Kelompok 6 Stase KMB Ajak Keluarga Pasien Kenali Gejala dan Bahaya Tumor Otak

NERS NEWS — Sakit kepala yang tak kunjung membaik, kejang yang muncul tiba-tiba, gangguan penglihatan, hingga perubahan kesadaran sering kali dianggap sebagai keluhan biasa. Padahal, perubahan neurologis tertentu perlu mendapat perhatian dan pemeriksaan lebih lanjut. Berangkat dari pentingnya meningkatkan kewaspadaan tersebut, Kelompok 6 Stase Keperawatan Medikal Bedah (KMB) Praktik Profesi Pendidikan Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga melaksanakan kegiatan Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) bertajuk “Waspada Gejala dan Kenali Bahaya Tumor Otak” pada Jumat, 25 September 2026 di IRNA 3 Rumah Sakit Universitas Airlangga. Kegiatan ini ditujukan kepada keluarga pasien untuk meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan mengenai gejala serta bahaya tumor otak melalui edukasi interaktif menggunakan PowerPoint (PPT) dan leaflet.

Kegiatan ini menyasar keluarga pasien sebagai orang terdekat yang memiliki peran penting dalam mendampingi dan mengamati perubahan kondisi pasien selama menjalani perawatan. Sebanyak 16 peserta hadir dalam kegiatan tersebut, melebihi target awal yang ditetapkan sebanyak 10 peserta. Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan ketika tim edukator mengajak peserta mengikuti sesi brainstorming untuk menggali pemahaman awal mengenai tumor otak. “Kalau sakit kepala terus-menerus, apakah selalu berarti tumor otak?” menjadi salah satu pertanyaan yang mengantarkan peserta pada pembahasan bahwa gejala tertentu tidak dapat langsung digunakan untuk menentukan diagnosis. Melalui edukasi ini, peserta diajak untuk memahami bahwa berbagai keluhan neurologis dapat memiliki banyak penyebab sehingga diperlukan pemeriksaan oleh tenaga kesehatan untuk mengetahui kondisi yang mendasarinya.

Materi kemudian disampaikan secara interaktif menggunakan PowerPoint (PPT) dan diperkuat dengan leaflet yang dapat dibawa pulang oleh peserta. Pembahasan mencakup pengertian tumor otak, faktor risiko, tanda dan gejala yang perlu diwaspadai, bahaya yang dapat ditimbulkan, pemeriksaan, penanganan secara umum, serta kapan seseorang perlu mencari pertolongan tenaga kesehatan. Penyampaian materi dilakukan menggunakan bahasa yang sederhana agar informasi dapat diterima dengan baik oleh keluarga pasien. Salah satu fokus utama edukasi adalah membantu keluarga mengenali tanda-tanda peringatan yang membutuhkan perhatian, seperti sakit kepala yang semakin berat atau menetap, kejang yang baru muncul, gangguan penglihatan, gangguan bicara, kelemahan anggota tubuh, gangguan keseimbangan, maupun perubahan kesadaran. Peserta juga diberikan pemahaman bahwa kewaspadaan bukan berarti melakukan diagnosis sendiri, tetapi mengenali perubahan kondisi dan mengetahui kapan harus berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Suasana kegiatan semakin interaktif ketika peserta diberikan kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi. Tidak hanya menyampaikan informasi secara satu arah, tim edukator menggunakan metode teach-back dengan meminta peserta menjelaskan kembali tanda dan gejala yang perlu diwaspadai serta langkah yang sebaiknya dilakukan apabila menemukannya. Metode tersebut menjadi bagian dari evaluasi untuk melihat sejauh mana informasi dapat dipahami dan diingat oleh peserta. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung secara kondusif dan komunikatif dengan peserta yang aktif mengikuti penyampaian materi, diskusi, serta evaluasi.

Lebih dari sekadar menyampaikan informasi mengenai tumor otak, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun literasi kesehatan keluarga. Keluarga tidak hanya berperan sebagai pendamping pasien, tetapi juga dapat menjadi pihak yang membantu mengenali perubahan kondisi dan mendorong pasien mendapatkan pemeriksaan ketika ditemukan keluhan yang memerlukan perhatian. Peningkatan pengetahuan tersebut diharapkan dapat membantu keluarga mengambil langkah yang tepat tanpa melakukan diagnosis maupun penanganan secara mandiri.

Kegiatan ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Good Health and Well-Being (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui upaya promotif dan preventif dalam meningkatkan pengetahuan serta kesadaran masyarakat mengenai kesehatan. Edukasi yang diberikan juga mendukung SDG 4: Quality Education (Pendidikan Bermutu) melalui proses pembelajaran kesehatan yang interaktif, mudah dipahami, dan melibatkan peserta secara aktif. Melalui edukasi kesehatan, keluarga diharapkan memiliki bekal pengetahuan untuk mengenali perubahan kondisi kesehatan dan memahami pentingnya mencari pertolongan tenaga kesehatan secara tepat.

Melalui kegiatan “Waspada Gejala dan Kenali Bahaya Tumor Otak”, Kelompok 6 Stase KMB Praktik Profesi Pendidikan Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga berupaya menghadirkan edukasi kesehatan yang informatif, interaktif, dan dekat dengan kebutuhan keluarga pasien. Diharapkan, setelah mengikuti kegiatan ini, keluarga tidak hanya membawa pulang leaflet, tetapi juga membawa pemahaman bahwa mengenali perubahan kondisi lebih awal dan mengetahui kapan harus mencari pertolongan merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan.

Penulis: Latifatur Rohma