
NERS NEWS — Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Ners Kelompok 1 Klampis Ngasem melaksanakan kegiatan pendidikan kesehatan dalam rangkaian Stase Keperawatan Komunitas pada Sabtu, 12 September 2026. Kegiatan yang dilaksanakan pada pukul 08.00 WIB di Balai RW 01 Kelurahan Gebang Putih, Kecamatan Sukolilo, wilayah kerja Puskesmas Klampis Ngasem, mengangkat tema “Deteksi Dini dan Pencegahan Osteoporosis pada Lansia.” Sasaran kegiatan adalah lansia di RW 01 Kelurahan Gebang Putih. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman lansia mengenai osteoporosis, faktor risikonya, deteksi dini, serta upaya pencegahan untuk menjaga kesehatan tulang dan menurunkan risiko terjadinya fraktur.
Kegiatan diawali dengan persiapan mahasiswa dan media edukasi berupa poster serta leaflet. Setelah peserta berkumpul, mahasiswa membuka kegiatan dengan mengucapkan salam, memperkenalkan diri, menyampaikan tujuan penyuluhan, menjelaskan kontrak waktu, serta menyampaikan materi yang akan diberikan. Sebelum memasuki materi, mahasiswa juga menggali pengetahuan awal peserta mengenai osteoporosis untuk mengetahui pemahaman peserta sebelum diberikan pendidikan kesehatan.
Materi pertama yang disampaikan adalah mengenai pengertian osteoporosis. Peserta diberikan pemahaman bahwa osteoporosis merupakan penyakit yang ditandai dengan menurunnya massa dan kepadatan tulang sehingga struktur tulang menjadi lebih rapuh dan mudah patah. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya fraktur, antara lain pada pergelangan tangan, panggul, maupun tulang belakang.
Selanjutnya, mahasiswa menjelaskan berbagai faktor risiko osteoporosis. Faktor risiko tersebut dibedakan menjadi faktor yang tidak dapat diubah dan faktor yang dapat dimodifikasi. Faktor yang tidak dapat diubah meliputi usia lanjut, jenis kelamin wanita, menopause, dan riwayat keluarga osteoporosis. Sementara itu, faktor yang dapat dimodifikasi antara lain kurangnya aktivitas fisik, rendahnya asupan kalsium dan vitamin D, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, serta berat badan yang terlalu rendah.
Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan tanda dan gejala osteoporosis. Mahasiswa menjelaskan bahwa osteoporosis sering berkembang secara perlahan dan pada tahap awal dapat tidak menimbulkan gejala yang khas. Kondisi tersebut menyebabkan seseorang terkadang tidak menyadari adanya penurunan kepadatan tulang hingga terjadi fraktur. Beberapa kondisi yang dapat muncul antara lain tulang menjadi rapuh dan mudah patah, postur tubuh membungkuk, penyusutan tinggi badan, serta nyeri punggung akibat patah atau retak pada tulang belakang.
Selain mengenali tanda dan gejala, peserta diberikan edukasi mengenai pentingnya melakukan deteksi dini osteoporosis. Mahasiswa menjelaskan bahwa deteksi dini dapat dilakukan melalui identifikasi faktor risiko, pemeriksaan kepadatan tulang atau Bone Mineral Density (BMD), serta pemeriksaan kesehatan secara berkala. Pemeriksaan BMD dapat dilakukan menggunakan Dual-Energy X-Ray Absorptiometry (DEXA) untuk mengetahui kepadatan mineral tulang pada bagian tubuh tertentu, seperti tulang belakang dan panggul.

Materi berikutnya membahas upaya pencegahan osteoporosis melalui penerapan pola hidup sehat. Peserta dianjurkan melakukan olahraga secara teratur untuk membantu mempertahankan kepadatan tulang, meningkatkan kekuatan otot, serta menjaga keseimbangan tubuh. Aktivitas seperti berjalan kaki, jogging, naik tangga, menari, dan bermain tenis dapat menjadi pilihan latihan beban. Sementara itu, latihan keseimbangan dan koordinasi seperti yoga, tai chi, maupun latihan peregangan dapat membantu mengurangi risiko jatuh, terutama pada lansia.
Mahasiswa juga memberikan edukasi mengenai pentingnya pemenuhan nutrisi untuk menjaga kesehatan tulang. Peserta dianjurkan memenuhi kebutuhan kalsium melalui berbagai sumber makanan seperti susu, yoghurt, keju, sayuran hijau, kacang-kacangan, tahu, tempe, serta ikan yang dapat dikonsumsi bersama tulangnya seperti sarden. Selain kalsium, vitamin D juga diperlukan untuk membantu penyerapan kalsium dan menjaga keseimbangan mineral tulang. Asupan protein yang cukup juga berperan dalam mempertahankan massa tulang dan meningkatkan kekuatan otot.
Tidak hanya membahas makanan dan aktivitas fisik, peserta juga diberikan pemahaman mengenai kebiasaan sehari-hari yang dapat memengaruhi kesehatan tulang. Mahasiswa mengingatkan pentingnya berhenti merokok, membatasi konsumsi kafein dan minuman bersoda, serta mendapatkan waktu tidur yang cukup. Penerapan berbagai kebiasaan tersebut menjadi bagian dari pola hidup sehat untuk membantu mempertahankan kesehatan tulang.
Mahasiswa turut menekankan pentingnya menjaga kesehatan tulang sejak dini. Kepadatan tulang mencapai puncaknya pada usia sekitar 20–30 tahun dan selanjutnya dapat mengalami penurunan secara bertahap. Oleh karena itu, pemenuhan nutrisi yang baik, aktivitas fisik secara teratur, pemenuhan vitamin D, serta menghindari kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol perlu diterapkan untuk membantu mempertahankan kesehatan tulang hingga usia lanjut.
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan maupun tanggapan terkait materi osteoporosis yang telah diberikan. Mahasiswa kemudian memberikan penjelasan terhadap pertanyaan peserta sekaligus melakukan evaluasi untuk mengetahui kemampuan kognitif dan tingkat pemahaman peserta setelah mengikuti penyuluhan.
Evaluasi dilakukan dengan menilai kemampuan peserta dalam menjelaskan kembali materi mengenai deteksi dini dan pencegahan osteoporosis. Keberhasilan kegiatan juga dilihat dari partisipasi peserta sejak awal hingga akhir kegiatan, ketertarikan peserta untuk menerapkan pola hidup sehat, serta kemampuan peserta dalam mengikuti sesi tanya jawab dan menjawab pertanyaan evaluasi dengan benar. Dalam SAP, kegiatan ditargetkan diikuti minimal 15 peserta dengan partisipasi audiens sebesar 75% dari target lansia.
Kegiatan penyuluhan kemudian ditutup dengan penyampaian apresiasi kepada peserta dan salam penutup. Melalui kegiatan pendidikan kesehatan ini, mahasiswa Program Pendidikan Profesi Ners Kelompok 1 Klampis Ngasem berharap para lansia dapat meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya kesehatan tulang, mengenali faktor risiko osteoporosis, memahami pentingnya deteksi dini, serta menerapkan pola hidup sehat sebagai upaya mencegah osteoporosis dan fraktur.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Praktik Pendidikan Profesi Ners Stase Keperawatan Komunitas Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga. Pelaksanaan kegiatan melibatkan seluruh anggota Kelompok 1 Klampis Ngasem dengan pembagian tugas sebagai moderator, penyaji, fasilitator, observer, perlengkapan, dan dokumentasi.
Penulis: Nurul Khumairo Azizah





