yang Dikenal Para Perawat
Sebagian besar perawat dalam penelitian ini mengakui bahwa prone positioning memberikan perubahan signifikan pada pasien ARDS. Banyak yang melihat sendiri bagaimana kadar oksigen pasien melonjak, napas membaik, dan kondisi menjadi lebih stabil setelah ditempatkan dengan posisi tengkurap.
Dalam wawancara, para perawat menyebutkan tiga hal utama yang membuat mereka yakin dan bersedia melakukan prosedur ini:
- Tersedianya alat bantu khusus
Alat-alat yang dirancang untuk menopang kepala, dada, dan perut pasien membuat proses membalikkan tubuh lebih aman, baik untuk pasien mahupun perawat. Perawat merasa lebih percaya diri dan risiko cedera pasien pun lebih rendah.
- Pemahaman tentang manfaat klinis
Ketika perawat memahami bukti ilmiah—bahawa posisi tengkurap dapat meningkatkan saturasi oksigen dan mengurangi risiko kematian—mereka lebih termotivasi menjalankannya.
- Perencanaan untuk mencegah komplikasi
Sebelum prosedur dimulai, tim biasanya menyusun rencana mitigasi risiko: menjaga kulit pasien agar tidak luka tekan, memastikan selang ventilator aman, dan menyiapkan tenaga ahli bila terjadi situasi darurat.
Tantangan Berat yang Sering Tidak Terlihat
Walaupun bermanfaat, prone positioning bukan sekadar “membalikkan pasien”. Penelitian ini menemukan tiga hambatan besar yang dirasakan para perawat:
- Manuver yang sangat berat
Pasien ICU biasanya terhubung dengan alat ventilator dan infus. Membalik tubuh pasien yang kadang beratnya lebih dari 100 kg merupakan tantangan fisik besar. Banyak perawat mengalami sakit punggung selepasnya.
- Membutuhkan banyak tenaga
Prosedur ini tidak boleh dilakukan sendirian. Minimal diperlukan beberapa perawat, seorang dokter anestesi, dan tenaga pendukung lain. Ketika ICU sedang sibuk, proses ini sering tertunda atau bahkan dibatalkan.
- Pasien yang gelisah atau agitasi
Pasien yang masih sadar atau kurang sedasi mudah gelisah, sehingga risiko selang pernapasan terlepas sangat tinggi. Situasi ini hanya boleh ditangani oleh tenaga terlatih seperti dokter anestesi, sehingga prosedur harus sangat terkoordinasi.
Mengapa Temuan Ini Penting bagi Masyarakat?
Penelitian ini menunjukkan bahawa perawat tidak sekadar memberikan perawatan rutin—mereka melakukan pekerjaan fisik dan mental yang kompleks untuk menjaga nyawa pasien kritis. Temuan ini juga menegaskan perlunya:
- alat bantu yang memadai,
- jumlah tenaga kesehatan yang cukup,
- panduan resmi yang melibatkan suara perawat,
- pelatihan berkelanjutan agar prosedur lebih aman.
Dengan dukungan sistem yang baik, prone positioning dapat menjadi intervensi yang lebih aman dan efektif, bukan hanya pada masa pandemi, tetapi juga pada perawatan ICU sehari-hari.
Penelitian ini membuka mata tentang pentingnya memperkuat fasilitas dan sumber daya manusia di ruang intensif, agar setiap pasien ARDS dapat memperoleh peluang terbaik untuk bertahan hidup.
Penulis : Dr. Sriyono, S.Kep., Ns., M.Kep.Ns.Sp.Kep.MB
Link penelitian : https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/23779608251371102




