Keluarga Peduli, Diare Terkendali: Peduli Kebersihan Tangan untuk Kendalikan Diare

NERS NEWS – Surabaya – Penyuluhan kesehatan tentang diare dilaksanakan pada Jumat, 27 Februari 2026 di Puskesmas Kalijudan, Surabaya. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga kelas A3 kelompok A3 dan A4 angkatan 2023 melalui metode ceramah, diskusi interaktif, dan demonstrasi cuci tangan menggunakan media leaflet. PKRS ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kepedulian masyarakat dalam mengenali tanda, mencegah, serta melakukan penanganan awal diare di rumah guna meminimalkan risiko dehidrasi dan komplikasi, khususnya pada bayi dan anak, serta mendorong penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDGs 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being) melalui peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, serta SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas (Quality Education) melalui penguatan edukasi dan literasi kesehatan secara berkelanjutan. Kegiatan ini didampingi oleh pembimbing klinik kami Waji, S.Kep., Ns. serta pembimbing akademik Dr. Eka Misbahatul Mar’ah Has, S.Kep., Ns., M.Kep. Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan saat sesi tanya jawab, keterlibatan dalam demonstrasi, serta partisipasi dalam evaluasi singkat di akhir kegiatan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga berharap masyarakat dapat memahami dan menerapkan langkah pencegahan serta penanganan diare dengan benar di rumah, sehingga risiko komplikasi dapat diminimalkan dan derajat kesehatan keluarga semakin meningkat.

Kegiatan penyuluhan dilaksanakan pada Jumat, 27 Februari 2026 dan dimulai pukul 08.40 dengan pembukaan. Pada pukul 08.45 dilanjutkan pemaparan materi mengenai diare, meliputi pengertian diare sebagai buang air besar tiga kali atau lebih sehari dengan konsistensi encer, jenis diare akut dan kronis, penyebab infeksi oleh bakteri, virus, dan parasit, risiko dehidrasi, serta tujuh tanda bahaya yang harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan seperti lemas, tidak bisa minum, muntah terus-menerus, BAB berdarah, demam tinggi, jarang kencing, dan mata cekung. Selanjutnya pada pukul 08.52 dilakukan demonstrasi enam langkah cuci tangan pakai sabun sebagai bentuk pencegahan penularan diare, peserta aktif mengikuti gerakan cuci tangan yang didemonstrasikan. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab pada pukul 08.55 hingga 09.00, di mana beberapa peserta aktif mengajukan pertanyaan, di antaranya mengenai anggapan tidak boleh makan buah dan sayur saat diare, apakah satu tanda bahaya sudah termasuk diare, serta pemberian oralit pada bayi usia satu bulan. Pertanyaan yang diajukan peserta berhasil dijawab dengan baik oleh penyaji.

Kegiatan ditutup dengan penguatan materi pada pukul 09.00–09.05 oleh dosen pembimbing akademik, yakni Bu Eka yang menekankan pentingnya penanganan diare secara tepat dan pemberian oralit sesuai anjuran tenaga Kesehatan. Edukasi yang diberikan tidak hanya menjadi pengetahuan sesaat, tetapi dapat diterapkan secara konsisten di lingkungan keluarga. Dengan meningkatnya kepedulian dan kebiasaan cuci tangan yang benar, risiko penularan diare dapat ditekan sehingga kesehatan anggota keluarga tetap terjaga. Komitmen kecil yang dilakukan bersama hari ini diharapkan mampu memberikan dampak besar bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat di masa mendatang.

Penulis: Fadilatul Azzahra