Belajar Jadi Orang Tua Hebat: “School of Parents” Hidupkan Semangat Pola Asuh di Desa Ngembat

NERS NEWS — Gondang, Mojokerto, 18 Juli 2026 — Suasana Balai Desa Ngembat, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, tampak hangat oleh antusiasme ibu-ibu PKK setempat pada Sabtu sore, 18 Juli 2026. Selama dua jam, pukul 15.00–17.00 WIB, mereka mengikuti kegiatan “School of Parents”, salah satu rangkaian program Berdaya 2026 yang digagas oleh BEM Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga sebagai wujud kontribusi mahasiswa dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta poin 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Kegiatan yang mengangkat tema pola asuh anak ini berlangsung dengan pendampingan langsung dari Kepala Desa Ngembat hingga acara usai.

Acara dipandu oleh Dicky Rochmat dan diawali dengan doa bersama serta lagu Indonesia Raya, sebelum dilanjutkan dengan rangkaian sambutan dari Kak Imas selaku Ketua Pelaksana Berdaya 2026, Kak Dwi Nur Fauziah selaku Menteri Sosial Masyarakat BEM Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga, dan Kepala Desa Ngembat. Dalam sambutannya, Kepala Desa menekankan peran sentral seorang ibu sebagai pendidik pertama bagi anak, sekaligus mengingatkan agar tanggung jawab pembentukan karakter anak tidak sepenuhnya diserahkan kepada sekolah, karena fondasi karakter anak sesungguhnya bermula dari rumah dan sosok ibu.

Materi inti kemudian disampaikan oleh dua mahasiswa Airlangga Space, Salsabila Anugrah Pratiwi dan Shabrina Putri Mardhita. Keduanya membuka sesi dengan sikap rendah hati, menegaskan bahwa forum ini adalah ruang belajar bersama, bukan ajang menggurui, mengingat mereka sendiri belum menyandang peran sebagai orang tua. Diskusi pun berlangsung santai namun mendalam, mengupas empat kunci utama pola asuh anak, yaitu manajemen waktu, pengajaran positif, kedisiplinan, dan komunikasi dari hati ke hati.

Salah satu topik yang paling menyita perhatian peserta adalah teori social learning, yang menjelaskan bahwa anak cenderung meniru kebiasaan dari lingkungan terdekatnya, termasuk orang tua. Sebagai ilustrasi, Salsabila mencontohkan situasi ketika orang tua menyuruh anak belajar namun masih asyik bermain gawai, sehingga anak akan menangkap ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan tersebut.

Sesi tidak berhenti pada penyampaian konsep, sebab peserta juga diajak langsung mempraktikkan sejumlah kebiasaan pola asuh, mulai dari membangun jadwal harian yang konsisten, menerapkan sistem “kerjakan dulu, baru boleh bermain” untuk melatih kemampuan menunda kepuasan atau delayed gratification pada anak, hingga memberikan pilihan terbatas kepada anak agar mereka merasa memiliki kendali dan tidak sekadar menerima perintah. Selain itu, peserta juga dibekali strategi tambahan seperti penggunaan jadwal visual, pembatasan waktu penggunaan gawai, serta penyesuaian pola asuh sesuai tahapan usia anak, mulai dari usia dini hingga remaja. Sebagai penutup sesi materi, panitia menghadirkan simulasi peran atau roleplay yang melibatkan peserta secara langsung, menggambarkan dua respons berbeda seorang ibu saat menghadapi anak yang meminta jajan di luar rencana, satu mencontohkan komunikasi yang kurang tepat dan satu lagi menunjukkan pendekatan yang lebih positif.

Semangat peserta juga tercermin dari banyaknya pertanyaan yang mengalir pada sesi tanya jawab, hingga panitia memberikan penghargaan kepada dua peserta teraktif, yaitu Ibu Suartina dan Ibu Martini. Kak Imas menyampaikan harapannya agar ilmu yang dibagikan dapat langsung diterapkan di rumah masing-masing, sehingga pola asuh anak yang lebih sehat dan positif terus tumbuh di lingkungan desa. Melalui semangat kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat inilah, kegiatan Berdaya 2026 diharapkan dapat terus memberikan dampak positif bagi masyarakat desa, khususnya dalam mendukung orang tua membangun pola asuh anak yang lebih baik.

Penulis: Putri Melinda Nuraini (Sekretaris 2)