
NERS NEWS – Surabaya, 28 Agustus 2026 – Kelompok 12 Stase Profesi Keperawatan Medikal Bedah (KMB), Mahasiswa Profesi Ners Angkatan 49 periode ganjil 2026/2027 Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga melaksanakan kegiatan Pendidikan Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) mengenai Restless Legs Syndrome (RLS) pada pasien Penyakit Ginjal Kronis (CKD) di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Universitas Airlangga, Jumat (28/8/2026) pukul 10.00 WIB. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga mengenai gejala RLS serta cara mengurangi dan mencegah keluhan yang dapat dialami pasien hemodialisis.
Kegiatan dilaksanakan melalui penyuluhan dengan metode ceramah dan diskusi interaktif menggunakan media poster dan leaflet. Materi yang diberikan meliputi pengertian RLS, tanda dan gejala, faktor risiko, cara mengurangi gejala, serta upaya pencegahan. Peserta juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan keluhan maupun pertanyaan yang berkaitan dengan kondisi yang mereka alami selama menjalani hemodialisis. Materi tersebut disusun berdasarkan kebutuhan pasien CKD yang memiliki risiko mengalami RLS, terutama akibat kondisi gagal ginjal, gangguan zat besi, anemia, maupun faktor lainnya.
Kegiatan diikuti oleh 8 peserta yang terdiri atas pasien dan keluarga atau pendamping pasien di Ruang Hemodialisa RS Universitas Airlangga. Penyuluhan berlangsung selama kurang lebih 30 menit, dengan pembagian tugas meliputi Haera Nurhalizah sebagai moderator, Siti Faidza Agustin dan Angelica Ismaylin sebagai pemateri, Rizcha Rachmawati sebagai observer, Eka Sari Nur Cholifah sebagai notulensi, Nur Safitri Rahmania sebagai dokumentasi, serta Khairun Nisa’ Anabila sebagai penanggung jawab perlengkapan dan presensi. Kegiatan berada di bawah bimbingan Annisa Qurniawati, S.Kep., Ns. selaku pembimbing klinik dan Dr. Ika Yuni W., S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.KMB. selaku pembimbing akademik.
Antusiasme peserta terlihat melalui sesi diskusi. Salah satu peserta, Bapak Satin, menanyakan mengenai keluhan nyeri pada kaki yang dirasakan setiap hari serta cara penanganannya. Pertanyaan tersebut menjadi bagian dari diskusi mengenai berbagai keluhan pada ekstremitas yang dapat dirasakan pasien. Peserta lain, Bapak Kusno, menanyakan mengenai kesulitan tidur, rasa gatal, kesemutan, serta gerakan kaki yang muncul secara spontan dan kaitannya dengan gejala RLS. Dalam diskusi juga dibahas bahwa keluhan pada kaki tidak selalu disebabkan oleh RLS dan dapat berkaitan dengan kondisi lain pada pasien gagal ginjal, termasuk penumpukan uremia. RLS sendiri ditandai dengan dorongan kuat untuk menggerakkan kaki yang disertai sensasi tidak nyaman, memburuk ketika beristirahat, dan biasanya membaik sementara setelah kaki digerakkan.
Selain itu, peserta menanyakan mengenai penggunaan obat untuk mengatasi keluhan serta pengaturan makanan pada pasien hemodialisis. Siti Faidza Agustin menjelaskan bahwa “RLS tidak memiliki satu obat spesifik yang dapat digunakan oleh semua pasien, sehingga penanganan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien dan dilakukan berdasarkan anjuran tenaga kesehatan. Tindakan sederhana seperti peregangan ringan, aktivitas fisik sesuai toleransi, pemijatan kaki, serta kompres hangat dapat dilakukan untuk membantu mengurangi keluhan,” jelasnya saat memberikan penjelasan kepada pasien.
Diskusi juga menyinggung mengenai hiperfosfatemia dan pembatasan makanan. Pasien diingatkan untuk mengikuti pengaturan makanan yang telah diberikan oleh tenaga kesehatan serta tidak mengonsumsi obat atau suplemen secara sembarangan. Pengelolaan kondisi CKD tetap perlu dilakukan secara menyeluruh melalui kepatuhan terhadap jadwal hemodialisis, terapi, kontrol rutin, serta pengaturan pola hidup.
Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 3: Good Health and Well-Being, khususnya dalam meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pasien dalam menjaga kesehatan serta mengelola keluhan yang berkaitan dengan penyakit kronis. Edukasi diharapkan dapat membantu pasien mengenali gejala RLS lebih dini, mengetahui cara mengurangi keluhan secara aman, serta memahami pentingnya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila gejala semakin berat atau mengganggu tidur dan aktivitas.
Melalui kegiatan PKRS ini, mahasiswa Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga berharap edukasi mengenai RLS dapat meningkatkan kesadaran pasien dan keluarga terhadap keluhan yang muncul selama menjalani hemodialisis. Kegiatan berlangsung dengan baik dan peserta menunjukkan antusiasme melalui pertanyaan serta tanggapan selama sesi diskusi. Hal tersebut sejalan dengan indikator kegiatan yang menargetkan adanya partisipasi aktif dan peningkatan pemahaman peserta mengenai RLS.
Penulis: Angelica Ismaylin





