NERS NEWS — Surabaya – Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga melaksanakan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) bertajuk Kartu Stimulasi Mengelola Amarah secara Responsif dan Terarah (KARTU SMART) bagi pasien Risiko Perilaku Kekerasan (RPK) di Ruang Gelatik Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya pada 16–17 Juni 2026. Kegiatan ini bertujuan membantu pasien mengontrol emosi marah melalui komunikasi verbal yang baik, adaptif, dan tidak agresif.
TAK KARTU SMART merupakan inovasi terapi kelompok yang menggunakan media kartu berisi berbagai skenario situasi pemicu kemarahan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui metode diskusi, simulasi, dan role play, peserta diajak untuk melatih kemampuan mengungkapkan perasaan, meminta bantuan, serta menolak permintaan orang lain dengan cara yang sopan dan asertif.
Kegiatan ini melibatkan mahasiswa Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga dengan sasaran pasien Risiko Perilaku Kekerasan di Ruang Gelatik RSJ Menur Surabaya. Pelaksanaan kegiatan berlangsung selama kurang lebih 30–45 menit dan diikuti oleh enam pasien sesuai arahan penanggung jawab ruangan. Selama kegiatan, sebagian besar peserta menunjukkan antusiasme, mampu mengikuti instruksi, dan berpartisipasi aktif dalam setiap sesi terapi.
Penyelenggaraan TAK KARTU SMART bertujuan meningkatkan kemampuan pasien dalam mengenali pemicu amarah, mengontrol emosi, serta mengembangkan keterampilan komunikasi asertif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk intervensi keperawatan jiwa yang inovatif dan humanis dalam mendukung proses pemulihan pasien.
Selain memberikan manfaat bagi pasien, kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 3: Good Health and Well-Being melalui upaya peningkatan kesehatan jiwa serta SDGs 4: Quality Education melalui implementasi pembelajaran klinik dan pengembangan kompetensi mahasiswa keperawatan.
Secara keseluruhan, TAK KARTU SMART berjalan dengan baik dan memberikan pengalaman positif bagi peserta maupun mahasiswa profesi. Diharapkan kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sebagai media terapi inovatif dalam meningkatkan kemampuan komunikasi, kontrol emosi, serta kualitas hidup pasien gangguan jiwa.
Penulis: Rendra Wahyu Ismawan





