
NERS NEWS — Ners Muda Program Pendidikan Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Angkatan B27 melaksanakan kegiatan pendidikan kesehatan bertema “Deteksi Dini dan Pencegahan Osteoporosis” kepada pasien dan keluarga pasien di Puskesmas Kenjeran Surabaya pada Kamis, 13 Agustus 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran peserta mengenai osteoporosis, faktor risiko, tanda dan gejala, deteksi dini, serta upaya pencegahan osteoporosis melalui penerapan pola hidup sehat. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan praktik Pendidikan Profesi Ners dalam bidang keperawatan komunitas.
Pelaksanaan edukasi dilakukan melalui metode ceramah dan tanya jawab dengan menggunakan media edukasi berupa leaflet dan poster. Materi yang disampaikan meliputi pengertian osteoporosis, faktor-faktor risiko, tanda dan gejala, cara melakukan deteksi dini, upaya pencegahan melalui pola hidup sehat, serta pentingnya menjaga kesehatan tulang sejak dini. Peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya aktivitas fisik secara teratur, pemenuhan kebutuhan kalsium dan vitamin D, serta penerapan kebiasaan hidup sehat untuk membantu menjaga kekuatan tulang.
Kegiatan edukasi ini dilatarbelakangi oleh tingginya kejadian osteoporosis yang menjadi salah satu masalah kesehatan, terutama pada kelompok usia lanjut. Osteoporosis merupakan kondisi yang ditandai dengan menurunnya massa dan kepadatan tulang sehingga tulang menjadi lebih rapuh dan mudah mengalami patah. Kondisi tersebut dapat berdampak pada kecacatan, penurunan kualitas hidup, serta meningkatnya ketergantungan pada usia lanjut. Di Indonesia, risiko osteoporosis juga cukup tinggi, terutama pada perempuan usia lanjut.
Dalam kegiatan tersebut dijelaskan bahwa osteoporosis dapat dipengaruhi oleh faktor risiko yang tidak dapat diubah maupun faktor yang dapat dimodifikasi. Faktor yang tidak dapat diubah antara lain usia lanjut, jenis kelamin perempuan, menopause, dan riwayat keluarga dengan osteoporosis. Sementara itu, faktor yang dapat dimodifikasi meliputi kurangnya aktivitas fisik, rendahnya asupan kalsium dan vitamin D, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, serta berat badan yang terlalu rendah. Pemahaman mengenai faktor risiko tersebut diharapkan dapat membantu peserta mengenali risiko osteoporosis sejak dini.
Peserta juga diberikan informasi mengenai tanda dan gejala osteoporosis. Pada tahap awal, osteoporosis sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga seseorang dapat tidak menyadari bahwa kepadatan tulangnya telah menurun. Seiring perkembangan kondisi, tulang dapat menjadi semakin rapuh dan mudah mengalami patah akibat benturan ringan atau jatuh. Beberapa tanda yang dapat ditemukan antara lain postur tubuh membungkuk, penyusutan tinggi badan, serta nyeri punggung akibat patah atau retak pada tulang belakang.
Materi deteksi dini juga menjadi bagian penting dalam edukasi. Peserta diberikan pemahaman bahwa deteksi dini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi faktor risiko, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, serta pemeriksaan kepadatan tulang atau Bone Mineral Density (BMD). Pemeriksaan BMD dapat dilakukan menggunakan Dual-Energy X-Ray Absorptiometry (DEXA) untuk mengetahui kondisi kepadatan mineral tulang dan membantu menentukan apakah seseorang berada dalam kondisi normal, osteopenia, atau osteoporosis.
Selain deteksi dini, peserta diberikan edukasi mengenai berbagai upaya pencegahan osteoporosis melalui pola hidup sehat. Pencegahan dapat dilakukan dengan berolahraga secara teratur, melakukan latihan beban dan latihan keseimbangan, memenuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D, mengonsumsi makanan kaya protein, berhenti merokok, membatasi konsumsi kafein dan minuman bersoda, serta mencukupi kebutuhan tidur. Penerapan pola hidup tersebut diharapkan dapat membantu mempertahankan kepadatan tulang, meningkatkan kekuatan otot, serta menurunkan risiko patah tulang.
Kegiatan juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan tulang sejak dini. Kepadatan tulang mencapai puncaknya pada usia sekitar 20–30 tahun dan selanjutnya dapat mengalami penurunan secara bertahap. Oleh karena itu, pemenuhan nutrisi, aktivitas fisik, serta penerapan pola hidup sehat sejak usia muda menjadi bagian penting dalam mempertahankan kesehatan tulang hingga usia lanjut. Upaya pencegahan sejak dini diharapkan dapat membantu menurunkan risiko osteoporosis dan komplikasinya sehingga seseorang dapat tetap aktif dan mandiri.
Selain osteoporosis, peserta juga diberikan edukasi mengenai pencegahan jatuh pada lansia. Seiring bertambahnya usia, kekuatan otot, keseimbangan, dan penglihatan dapat mengalami penurunan sehingga risiko jatuh menjadi lebih tinggi. Pencegahan dapat dilakukan dengan menciptakan lingkungan rumah yang aman, memastikan pencahayaan cukup, merapikan barang yang dapat menyebabkan tersandung, menghindari karpet atau keset yang licin, menjaga kamar mandi tetap bersih dan kering, serta menyediakan pegangan pada area yang diperlukan. Lansia juga dianjurkan menggunakan alas kaki yang tidak licin, berdiri secara perlahan setelah duduk atau berbaring, serta menggunakan alat bantu jalan apabila diperlukan.
Selama kegiatan berlangsung, peserta diharapkan aktif mengikuti penyuluhan, memperhatikan materi, serta berpartisipasi dalam sesi tanya jawab. Evaluasi dilakukan secara lisan untuk mengetahui pemahaman peserta mengenai osteoporosis, faktor risiko, tanda dan gejala, deteksi dini, serta upaya pencegahannya. Peserta diharapkan mampu menjelaskan kembali informasi mengenai deteksi dini dan pencegahan osteoporosis serta menunjukkan ketertarikan untuk menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian kegiatan dilaksanakan selama 20 menit dan terdiri atas pembukaan, penyampaian materi, sesi tanya jawab, evaluasi pemahaman, serta penutupan. Kegiatan menggunakan media leaflet dan poster untuk membantu peserta memahami informasi yang disampaikan. Pembagian tugas dalam kegiatan meliputi moderator, penyaji, fasilitator, observer, time keeper, perlengkapan, dan dokumentasi sehingga pelaksanaan penyuluhan dapat berjalan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun.
Melalui kegiatan edukasi ini, diharapkan pasien dan keluarga pasien dapat meningkatkan pengetahuan mengenai pentingnya menjaga kesehatan tulang, mengenali faktor risiko osteoporosis, melakukan deteksi dini, serta menerapkan pola hidup sehat sebagai bagian dari pencegahan osteoporosis. Edukasi mengenai pencegahan jatuh juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran keluarga dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi lansia sehingga risiko jatuh dan cedera dapat diminimalkan. Dengan pengetahuan dan kesadaran yang baik, masyarakat diharapkan mampu menjaga kesehatan tulang dan mempertahankan kualitas hidup hingga usia lanjut.
Penulis: Meriyana Ate Engge





