
NERS NEWS — Mahasiswa Profesi Ners Universitas Airlangga kelompok stase Keperawatan Gerontik mengadakan kegiatan penyuluhan kesehatan bertema “Benarkah Minum Obat Darah Tinggi Bisa Membuat Gagal Ginjal?” pada Jumat, 28 Agustus 2026 di ruang tunggu Farmasi Rumah Sakit Khusus Infeksi Universitas Airlangga. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga mengenai hubungan antara hipertensi, penggunaan obat antihipertensi, dan kesehatan ginjal, sekaligus meluruskan anggapan bahwa konsumsi obat darah tinggi dalam jangka panjang dapat menyebabkan gagal ginjal.
Kegiatan penyuluhan kesehatan ini berfokus pada peningkatan pemahaman pasien dan keluarga mengenai hipertensi sebagai salah satu masalah kesehatan yang sering ditemukan di masyarakat. Hipertensi sering kali tidak menimbulkan gejala yang khas sehingga seseorang dapat tidak menyadari bahwa tekanan darahnya berada di atas batas normal. Apabila tidak dikendalikan dalam jangka panjang, hipertensi dapat meningkatkan risiko kerusakan berbagai organ tubuh, termasuk ginjal.
Dalam kegiatan tersebut, peserta diberikan edukasi mengenai fungsi ginjal dalam menyaring darah, membuang zat sisa metabolisme, mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit, serta membantu menjaga tekanan darah. Tekanan darah yang tinggi secara terus-menerus dapat memberikan beban pada pembuluh darah ginjal dan menyebabkan kerusakan fungsi ginjal secara bertahap. Oleh karena itu, pengendalian tekanan darah menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga kesehatan ginjal.
Materi penyuluhan juga membahas penggunaan obat antihipertensi secara tepat dan aman. Peserta diberikan pemahaman bahwa obat darah tinggi digunakan untuk membantu mengontrol tekanan darah serta menurunkan risiko komplikasi akibat hipertensi. Anggapan bahwa obat antihipertensi secara umum menyebabkan gagal ginjal perlu diluruskan, karena hipertensi yang tidak terkontrol justru dapat berkontribusi terhadap terjadinya kerusakan ginjal.
Meskipun demikian, penggunaan obat antihipertensi tetap memerlukan pengawasan tenaga kesehatan. Beberapa jenis obat dapat memengaruhi fungsi ginjal atau kadar elektrolit pada kondisi tertentu sehingga penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi pasien dan dipantau melalui pemeriksaan yang dianjurkan. Peserta juga diingatkan untuk tidak mengurangi dosis, melewatkan jadwal minum obat, ataupun menghentikan pengobatan secara mandiri meskipun tekanan darah sudah terasa membaik.
Penyuluhan dilaksanakan di ruang tunggu Farmasi Rumah Sakit Khusus Infeksi Universitas Airlangga sehingga peserta dapat memperoleh edukasi sambil menunggu pelayanan obat. Materi disampaikan menggunakan media presentasi dan leaflet dengan bahasa yang sederhana agar informasi mengenai hipertensi, obat antihipertensi, dan kesehatan ginjal dapat dipahami dengan mudah oleh pasien maupun keluarga.
Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme dengan memperhatikan materi yang disampaikan dan aktif mengajukan pertanyaan. Beberapa pertanyaan yang dibahas berkaitan dengan keamanan penggunaan obat darah tinggi dalam jangka panjang, hubungan antara hipertensi dan kerusakan ginjal, serta pentingnya mengonsumsi obat sesuai resep dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Kegiatan ini menjadi salah satu upaya mahasiswa Profesi Ners Universitas Airlangga dalam meningkatkan literasi kesehatan pasien dan keluarga. Melalui pemberian informasi yang tepat, peserta diharapkan mampu memahami pentingnya pengendalian tekanan darah dan tidak menghentikan pengobatan secara mandiri akibat kekhawatiran yang tidak tepat mengenai efek obat terhadap ginjal.
Dengan adanya penyuluhan ini, pasien dan keluarga diharapkan dapat lebih bijak dalam menggunakan obat antihipertensi, mengikuti anjuran tenaga kesehatan, serta melakukan pemantauan tekanan darah dan kondisi kesehatan secara berkala. Pengelolaan hipertensi yang tepat diharapkan dapat membantu mencegah komplikasi dan mempertahankan kesehatan jantung, pembuluh darah, serta ginjal.
Kegiatan ini mendukung beberapa tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu:
SDGs 3: Good Health and Well-Being (Kehidupan Sehat dan Sejahtera)
Penyuluhan kesehatan ini berkontribusi dalam meningkatkan derajat kesehatan pasien dan keluarga melalui edukasi mengenai hipertensi, penggunaan obat antihipertensi yang tepat, serta pencegahan komplikasi pada ginjal. Peningkatan pengetahuan diharapkan dapat mendorong pasien untuk mematuhi pengobatan, melakukan pemantauan tekanan darah, dan menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala.
SDGs 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas)
Kegiatan penyuluhan merupakan bentuk pendidikan kesehatan yang memberikan informasi berbasis ilmiah kepada pasien dan keluarga mengenai hipertensi, penggunaan obat antihipertensi, serta kesehatan ginjal. Edukasi ini diharapkan dapat meningkatkan literasi kesehatan sehingga pasien mampu memahami kondisi kesehatannya dan mengambil keputusan yang tepat dalam menjalankan pengobatan.
Melalui kegiatan penyuluhan kesehatan di ruang tunggu Farmasi Rumah Sakit Khusus Infeksi Universitas Airlangga, diharapkan pasien dan keluarga semakin memahami hubungan antara hipertensi, penggunaan obat antihipertensi, dan kesehatan ginjal. Informasi yang diberikan diharapkan dapat meluruskan persepsi bahwa obat darah tinggi secara umum menyebabkan gagal ginjal serta mendorong pasien untuk tidak menghentikan atau mengubah pengobatan secara mandiri.
Pengendalian tekanan darah melalui kepatuhan minum obat sesuai anjuran tenaga kesehatan, penerapan pola hidup sehat, dan pemeriksaan kesehatan secara berkala merupakan langkah penting untuk mencegah komplikasi hipertensi. Edukasi kesehatan yang berkelanjutan diharapkan dapat meningkatkan kesadaran pasien dalam menjaga kesehatan dan mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan di bidang kesehatan.
Penulis: Adinda Safitri





