Mahasiswa Profesi Ners Universitas Airlangga Gelar PKRS Diplopia “Edukasi Deteksi Dini Gangguan Penglihatan Ganda” di Poli Mata RSUA

NERS NEWS – Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga melaksanakan kegiatan penyuluhan kesehatan tentang diplopia (penglihatan ganda) di Poli Mata Rumah Sakit Universitas Airlangga pada Kamis, 9 April 2026. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga mengenai penyebab, gejala, pencegahan, serta penanganan diplopia.

Gangguan penglihatan seperti diplopia atau penglihatan ganda merupakan kondisi yang perlu diwaspadai karena dapat mengganggu aktivitas sehari-hari bahkan menjadi tanda penyakit yang lebih serius. Sebagai bentuk upaya promotif dan preventif, mahasiswa Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga menggelar kegiatan Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) bertema “Diplopia: Pencegahan dan Penanganan yang Tepat” pada Kamis, 9 April 2026 di Poli Mata Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA).

Kegiatan PKRS ini dilaksanakan di ruang tunggu Poli Mata dengan sasaran pasien dan keluarga. Edukasi dilakukan secara komunikatif dan interaktif melalui metode ceramah dan tanya jawab. Mahasiswa menyampaikan materi menggunakan media leaflet dan poster agar lebih mudah dipahami oleh peserta. Materi yang diberikan meliputi pengertian diplopia, penyebab, faktor risiko, tanda dan gejala, hingga upaya pencegahan dan penanganan yang tepat.

Penyuluhan ini dilaksanakan oleh Mahasiswa Profesi Ners Angkatan B27 Kelompok 5 Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga dengan pendampingan pembimbing akademik Prof. Dr. Tintin Sukartini, S.Kp., M.Kes dan klinik Ruri Rahmadani, S.Kep.,Ns. Kegiatan berlangsung selama 45 menit, dimulai pukul 09.15 WIB – 10.00 WIB, dan diikuti oleh pasien serta keluarga yang sedang menerima pelayanan di Poli Mata RSUA.

Diplopia dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari gangguan pada otot mata, saraf, hingga penyakit sistemik seperti diabetes melitus. Oleh karena itu, edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga mengenai pentingnya deteksi dini serta penanganan yang tepat guna mencegah komplikasi lebih lanjut. Selain itu, peserta juga diberikan edukasi mengenai cara sederhana menjaga kesehatan mata, seperti menerapkan aturan 20-20-20 untuk mengurangi kelelahan mata.

Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Hal ini ditunjukkan dengan keaktifan peserta dalam bertanya serta menjawab pertanyaan yang diberikan oleh penyaji. Peserta juga mampu mengulang kembali materi yang telah disampaikan sebagai bentuk evaluasi pemahaman.

Kegiatan PKRS ini sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDGs 3 (Good Health and Well-Being) melalui peningkatan derajat kesehatan masyarakat, serta SDGs 4 (Quality Education) melalui pemberian edukasi kesehatan yang aplikatif dan mudah dipahami. Kegiatan berjalan dengan lancar dan mendapat respons positif dari peserta. Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami kondisi diplopia serta mampu melakukan langkah pencegahan dan penanganan secara mandiri, sehingga kualitas kesehatan mata dapat terus terjaga.

Melalui kegiatan penyuluhan ini, diharapkan pasien dan keluarga memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai diplopia serta mampu menerapkan langkah pencegahan dan penanganan yang tepat. Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata peran mahasiswa keperawatan dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Penulis: Beta Ceria Tamariska

Editor: Raffa Nadiya Primatiana (Airlangga Nursing Journalist)