Pencegahan Infeksi dan Perawatan Luka Operasi di Ruang Rawat Inap

NERS NEWS — Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Ners Kelompok 2 Angkatan 49 Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga sukses melaksanakan kegiatan Pendidikan Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) dalam rangkaian Stase Keperawatan Medikal Bedah di IRNA 3 Rumah Sakit Universitas Airlangga pada Jum’at, 28 Agustus 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WIB ini mengangkat tema “Pencegahan Infeksi dan Perawatan Luka Operasi di Ruang Rawat Inap” dan diikuti oleh 10 peserta yang terdiri dari keluarga pasien. Kegiatan ini didampingi oleh Wahyuni Tri Lestari, S.Kep., Ns., M.Kep. selaku dosen pembimbing akademik dan Yevi Dwi L, S.Kep., Ns. selaku pembimbing klinik IRNA 3.

Adapun kegiatan penyuluhan ini disampaikan oleh 2 pemateri perwakilan dari kelompok dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan peserta mengenai pengertian luka operasi, proses penyembuhan luka, tanda-tanda infeksi, faktor yang memengaruhi terjadinya infeksi, serta cara mencegah dan menangani infeksi pada luka operasi. Pemateri menjelaskan bahwa luka operasi merupakan luka insisi yang dibuat secara sengaja dalam prosedur pembedahan untuk tujuan diagnostik maupun terapeutik. Proses penyembuhan luka berlangsung melalui empat fase, yaitu hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan maturasi atau remodeling.

Dalam kegiatan ini, pemateri juga menjelaskan bahwa infeksi pada luka operasi dapat menyebabkan proses penyembuhan menjadi lebih lama. Infeksi dapat menimbulkan peradangan berlebihan dan kerusakan jaringan, sehingga luka dapat mengalami peningkatan nyeri dan pembengkakan, mengeluarkan cairan atau nanah, serta menyebabkan tepi luka terpisah. Peserta diberikan pemahaman mengenai Infeksi Luka Operasi atau Surgical Site Infection (SSI) yang dapat terjadi pada kulit, jaringan di bawah kulit, organ atau ruang tubuh yang terlibat dalam operasi, maupun material atau implan yang dipasang selama tindakan tertentu.

Metode penyuluhan dilakukan secara interaktif melalui ceramah, diskusi, dan tanya jawab, serta menggunakan media edukasi berupa leaflet dan poster. Pendekatan ini bertujuan untuk memudahkan peserta memahami materi yang diberikan sekaligus memberikan kesempatan kepada pasien dan keluarga untuk menyampaikan pertanyaan maupun pengalaman terkait perawatan luka operasi.

Pemateri juga memberikan edukasi mengenai tanda-tanda infeksi yang dapat diingat melalui singkatan “BENGKAK”, yaitu Bengkak, Eritema atau kemerahan, Nyeri bertambah, Getah atau nanah keluar, Kulit terasa hangat, Aroma tidak sedap, dan Kondisi badan demam. Selain itu, dijelaskan pula faktor yang dapat memengaruhi terjadinya infeksi dengan singkatan “SEHAT”, yaitu Status gizi, Eksisting disease atau penyakit penyerta, Higiene, Aktivitas berlebihan, dan Teknik perawatan yang benar.

Untuk membantu peserta mengingat langkah pencegahan infeksi, pemateri memperkenalkan singkatan “AMAN”, yaitu Atur kebersihan, Makan makanan tinggi protein, Amati kondisi luka, dan No Sentuh atau tidak menyentuh luka maupun membuka balutan tanpa arahan tenaga kesehatan. Peserta juga diberikan pemahaman bahwa apabila muncul tanda-tanda infeksi seperti kemerahan yang semakin luas, bengkak, nyeri yang semakin berat, keluar cairan atau nanah, maupun demam, pasien dan keluarga perlu segera melaporkannya kepada perawat atau dokter.

Selain memberikan manfaat langsung bagi peserta penyuluhan, kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 3 tentang Good Health and Well-Being (Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan) serta SDGs 4 tentang Quality Education (Pendidikan Bermutu). Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai calon tenaga kesehatan, tetapi juga sebagai agen edukasi yang membantu meningkatkan kemampuan pasien dan keluarga dalam menjaga kesehatan serta mencegah komplikasi setelah tindakan pembedahan.

Dengan adanya penyuluhan ini, diharapkan pasien dan keluarga semakin mampu memahami pentingnya menjaga kebersihan tangan, memenuhi kebutuhan nutrisi terutama protein, mengamati kondisi luka secara berkala, serta menghindari tindakan yang dapat menyebabkan kontaminasi pada luka. Pasien dan keluarga juga diharapkan mampu mengenali tanda-tanda infeksi sejak dini dan mengetahui kapan harus segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Kelompok berharap kegiatan edukasi kesehatan mengenai pencegahan infeksi luka operasi tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi dapat dilakukan secara berkesinambungan. Pemberian edukasi yang konsisten diharapkan dapat memperkuat pemahaman pasien dan keluarga mengenai perawatan luka yang tepat, meningkatkan kesadaran dalam mencegah infeksi, serta membantu mempercepat proses penyembuhan dan mengurangi risiko komplikasi. Dengan demikian, kegiatan edukasi kesehatan dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pelayanan dan kesehatan pasien.

Penulis: Ade Capri Surya Saputra