
NERS NEWS — Upaya meningkatkan kesadaran perempuan terhadap kesehatan payudara menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung deteksi dini kanker payudara. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) secara rutin dan benar. Sebagai bentuk edukasi dan promosi kesehatan di masyarakat, mahasiswa Praktik Pendidikan Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Kelompok 1, 2, dan 3 Stase Keperawatan Komunitas dan Keluarga Puskesmas Kalijudan melaksanakan kegiatan edukasi kesehatan bertajuk “Peduli Payudara: Gerakan SADARI untuk Perempuan Sehat dan Berdaya.” Kegiatan dilaksanakan pada Rabu, 16 September 2026 pukul 18.30 WIB, setelah kegiatan pengajian ibu-ibu RW 07 Dukuh Sutorejo, bertempat di depan rumah Ibu Tina, dengan sasaran wanita usia produktif di RW 07 Dukuh Sutorejo.
Kegiatan ini dilaksanakan dengan pendampingan Pembimbing Klinik Waji, S.Kep., Ns. serta Pembimbing Akademik Dr. Makhfudli, S.Kep., Ns., M.Ked.Trop., Prof. Ferry Efendi, S.Kep., Ns., M.Sc., Ph.D., dan Dr. Eka Mishbahatul Mar’ah Has, S.Kep., Ns., M.Kep. Edukasi kesehatan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran wanita usia produktif mengenai kanker payudara, pentingnya deteksi dini, serta kemampuan melakukan SADARI dengan benar dan rutin setiap bulan.
Dalam kegiatan tersebut, peserta diberikan pemahaman mengenai kanker payudara atau carcinoma mammae, yaitu tumor ganas yang berkembang pada jaringan payudara dan dapat menyebar ke jaringan di sekitarnya maupun organ tubuh lainnya. Kanker payudara menjadi salah satu jenis kanker yang banyak terjadi pada perempuan. Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian karena pada tahap awal kanker payudara sering kali tidak menimbulkan rasa nyeri, sehingga perubahan pada payudara dapat tidak disadari. Oleh karena itu, pemantauan kondisi payudara dan deteksi dini menjadi bagian penting dalam upaya mengenali kelainan sejak awal.
Peserta juga diberikan edukasi mengenai faktor risiko kanker payudara yang terdiri atas faktor yang dapat diubah dan faktor yang tidak dapat diubah. Faktor yang dapat diubah antara lain obesitas, konsumsi alkohol, kebiasaan merokok, stres, serta paparan zat karsinogen. Sementara itu, faktor yang tidak dapat diubah meliputi faktor genetik atau keturunan, jenis kelamin, usia, riwayat kehamilan, riwayat menstruasi, dan riwayat menyusui. Pemahaman mengenai berbagai faktor risiko tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepedulian perempuan terhadap kesehatan payudara.
Selain faktor risiko, peserta diberikan pemahaman mengenai tanda dan gejala kanker payudara yang perlu diperhatikan. Beberapa perubahan yang dapat ditemukan antara lain munculnya benjolan pada payudara atau ketiak, perubahan bentuk dan ukuran payudara, perubahan pada puting, serta perubahan pada kulit payudara seperti kerutan, kemerahan, atau terasa panas. Pada kondisi yang lebih lanjut, dapat muncul tanda seperti pembengkakan lengan, luka pada kulit, nyeri tulang, penurunan berat badan, sesak napas, maupun gejala lain akibat penyebaran penyakit.
Kegiatan edukasi kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi langkah-langkah melakukan SADARI menggunakan phantom payudara. Peserta diajarkan untuk berdiri di depan cermin dan mengamati perubahan bentuk, ukuran, warna kulit, kerutan, atau lekukan pada payudara. Pemeriksaan dilanjutkan dengan mengangkat kedua lengan dan mengamati perubahan pada payudara serta puting, kemudian meletakkan tangan di pinggang sambil memperhatikan kondisi payudara. Peserta juga diajarkan melakukan perabaan menggunakan ujung jari secara perlahan pada seluruh bagian payudara hingga area ketiak dengan gerakan melingkar, dari atas ke bawah, serta dari tepi payudara menuju puting.
Setelah pemeriksaan perabaan, peserta diajarkan untuk memeriksa kondisi puting dengan memberikan tekanan secara perlahan dan memperhatikan apakah terdapat cairan yang keluar. Apabila ditemukan perubahan yang tidak normal atau keluarnya cairan dari puting secara berulang, peserta diarahkan untuk berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan SADARI juga dilakukan dalam posisi berbaring dengan meletakkan bantal di bawah bahu dan mengangkat lengan, kemudian melakukan kembali perabaan pada seluruh bagian payudara.
Selain SADARI, peserta juga diperkenalkan dengan beberapa metode skrining dan deteksi dini kanker payudara, seperti Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS), termografi, dan mammografi. Informasi tersebut diberikan agar peserta mengetahui bahwa deteksi dini dapat dilakukan melalui pemeriksaan mandiri maupun pemeriksaan oleh tenaga kesehatan sesuai kebutuhan.
Kegiatan dilaksanakan melalui ceramah, demonstrasi, dan tanya jawab. Media yang digunakan berupa leaflet dan phantom payudara untuk membantu peserta memahami materi sekaligus mempraktekkan secara langsung langkah-langkah SADARI. Peserta diberikan kesempatan untuk mempraktikkan kembali pemeriksaan yang telah didemonstrasikan sehingga diharapkan tidak hanya memahami materi secara teori, tetapi juga mampu melakukan SADARI secara runtut dan benar.
Melalui kegiatan “Peduli Payudara: Gerakan SADARI untuk Perempuan Sehat dan Berdaya”, diharapkan wanita usia produktif di RW 07 Dukuh Sutorejo semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan payudara dan melakukan SADARI secara rutin setiap bulan. Kegiatan ini juga diharapkan dapat mendorong perempuan untuk lebih peka terhadap perubahan pada payudara dan segera memanfaatkan pelayanan kesehatan apabila menemukan tanda atau kelainan yang mencurigakan, sehingga deteksi dini dapat dilakukan dan penanganan dapat diberikan sesuai kondisi.
Penulis: Fila Andrianti Safia





