
NERS NEWS — Mahasiswa Praktik Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Angkatan B27 memberikan edukasi kesehatan mengenai Speech Delay pada Anak, yang dilaksanakan pada hari Selasa, 14 Juli 2026 pukul 08.30 WIB bertempat di Poli Anak Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga pasien mengenai speech delay sehingga mampu mengenali tanda-tanda keterlambatan bicara, memahami faktor penyebab, serta mengetahui cara melakukan stimulasi dan deteksi dini agar anak memperoleh penanganan yang tepat sejak awal.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari praktik klinik mahasiswa Profesi Ners di RSUA. Penyuluhan diawali dengan pembukaan dan perkenalan mahasiswa sebagai pemateri, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi mengenai pengertian speech delay, tahapan perkembangan bicara dan bahasa sesuai usia, faktor-faktor penyebab, tanda dan gejala, dampak apabila tidak ditangani, serta cara melakukan stimulasi bicara di rumah. Materi juga membahas pentingnya membatasi screen time, membangun komunikasi dua arah dengan anak, membacakan buku cerita, serta mengajak anak berinteraksi secara aktif dalam kegiatan sehari-hari. Selain itu, peserta diberikan informasi mengenai pentingnya skrining perkembangan, pemeriksaan pendengaran, terapi wicara, dan penanganan multidisiplin apabila anak dicurigai mengalami speech delay.

Selama proses penyuluhan berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme yang baik dengan memperhatikan materi yang disampaikan serta berpartisipasi aktif dalam sesi tanya jawab. Beberapa peserta mengajukan pertanyaan mengenai usia yang tepat untuk mulai khawatir terhadap keterlambatan bicara, pengaruh penggunaan gadget terhadap perkembangan bahasa anak, serta langkah yang harus dilakukan apabila anak belum mencapai tahapan perkembangan bicara sesuai usianya.
Kegiatan penyuluhan berlangsung dengan tertib, lancar, dan kondusif, serta diakhiri dengan evaluasi singkat melalui pertanyaan lisan dan sesi dokumentasi bersama. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sebagian besar peserta mampu menjelaskan pengertian speech delay, mengenali tanda-tanda keterlambatan bicara, memahami faktor risiko, serta menyebutkan beberapa cara memberikan stimulasi bahasa di rumah. Hal ini menunjukkan bahwa penyuluhan yang diberikan dapat diterima dengan baik dan memberikan manfaat dalam meningkatkan pengetahuan peserta.

Melalui kegiatan ini diharapkan orang tua dan keluarga pasien semakin sadar akan pentingnya memantau perkembangan bicara dan bahasa anak sesuai usianya, memberikan stimulasi yang optimal di rumah, serta segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila ditemukan tanda-tanda speech delay. Dengan deteksi dan intervensi sejak dini, diharapkan tumbuh kembang anak dapat berlangsung secara optimal dan risiko gangguan perkembangan jangka panjang dapat diminimalkan.
Penulis: Ananda Putri Pratiwi





