INFORMASI TEST ELPT (CLICK HERE) RUMAH SINGGAH “AL-HIDAYAH” bagi Penyandang Disabilitas Psikososial

RUMAH SINGGAH “AL-HIDAYAH” bagi Penyandang Disabilitas Psikososial

  • By Adelya Putri
  • In Ners News
  • Posted 09 Oktober 2021

NERS NEWS - Yayasan ini bernama YAYASAN PENDIDIKAN DAN SOSIAL DARUL IHSAN berkedudukan di Dusun di Ketidur Gg 2 Rt. 003 Rw. 001, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. Yayasan ini dapat membuka kantor cabang atau perwakilan di tempat lain, di dalam maupun di luar Wilayah Republik Indonesa berdasarkan keputusan pengurus dengan persetujuan Pembina. Berdirinya Yayasan Darul Ihsan sudah ditetapkan oleh badan hukum pada tanggal 13 Maret 2019 dengan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia nomor AHU-0005184.AH.01.12. tentang pengesahan pendirian badan hukum Yayasan Pendidikan dan Sosial Darul Ihsan.

Yayasan ini mempunyai maksud dan tujuan dibidang sosial, kemanusiaan, dan keagamaan. Saat ini mengelola kegiatan taman pendidikan Al-Qur’an (TPQ) "Sabilul Muttaqien", Madrasah Diniyah "Sabilul Muttaqien", Jamaah Istighosah, dan Rumah Singgah "Al-Hidayah" bagi penyandang disabilitas psikososial, termasuk pasien gangguan jiwa.

Taman Pendidikan Al-Quran "Sabilul Muttaqien"

TPQ Sabilul Muttaqien menyelenggarakan pendidikan dasar Al-Quran bagi bagi generasi muda (anak umur 6 sampai dengan 12 tahun untuk masyarakat sekitar Dusun Ketidur gang 1, 2, 3, 4 dan gang 5, dibagi kelas sesuai jilid kemampuan peserta didik. Saat ini jumlah peserta didik sekitar 100 anak. Kegiatan ini dilaksanakan setelah solat ashar hingga menjelang maghrib.

Madrasah Diniyah Sabilul Muttaqien

Menyelenggarakan pendidikan agama / kitab pada generasi muda umur 12 sd 17 tahun dari warga sekita. Kegiatan ini dilaksanakan di gedung TPQ dan beberapa rumah pengasuh pada saat setelah solat maghrin hinga isya. Selain itu juga diajarkan beberapa kesenian Islam, seni baca sholawat, dan hadrah.

Jamaah Istigosah

Jamaah rutin istighosah dilaksanakan rutin setiap kamis malam jumat, dilaksanakan di Musholla Sabilul Muttaqien. Sebagian santri pada hari senin malam Selasa menyelenggarakan istighosah rutin di Pondok Pesantren Ngalah, Sengon Agung Pasuruan (sebagai induk Guru dari santri Yayasan Darul Ihsan), pada hari Ahad Subuh dilaksanakan di Carat, dan beberapa kegiatan sesuai kebutuhan.

Rumah Singgah Al-Hidayah diperuntukkan bagi Penyandang Disabilitas Psikososial, atau bagi mereka yang mengalami gangguan jiwa setelah pulang dari rumah sakit jiwa. Cita-cita utama, rumah singgah diciptakan sebagai Sheltered Workshop (bengkel kerja terlindung) bagi pasien gangguan jiwa pasca hospitalisasi. Rumah singgah memiliki caregiver Perawat dan Guru ngaji TPQ dan Diniyah untuk memberikan pelayanan kesehatan jiwa. Pelayanan menekankan pada tiga aspek seperti: kognitif, behaviour, dan spiritual.

Pada aspek kognitif klien diberikan pendidikan melalui pengajian setiap harinya setelah maghrib. Pada pengajian ini klien diberikan ilmu dari kitab yang berisi pelajaran kehidupan, sehingga diharapkan klien mampu berpikir sisi positif kehidupan manusia kemudian menerapkannya sehari-hari. Pada aspek behaviour klien diizinkan untuk menjalin interaksi sosial dengan masyarakat sekitar rumah singgah.

Caregiver Rumah Singgah Al Hidayah tidak membatasi aktivitas klien gangguan jiwa di luar rumah singgah, seperti berjamaah sholat di masjid dan melakukan transaksi jual beli dengan toko-toko sekitarnya. Sedangkan pada aspek spiritual, caregiver rumah singgah mengajak klien untuk mengenal Tuhan dan nilai-nilai keagamaan melalui kegiatan seperti sholat fardhu berjamaah, pengajian setiap minggu yang disertai pembacaan dzikir, dan doa bersama.

Klien gangguan jiwa datang ke rumah singgah sesudah melakukan pengobatan atau rawat inap di rumah sakit jiwa, sehingga selama di rumah singgah klien tetap mendapatkan terapi farmakologi dan non farmakologi. Caregiver rumah singgah memberikan pendampingan ADL (Activity Day Living), seperti makan, kebersihan diri, kebersihan lingkungan rumah, serta pemenuhan kebutuhan spiritual.

Selama klien gangguan jiwa dirawat rumah singgah, caregiver juga memberikan hak kepada pasien gangguan jiwa untuk memenuhi kebutuhan makannya secara mandiri. Klien gangguan jiwa diijinkan untuk mengambil makanan sesuai dengan keinginannya, untuk menambah porsi makan juga diperbolehkan. Klien juga diperkenankan untuk memasak makanan atau sekadar membuat minuman sederhana (seperti es teh, es jeruk, dan lain-lain) sesuai keinginannya. Namun dalam pelaksanaannya, caregiver tetap mendampingi dan mengingatkan untuk tetap menjaga kebersihan, baik secara verbal maupun tulisan. Pada saat tertentu, pasien mina diajak sekedar refreshing ke Pacet, Trawas atau alon-alon untuk membuang kebosanan mereka selama tinggal di rumah singgah.

 

Informasi detail dapat dilihat pada http://eprints.ners.unair.ac.id/id/eprint/1390

Pin It
Hits 369