
NERS NEWS — Bencana alam seperti banjir, badai, dan gelombang panas tidak hanya meninggalkan kerugian materi dan kematian, namun juga berdampak pada tingkat kualitas hidup Quality of Life QoL pada individu. Dalam hal ini perawat tidak dapat dipandang sebagai profesi sampingan, namun menjadi pusat dari pencegahan, kelangsungan, dan pemulihan bencana. Pemulihan pasca bencana tidak hanya sebatas membangun kembali infrastruktur umum, tetapi juga harus memastikan kualitas hidup, keamanan, kesehatan mental, serta keberlanjutan hidup masyarakat penyintas bencana.
Dua peneliti Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga, Rifky Octavia Pradipta, S.Kep.,Ns., M.Kep, dan Prof. Ferry Efendi, S.Kep., Ns., M.Sc., Ph.D, dalam artikel penelitian terbarunya membahas mengenai peran besar tenaga perawat di kala masa bencana. Dalam artikel ini dibahas sejauh mana tata kelola bencana memberdayakan dan mengintegrasikan profesi keperawatan untuk menjaga kualitas hidup sepanjang siklus bencana mulai dari masa siap siaga, tanggap darurat, hingga pemulihan. Dalam seluruh siklus bencana perawat memiliki peran besar dalam menjaga kelangsungan layanan seperti pengaturan triase, memastikan stok obat-obatan, pelayanan ibu dan anak, pencegahan dan pemantauan infeksi, serta pendidikan dan promosi kesehatan di lokasi bencana.
Laporan terbaru oleh Internal Displacement Monitoring Centre (IDMC) 2025 terdapat 83,4 juta jiwa hidup mengungsi akibat bencana. Laporan ini menyoroti berapa lama tiap individu dapat bertahan hidup pada kondisi pasca bencana. Dalam hal ini perawat memiliki peran yang lebih holistik di kamp pengungsian jangka panjang, yang tidak hanya berfokus pada pengobatan fisik, tetapi juga pada aspek sosial, emosional, dan pencegahan dalam rangka menjaga kualitas hidup para pengungsi. Untuk menghadapi ini semua perlu diberlakukan sistem keperawatan yang lebih siap dan tangguh dalam menghadapi bencana.
Artikel penelitian ini juga berfokus pada pentingnya standar shelter WASH (Water, Sanitation, and Hygiene) dalam penanganan bencana. Standar tersebut bukan hanya sekedar pelengkap bantuan ketika terjadinya sebuah bencana, tetapi menjadi hal yang sangat krusial dalam mencegah terjadinya infeksi, menjaga kesehatan ibu dan anak, dukungan kesehatan mental, serta kondisi para penyintas bencana yang lebih bermartabat.
Agar terbentuk sistem keperawatan bencana yang siap dan tangguh, diperlukan persiapan yang matang, termasuk pelatihan kompetensi pra bencana berdasarkan standar International Council of Nurses (ICN). Dengan adanya pelatihan pra bencana, stres psikologis di kalangan perawat dapat menurun efektif. Menurut Luo Y dkk., persiapan pra bencana bagi perawat dinilai sangat efektif menurunkan stres psikologis, sehingga memperkuat alasan dilakukannya pelatihan sistematis berbasis kompetensi. Selain itu untuk membentuk sistem kerja yang baik, kerangka kerja sendai digunakan untuk melibatkan perawat mulai dari penyebaran peringatan dini, persiapan masyarakat, perencanaan kelangsungan pelayanan, dan proses pemulihan.
Artikel penelitian ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) no 3: Kesehatan dan Kesejahteraan, SDGs no 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan, serta SDGs no 13: Penanganan Perubahan Iklim. Melalui penguatan sistem keperawatan bencana, kesiapsiagaan tenaga kesehatan, perlindungan kelompok rentan, serta keberlanjutan layanan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat terdampak, profesi perawat berperan penting dalam menciptakan sistem sosial kesehatan yang lebih resilien di tengah meningkatnya risiko bencana iklim.
Link artikel selengkapnya : https://saber.ucv.ve/ojs/index.php/rev_gmc/article/view/31989
Referensi :
- Internal Displacement Monitoring Centre (IDMC). 2025 Global Report on Internal Displacement (GRID). Geneva: IDMC; 2025. Available from: https://www.internal-displacement.org/
- Luo Y, Yan H, Tang Y, Wang S, Yang Z, Zhang T, et al. Levels of nurse disaster preparedness: A systematic review and meta-analysis. Nurse Education in Practice. 2025;85:104372.
- Pradipta, R. O., & Efendi, F. (2026). Converting Grief into Strength: Why Nursing Must Lead from Response to Recovery. Gaceta Medica de Caracas, 134(Supl 1), S1–S5
Penulis: Yusuf Rayhan Sameer





