
NERS NEWS – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Kelompok 1 Angkatan B27 Stase Keperawatan Maternitas telah melaksanakan kegiatan PKRS pada pukul 09.00 hari kamis, 21 Mei 2026. Kegiatan ini diselenggarakan secara langsung di Ruang Merpati Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo Surabaya.
PKRS ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan praktik profesi Ners yang bertujuan untuk memenuhi kompetensi mahasiswa. Selain itu, kegiatan ini bertujuan agar ibu hamil dan keluarga mampu memahami pentingnya mengenali tanda bahaya preeklamsia pada kehamilan sehingga dapat melakukan deteksi dini dan segera mencari pertolongan kesehatan apabila muncul tanda dan gejala yang berbahaya.
Preeklamsia merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu di Indonesia setelah perdarahan. Upaya pencegahan kematian ibu, khususnya selama masa kehamilan dan persalinan, menjadi perhatian baik secara nasional maupun global. Salah satu target Sustainable Development Goals (SDGs) adalah menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi kurang dari 70 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2030 (Badan Pusat Statistik, 2022).
Insiden preeklamsia di Indonesia mencapai sekitar 128.273 kasus per tahun atau sekitar 5,3% dari seluruh kehamilan (Kemenkes RI, 2017). Preeklamsia merupakan kondisi spesifik pada kehamilan yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah disertai gangguan organ akibat disfungsi plasenta dan respon inflamasi sistemik pada tubuh ibu.
Salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga mengenai tanda bahaya preeklamsia adalah melalui kegiatan Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS). Pada kegiatan ini, edukasi diberikan menggunakan media leaflet agar materi lebih mudah dipahami oleh pasien dan keluarga. Diharapkan media edukasi tersebut dapat membantu meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai tanda bahaya preeklamsia dan pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin.
Penyuluhan ini, mahasiswa menyampaikan beberapa materi mengenai tanda bahaya preeklamsia pada kehamilan diantaranya pengertian preeklamsia, tanda dan gejala, faktor risiko, macam-macam preeklamsia, dampak preeklamsia bagi ibu hamil dan janinnya, cara pencegahan, serta penanganan preeklamsia pada kehamilan. Tanda bahaya preeklamsia yang dijelaskan meliputi tekanan darah tinggi, adanya protein dalam urin, berat badan naik secara tiba-tiba, pembengkakan pada tubuh, sakit kepala gangguan penglihatan mual muntah dan nyeri ulu hati, gerakan janin berkurang atau pertumbuhan janin terhambat, trombosit menurun.
Kegiatan ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ketiga, yaitu menjamin kehidupan yang sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua usia. Melalui edukasi kesehatan ini, diharapkan ibu hamil dapat lebih waspada terhadap kondisi kehamilan dan mampu mengenali tanda bahaya sedini mungkin sehingga komplikasi yang lebih berat dapat dicegah.
Salah satu anggota kelompok, Amiliyah, menyampaikan pentingnya edukasi mengenai tanda bahaya preeklamsia pada kehamilan. “Preeklamsia dapat membahayakan ibu maupun janin apabila tidak ditangani dengan cepat. Melalui edukasi ini, kami berharap ibu hamil dan keluarga dapat lebih memahami tanda bahaya preeklamsia sehingga dapat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala tersebut,” ujarnya.
Ibu hamil dan keluarga yang hadir terlihat menyimak materi dengan baik dan antusias selama kegiatan berlangsung. Hal ini terlihat dari keaktifan peserta dalam mengajukan pertanyaan selama sesi diskusi. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan ibu hamil semakin memahami pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin serta mampu mengenali tanda bahaya preeklamsia demi menjaga kesehatan ibu dan janin.
Penulis: Luluk Mursidah Mukhofi
Editor: Farah Dina Azizatul Aulia (Airlangga Nursing Journalist)





