
NERS NEWS — Mahasiswa Kelompok D4.3 Stase Anak Program Pendidikan Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga (FKp Unair) sukses menyelenggarakan program Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) interaktif mengenai pencegahan diare, penatalaksanaan mandiri, dan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Kegiatan klinis yang menyasar orang tua pasien anak ini dilaksanakan di Ruang Irna 4 Pediatri Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA), Surabaya, pada Sabtu, 5 Juni 2026. Intervensi edukasi terukur selama 30 menit ini dirancang untuk memutus rantai transmisi fekal-oral agen patogen sekaligus mengoptimalkan kapasitas deteksi dini keluarga terhadap risiko komplikasi dehidrasi pada anak.
Pelaksanaan program PKRS dikemas secara padat dan sistematis melalui metode ceramah, demonstrasi, dan diskusi dua arah yang terbagi dalam empat manajemen waktu fungsional. Fase orientasi (pembukaan) berlangsung selama 3 menit untuk membina hubungan saling percaya dan mendistribusikan leaflet edukasi. Memasuki kegiatan inti selama 12 menit, edukator memaparkan materi kuratif awal di rumah dan memperagakan 7 pilar PHBS, termasuk teknik cuci tangan menggunakan sabun dan pengelolaan makanan yang higienis. Selanjutnya, ruang dialektika interaktif dibuka selama 13 menit untuk memfasilitasi tanya jawab seputar kendala domestik orang tua, sebelum diakhiri dengan fase terminasi evaluatif selama 2 menit. Aktivitas edukasi klinis ini diorganisasi secara penuh oleh mahasiswa Program Profesi FKp Unair yang tergabung dalam Kelompok 3 Stase Anak. Sasaran utama intervensi adalah para orang tua, pengasuh, serta pendamping pasien anak yang sedang menjalani rawat inap di Ruang Irna 4 Pediatri RSUA. Guna menjaga validitas konten dan kesesuaian tindakan keperawatan berbasis bukti (evidence-based practice), jalannya kegiatan disupervisi dan didampingi langsung oleh Pembimbing Klinik (Clinical Instructor) Irna 4 Pediatri bersama Dosen Pembimbing Akademik FKp Universitas Airlangga.
Secara klinis, diare ditandai dengan buang air besar sebanyak 3 kali atau lebih dalam sehari dengan konsistensi tinja cair atau lembek, yang sering disertai gejala mual, muntah, perut tidak nyaman, serta . Penyakit ini dipicu oleh infeksi virus/bakteri, status gizi buruk, dan sanitasi lingkungan yang tidak adekuat. Tanpa penanganan dini, kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi fatal seperti dehidrasi, gangguan elektrolit, penurunan daya tahan tubuh, syok hipovolemik, kejang, hingga kematian. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas literasi kesehatan masyarakat dan penguatan peran keluarga dalam pencegahan serta pengendalian gastroenteritis akut, sebagai wujud dukungan terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya Tujuan 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-Being) serta Tujuan 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak (Clean Water and Sanitation).

“Intervensi keperawatan ini membekali orang tua dengan kompetensi ganda. Pertama, aspek preventif melalui penegakan 7 pilar PHBS domestik, mulai dari penyediaan air bersih hingga pemenuhan imunisasi anak. Kedua, aspek kuratif awal di rumah melalui pemberian asupan cairan ekstra (ASI, air putih, buah), suplementasi oralit setiap anak BAB cair, pemberian nutrisi porsi kecil tapi sering, serta ketajaman membaca indikator kegawatdaruratan seperti anak lemas atau muntah terus-menerus untuk segera dirujuk ke fasilitas kesehatan,” jelas Ketua Pelaksana Kelompok 3 Stase Anak Profesi Ners Unair.
Kegiatan PKRS ini secara komprehensif mendukung agenda pembangunan global melalui integrasi beberapa target indikator utama, yaitu:
- SDGs 3 (Good Health and Well-Being): Menurunkan angka mortalitas dan morbiditas balita akibat penyakit menular saluran pencernaan yang dapat dicegah melalui deteksi dini dehidrasi.
- SDGs 6 (Clean Water and Sanitation): Mengampanyekan pentingnya penyediaan air bersih, penggunaan jamban sehat, serta pembiasaan cuci tangan pakai sabun untuk menghentikan kontaminasi kuman di lingkungan keluarga.
Melalui implementasi PKRS yang efisien ini, rekonstruksi perilaku kesehatan yang positif diharapkan dapat terbentuk pada keluarga pasien pasca-hospitalisasi. Keberhasilan para orang tua dalam menjawab evaluasi lisan mengenai algoritma rehidrasi mandiri dan prinsip dasar PHBS mencerminkan peningkatan retensi kognitif yang signifikan. Dampak jangka panjang dari diseminasi massal ini diharapkan mampu menekan angka rawat inap berulang (readmission rate) akibat diare pada populasi pediatri, sekaligus menegaskan kontribusi nyata Universitas Airlangga dalam mempromosikan derajat kesehatan masyarakat yang optimal.

Penulis: Nur Asia Jumma





