
NERS NEWS – Surabaya, 19 Februari 2026 – Kelompok 6 Stase Profesi Keperawatan Dasar (PKD), Mahasiswa Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga menggelar kegiatan penyuluhan kesehatan bertajuk pencegahan penularan tuberkulosis (TBC) paru di Ruang IRNA 4A Graha Trimed Rumah Sakit Universitas Airlangga, Kamis (19/2/2026) pukul 10.00 WIB. Kegiatan ini menyasar keluarga pasien serta pasien yang sedang menjalani perawatan sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan keterlibatan dalam memutus rantai penularan TBC.
Kegiatan penyuluhan dilaksanakan secara terpusat di area ruang mahasiswa untuk keluarga pasien, kemudian dilanjutkan dengan edukasi langsung kepada pasien di masing-masing ruangan. Penyuluhan dipandu oleh Master of Ceremony Mohammad Ferdy Arrosyd dan menghadirkan Salsabilla Widyaningtyas serta Lilis Syarifah Aini sebagai pemateri. Metode yang digunakan meliputi ceramah, diskusi, dan tanya jawab interaktif dengan memanfaatkan media poster dan leaflet.
Pemateri menyampaikan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh masih tingginya angka kasus TBC di Indonesia, yang termasuk negara dengan beban TBC tinggi. Selain itu, masih terdapat kesenjangan dalam penemuan kasus serta kepatuhan pengobatan yang berpotensi meningkatkan risiko penularan.
“Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang dapat dicegah dan disembuhkan. Namun, kurangnya pengetahuan keluarga dan pasien mengenai cara penularan serta pencegahan menjadi tantangan utama dalam pengendalian kasus,” ujar Salsabilla saat memaparkan materi di hadapan peserta.
Dalam penyuluhan tersebut dijelaskan bahwa TBC menular melalui udara (airborne) saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Pemateri menekankan pentingnya penggunaan masker, penerapan etika batuk yang benar, menjaga ventilasi rumah, serta kepatuhan minum obat anti tuberkulosis (OAT).
Setelah sesi bersama keluarga, tim mahasiswa mendatangi kamar pasien satu per satu untuk memberikan edukasi secara langsung dan personal. Edukasi di ruang perawatan dilakukan dengan pendekatan komunikatif agar pasien lebih memahami pentingnya kepatuhan terapi dan pencegahan penularan.
Lilis Syarifah Aini menegaskan pentingnya peran pasien dalam proses penyembuhan. “Bapak dan Ibu tidak perlu merasa dikucilkan. Yang terpenting adalah minum obat secara teratur dan menerapkan etika batuk dan cuci tangan. Jika pengobatan dijalani dengan patuh, risiko penularan akan menurun,” jelasnya saat memberikan penjelasan di salah satu ruangan pasien.
Kegiatan berlangsung tertib dan mendapat respons positif dari keluarga maupun pasien. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap pasien dan keluarga mampu memahami faktor risiko penularan, menerapkan langkah pencegahan sederhana di rumah, serta mendukung program keselamatan pasien di rumah sakit. Pihak rumah sakit turut mendukung kegiatan edukasi ini sebagai bagian dari peningkatan mutu pelayanan dan keselamatan pasien.
Penulis: Fadhilatur Rahma Annurriza
Editor: Nasya Puspita A (Airlangga Nursing Journalist)





