Mahasiswa Profesi Ners Universitas Airlangga Edukasi Keluarga Pasien HCU Aster tentang Pengenalan dan Penanganan Code Stroke

NERS NEWS — Mahasiswa Profesi Ners Universitas Airlangga melaksanakan kegiatan Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) dengan tema “Pengenalan dan Penanganan Code Stroke bagi Keluarga Pasien” pada Jumat, 28 Agustus 2026 di ruang tunggu keluarga pasien HCU Aster RSUD Dr. Soetomo. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan keluarga dalam mengenali tanda dan gejala stroke secara dini, memahami konsep Code Stroke, mengetahui pentingnya waktu terakhir pasien diketahui normal (Last Known Well), serta memahami peran keluarga dalam mempercepat penanganan pasien stroke.

Kegiatan penyuluhan kesehatan ini berfokus pada peningkatan pemahaman keluarga pasien mengenai stroke sebagai kondisi kegawatdaruratan yang membutuhkan penanganan secara cepat dan tepat. Materi yang disampaikan meliputi pengertian stroke, jenis stroke, tanda dan gejala stroke, alasan stroke harus segera ditangani, konsep Code Stroke, serta alur penanganan stroke secara umum.

Mahasiswa juga memperkenalkan cara sederhana untuk mengenali tanda-tanda stroke melalui metode B.E. F.A.S.T., yaitu Balance (gangguan keseimbangan), Eyes (gangguan penglihatan), Face (wajah tidak simetris), Arm (kelemahan lengan), Speech (gangguan bicara), dan Time (pentingnya segera mendapatkan pertolongan). Keluarga diimbau untuk segera mencari bantuan medis apabila menemukan tanda-tanda tersebut serta mencatat waktu terakhir pasien diketahui dalam kondisi normal.

Selain B.E. F.A.S.T., peserta diberikan edukasi mengenai metode SeGeRa Ke RS, yang terdiri dari Senyum tidak simetris, Gerak separuh anggota tubuh melemah tiba-tiba, Bicara pelo atau gangguan bicara, Kebas atau kesemutan separuh tubuh, Rabun atau gangguan penglihatan tiba-tiba, serta Sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba. Metode tersebut digunakan sebagai pengingat bagi keluarga untuk mengenali tanda yang mengarah pada stroke dan segera membawa pasien ke rumah sakit.

Dalam penyuluhan, mahasiswa turut menjelaskan mengenai Code Stroke sebagai sistem respons cepat dan terkoordinasi bagi pasien yang dicurigai mengalami stroke akut. Keluarga juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya Last Known Well, yaitu waktu terakhir pasien diketahui berada dalam kondisi normal. Informasi tersebut menjadi salah satu informasi penting yang perlu disampaikan kepada tenaga kesehatan karena dapat membantu dalam menentukan penanganan stroke akut.

Tidak hanya mengenai pengenalan gejala, peserta juga mendapatkan edukasi tentang hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan keluarga. Keluarga dianjurkan untuk tetap tenang, segera memanggil bantuan, mengingat waktu terakhir pasien normal, serta memberikan informasi mengenai riwayat penyakit dan obat yang dikonsumsi pasien. Sebaliknya, keluarga tidak dianjurkan menunggu gejala menghilang, memberikan makanan atau minuman, memberikan obat secara mandiri, memijat pasien sebagai pengganti pertolongan medis, maupun memindahkan pasien tanpa kebutuhan atau instruksi tenaga kesehatan.

Kegiatan dilaksanakan menggunakan metode ceramah, diskusi, dan tanya jawab, dengan media edukasi berupa leaflet dan poster. Sebanyak 13 peserta mengikuti kegiatan dan menunjukkan antusiasme tinggi selama penyuluhan. Sesi tanya jawab berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan mengenai tanda dan gejala stroke, golden period, serta tindakan awal ketika terjadi serangan stroke.

Antusiasme peserta terlihat ketika beberapa keluarga mengajukan pertanyaan terkait kondisi stroke yang terjadi secara mendadak serta tindakan yang perlu dilakukan ketika seseorang tiba-tiba jatuh. Mahasiswa memberikan penjelasan mengenai pentingnya memeriksa kondisi kesadaran dan pernapasan, meminta bantuan, serta tidak memberikan makanan atau minuman kepada pasien.Berdasarkan evaluasi kegiatan, peserta menunjukkan peningkatan pemahaman mengenai pengertian stroke, tanda dan gejala, golden period, serta penanganan awal saat terjadi stroke. Sebagian besar peserta juga aktif mengikuti sesi tanya jawab, terutama ketika membahas cara mengenali tanda dan gejala serta penanganan awal stroke.

Kegiatan PKRS ini mendukung beberapa tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya:

SDGs 3: Good Health and Well-Being (Kehidupan Sehat dan Sejahtera)

Kegiatan edukasi mengenai pengenalan dan penanganan Code Stroke berkontribusi terhadap peningkatan pengetahuan dan kesiapsiagaan keluarga dalam menghadapi kegawatdaruratan stroke. Pemahaman mengenai tanda dan gejala stroke serta pentingnya penanganan secara cepat diharapkan dapat membantu mengurangi keterlambatan pertolongan dan mendukung keselamatan pasien.

SDGs 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas)

Penyuluhan kesehatan menjadi salah satu bentuk pendidikan kesehatan kepada masyarakat, khususnya keluarga pasien. Melalui penyampaian informasi mengenai stroke dengan metode ceramah, diskusi, tanya jawab, serta penggunaan leaflet dan poster, keluarga memperoleh pengetahuan yang dapat membantu mereka berperan aktif dalam proses perawatan pasien.

Melalui kegiatan “Pengenalan dan Penanganan Code Stroke bagi Keluarga Pasien”, mahasiswa Profesi Ners Universitas Airlangga berharap keluarga semakin mampu mengenali tanda-tanda stroke secara dini dan memahami pentingnya memperoleh pertolongan medis dengan segera. Peningkatan pengetahuan keluarga diharapkan dapat mendukung proses penanganan pasien secara cepat, tepat, dan terkoordinasi, sekaligus meningkatkan keterlibatan keluarga dalam perawatan dan pencegahan stroke berulang.

Penulis: Rinda Purnama Sari