INFORMASI TEST ELPT (CLICK HERE) Kuliah Tamu FKp UNAIR Ulas EBP dalam Keperawatan

Kuliah Tamu FKp UNAIR Ulas EBP dalam Keperawatan

  • By Adelya Putri
  • In Ners News
  • Posted 19 November 2021

NERS NEWS - Penggunaan Evidence Based Practice (EBP) untuk praktik klinik keperawatan sangat membantu perawat dalam memberikan perawatan pasien dengan kualitas tinggi dan efisien. Sehingga asuhan berbasis pendekatan EBP mampu meningkatkan keselamatan pasien serta meningkatkan outcome asuhan keperawatan.

Berdasarkan hal tersebut, penting bagi mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga (FKp UNAIR) untuk menggali pengetahuan lebih dalam mengenai EBP dalam praktik keperawatan. Oleh karenanya FKp memfasilitasi mahasiswa dengan mengadakan kuliah tamu bertajuk “Evidence Based Practice in Nursing – An Introduction” pada Selasa pagi (16/10/2021) yang disampaikan oleh Gading Ekapuja Aurizki, S.Kep., Ns., M.Sc.

Kegiatan tersebut merupakan bentuk implementasi FKp UNAIR dalam program Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya pada bidang Pendidikan Berkualitas (Quality Education).

Gading -panggilan akrabnya- menyampaikan bahwa EBP dalam keperawatan merupakan pendekatan pemecahan masalah untuk pengambilan keputusan klinis yang menggabungkan serta mencari bukti terbaik dan terbaru, keahlian dan penilaian klinis, dan nilai preferensi pasien dalam konteks caring.

“Florence Nightingale (1820-1910) sebagai Perintis EBP. Istilah EBP tidak diketahui saat itu, tetapi Nightingale menggunakan bukti dari eksperimen dan pemeriksaan kritisnya yang secara positif mempengaruhi hasil pasien,” tutur pria alumni program master di The University of Manchester, United Kingdom itu.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa EBP harus membantu perawat untuk mengembangkan otonomi dan otoritas. Pasalnya ada beberapa resistensi dalam profesi keperawatan seperti tidak mendukung pendekatan kualitatif dengan berdasar piramida, bekerja melawan otonomi dan otoritas, serta ilmu positivis yang mengurangi fenomena kepedulian.

“Jika perawat tidak terlibat, profesi lain akan memimpin EBP dalam Keperawatan. Perawat terpinggirkan, kehilangan otonomi dan otoritas,” tandasnya yang juga sebagai Independen Konsultan, Kemenkes RI periode Juli-Oktober 2021.

Kemudian dalam penjelasannya, Gading menuturkan ada tujuh langkah dalam melaksanakan EBP:

• Langkah 0: Kembangkan semangat penyelidikan dan budaya serta lingkungan EBP.
• Langkah 1: Ajukan pertanyaan klinis di PICOT (Population, Intervention, Comparison, Outcome, and, if appropriate, Time) format.
• Langkah 2: Cari bukti terbaik.
• Langkah 3: Secara kritis menilai bukti dan merekomendasikan perubahan praktik.
• Langkah 4: Integrasikan bukti dengan keahlian klinis serta preferensi dan nilai pasien/keluarga.
• Langkah 5: Evaluasi hasil dari keputusan praktik atau perubahan berdasarkan bukti.
• Langkah 6: Sosialisasikan hasil perubahan EBP.

Semua langkah tersebut harus dilakukan dengan benar dan runtut. Sehingga dapat mempublikasikan perubahan EBP yang kredibel dan valid.

“Jika Anda tidak dapat menemukan bukti terbaik di mana-mana, mungkin Anda ditakdirkan untuk jadilah yang pertama mempelajarinya,” ungkapnya dengan tersenyum.

Kuliah tamu yang dihadiri oleh seluruh angkatan serta sejumlah dosen itu diikuti dengan sangat antusias terbukti banyak mahasiswa yang aktif bertanya pada sesi diskusi tanya jawab, acara pun diakhiri dengan doa penutup dan sesi foto bersama.

 

Penulis: Adelya Salsabila Putri

 

Pin It
Hits 199