
NERS NEWS — Surabaya, 9 September 2026 — Tanggal 9 September 2026, pukul 08.30 WIB, sekitar 25 peserta yang merupakan masyarakat pengguna layanan kesehatan mulai berkumpul untuk mengikuti kegiatan Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) dengan tema “SENADI (Senam Kaki Diabetes untuk Mencegah Neuropati): Edukasi Pencegahan Neuropati Diabetik melalui Senam Kaki Diabetes.” Kegiatan ini digagas oleh Kelompok 3 Stase Komunitas dan Keluarga Gelombang 2, Program Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga, dengan bimbingan akademik Dr. Eka Mishbahatul M.H., S.Kep., Ns., M.Kep. serta pembimbing klinik Waji, S.Kep., Ns.
Tujuan utama penyuluhan ini sebenarnya sederhana, tapi dampaknya besar: mengajak peserta memahami diabetes melitus, neuropati diabetik, dan yang paling penting—bisa mempraktikkan senam kaki diabetes dengan benar. Bukan cuma tahu teorinya, peserta juga diajak langsung mencoba gerakannya. Materi yang disampaikan meliputi pengertian diabetes melitus, neuropati diabetik, tanda dan gejala awal, cara pencegahan, hingga langkah-langkah senam kaki diabetes. Media leaflet turut dibagikan agar peserta bisa membaca ulang dan mempraktikkannya di rumah.

Suasana penyuluhan berlangsung hangat dan interaktif. Peserta tidak hanya duduk mendengarkan, tetapi aktif bertanya dan berdiskusi. Saat sesi demonstrasi, mereka ikut menggerakkan kaki: jari-jari diluruskan lalu dibengkokkan seperti cakar ayam, tumit diangkat, pergelangan kaki diputar, sampai latihan menggunakan koran yang dibentuk bola dengan kedua kaki. Ada yang tertawa karena gerakannya terasa lucu, ada pula yang serius memperhatikan agar tidak salah gerakan. Pemateri, Aulia Fachrun Nisa’ dan Dita Rusiana, dengan sabar memandu setiap gerakan, ditemani moderator Fianita Fitri Sa’idah serta dukungan observer, fasilitator, dokumentasi, dan perlengkapan dari anggota kelompok.
Hasilnya? Peserta mampu menjelaskan kembali pengertian diabetes melitus dan neuropati diabetik secara sederhana, menyebutkan tujuan pencegahan neuropati diabetik dan senam diabetes, serta mendemonstrasikan senam kaki diabetes. Antusiasme peserta terlihat jelas dari banyaknya pertanyaan yang muncul dan keaktifan mereka saat sesi tanya jawab. Output kegiatan ini bukan sekadar pengetahuan yang bertambah, tetapi juga keterampilan yang bisa langsung dipraktikkan di rumah. Dengan senam kaki yang rutin, sirkulasi darah di kaki diharapkan lebih lancar, risiko kelainan bentuk kaki menurun, nyeri berkurang, dan kadar gula darah lebih terkontrol.

Kegiatan yang berjalan lancar ini menjadi pengingat kecil bahwa langkah sederhana—menggerakkan kaki secara teratur—bisa membantu mencegah komplikasi serius pada penderita diabetes. Melalui SENADI, warga Kalijudan diajak untuk tidak hanya peduli pada penyakitnya, tetapi juga pada perawatan dirinya sendiri. Semoga kebiasaan baik ini terus berlanjut, tidak berhenti di ruang penyuluhan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Penulis: Hosea Darmawan





