Project-Based Learning (PjBL) Kelompok 01 Kelas A4 Angkatan 2024: “PRISMA” (Pendidikan Literasi Seputar Menstruasi dan Kesehatan Psikososial Remaja) dalam Meningkatkan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi bagi Siswi SMP Negeri 15 Surabaya Tahun 2025

NERS NEWS — Suasana pagi Kota Surabaya yang diguyur hujan tidak mengurangi semangat mahasiswa S1 Keperawatan Universitas Airlangga Kelompok 1 Kelas A4 dalam melaksanakan kegiatan Project Based Learning (PjBL) “PRISMA: Pendidikan Literasi Seputar Menstruasi dan Kesehatan Psikososial Remaja”. Kegiatan yang dilaksanakan di SMP Negeri 15 Surabaya ini menjadi salah satu bentuk upaya edukasi kesehatan kepada remaja untuk meningkatkan pemahaman mengenai menstruasi, kesehatan reproduksi, serta pentingnya menjaga kebersihan organ reproduksi sejak dini.

Kegiatan ini diikuti oleh 35 remaja perempuan kelas 8 SMP Negeri 15 Surabaya. Kegiatan dimulai pada pukul 07.30 WIB dengan persiapan oleh seluruh panitia untuk memastikan setiap rangkaian acara dapat berjalan dengan baik. Setelah itu, peserta mulai melakukan registrasi pada pukul 08.30 WIB. Acara kemudian dibuka oleh MC pada pukul 09.00 WIB dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Suasana kegiatan semakin terasa hangat dengan adanya sambutan dari ketua pelaksana Naura Azalia Hidayah, perwakilan pihak sekolah yaitu Wakil Kepala Kurikulum SMP Negeri 15 Surabaya, Ibu Setyo Rini Dwi Astuti, S.Pd., M.Pd., serta dosen pembimbing Prof. Dr. Esti Yunitasari, S.Kp., M.Kes. yang turut memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan ini. Kegiatan ini juga dihadiri oleh dosen pendamping, Ibu Praba Diyan Rachmawati, S.Kep., Ns., M.Kep., yang turut mendampingi mahasiswa selama pelaksanaan kegiatan.

Sebelum memasuki sesi materi, peserta terlebih dahulu mengikuti pre-test untuk mengetahui sejauh mana pemahaman awal mereka mengenai menstruasi dan kesehatan reproduksi. Selanjutnya, mahasiswa menyampaikan materi edukasi secara interaktif menggunakan media PowerPoint, video edukasi, serta phantom organ reproduksi perempuan sebagai alat bantu pembelajaran. Penggunaan media tersebut membuat penyampaian materi menjadi lebih menarik karena peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga dapat melihat gambaran secara langsung mengenai organ reproduksi perempuan.

Materi yang diberikan mencakup pengenalan anatomi dan fisiologi sistem reproduksi perempuan, proses dan siklus menstruasi, berbagai perubahan yang terjadi saat menstruasi, mitos dan fakta yang sering berkembang di masyarakat, serta cara menjaga kesehatan organ reproduksi. Penyampaian materi dilakukan dengan metode sokratik melalui diskusi dan tanya jawab, sehingga siswa dapat lebih aktif menyampaikan pendapat maupun pertanyaan terkait hal-hal yang masih belum dipahami.

Antusiasme peserta terlihat saat sesi diskusi berlangsung. Beberapa siswa turut aktif bertanya mengenai berbagai pengalaman dan informasi yang sering mereka dengar terkait menstruasi. Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan games edukatif yang berisi pertanyaan seputar materi yang telah diberikan sebelumnya. Selain menjadi sarana evaluasi, kegiatan ini juga membuat suasana pembelajaran menjadi lebih menyenangkan. Salah satu peserta menyampaikan kesannya terhadap kegiatan tersebut. “Games-nya sangat menantang dan informatif, karena pertanyaannya berkaitan dengan materi yang sudah dijelaskan oleh pemateri. Jadi kami bisa mengingat kembali materi yang sudah diberikan dengan cara yang lebih seru,” ujarnya.

Sebagai evaluasi akhir, peserta kembali mengerjakan post-test untuk melihat peningkatan pemahaman setelah mengikuti kegiatan edukasi. Hasil evaluasi ini menjadi salah satu indikator keberhasilan kegiatan PRISMA dalam meningkatkan literasi kesehatan reproduksi remaja. Kegiatan kemudian ditutup dengan pemberian penghargaan kepada peserta yang aktif dan pemenang games edukatif sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi serta antusiasme peserta selama kegiatan berlangsung, kemudian diakhiri dengan dokumentasi bersama.

Melalui kegiatan PjBL PRISMA, mahasiswa S1 Keperawatan Universitas Airlangga berharap edukasi mengenai menstruasi dan kesehatan reproduksi dapat membantu remaja memperoleh informasi yang benar, mengurangi berkembangnya mitos di lingkungan sekitar, serta membangun kesadaran untuk menjaga kesehatan reproduksi secara fisik, psikologis, dan sosial.