Mahasiswa Profesi Ners FKp Unair Edukasi Masyarakat tentang Deteksi Dini Demam Berdarah Dengue di Puskesmas Kenjeran

NERS NEWS — Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga (FKp Unair) melaksanakan kegiatan edukasi kesehatan mengenai “Deteksi Dini Demam Berdarah Dengue (DBD): Kenali Gejala, Cegah Bahaya” kepada pasien, pengunjung, dan keluarga pasien di Ruang Tunggu Rawat Jalan Puskesmas Kenjeran Surabaya.

Kegiatan yang dilaksanakan oleh Kelompok 2 ini merupakan bagian dari kegiatan Promosi Kesehatan Rumah Sakit/Puskesmas (PKRS) selama praktik klinik Program Pendidikan Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga. Edukasi dilaksanakan melalui metode ceramah dan diskusi interaktif dengan menggunakan media poster dan leaflet.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai DBD, khususnya dalam mengenali tanda dan gejala sejak dini serta mengetahui tanda bahaya yang membutuhkan penanganan medis segera. Peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya pencegahan DBD melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), 3M Plus, dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

Dalam penyampaian materi, mahasiswa menjelaskan bahwa DBD merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Masyarakat juga dikenalkan dengan berbagai gejala awal, seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri di belakang bola mata, nyeri otot dan sendi, mual dan muntah, munculnya ruam atau bintik kemerahan, serta badan terasa lemas.

Selain mengenali gejala awal, peserta diberikan edukasi mengenai tanda bahaya DBD yang perlu segera mendapatkan pertolongan medis. Tanda tersebut antara lain nyeri perut hebat dan terus-menerus, muntah terus-menerus, perdarahan pada gusi atau hidung, muntah darah atau buang air besar berwarna hitam, lemas berat atau gelisah, tangan dan kaki terasa dingin, penurunan kesadaran, serta kesulitan bernapas.

Mahasiswa menekankan bahwa deteksi dini sangat penting untuk mempercepat diagnosis dan pemantauan kondisi pasien serta mencegah terjadinya komplikasi. DBD yang terlambat ditangani dapat menyebabkan kondisi serius seperti syok dengue, perdarahan berat, gangguan fungsi hati, gangguan ginjal, gangguan fungsi jantung, hingga kematian.

Pada sesi pencegahan, peserta diajak untuk menerapkan 3M Plus sebagai salah satu upaya memutus rantai penularan DBD. Langkah 3M meliputi menguras tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat tempat penampungan air, serta mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Sementara itu, langkah Plus dapat dilakukan dengan menggunakan obat atau losion antinyamuk, memasang kawat kasa, menggunakan kelambu, memelihara ikan pemakan jentik, melakukan pemeriksaan jentik secara berkala, serta menjaga kebersihan lingkungan.

Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya dan menyampaikan pemahamannya mengenai DBD. Melalui edukasi ini, mahasiswa berharap masyarakat tidak hanya mampu mengenali gejala DBD sejak dini, tetapi juga memiliki kesadaran untuk melakukan pencegahan secara mandiri maupun bersama-sama di lingkungan tempat tinggal.

Kegiatan edukasi kesehatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat serta mendukung upaya promotif dan preventif di tingkat pelayanan kesehatan primer.

Penulis: Ilma Amalia Kartika