Edukasi Perawatan Bayi dengan Hiperbilirubin di Rumah bagi Keluarga Pasien

NERS NEWS — Pada hari Minggu, 24 Mei 2026, telah dilaksanakan kegiatan penyuluhan kesehatan dengan tema “Perawatan pada Bayi dengan Hiperbilirubin di Rumah” yang bertempat di ruang tunggu ruang perina Rumah Sakit Universitas Airlangga. Kegiatan ini dihadiri oleh keluarga pasien yang sedang mendampingi bayi menjalani perawatan di ruang perina. Penyuluhan dilakukan sebagai bentuk upaya promotif dan preventif dalam meningkatkan pengetahuan keluarga mengenai perawatan bayi hiperbilirubin setelah kembali ke rumah.

Hiperbilirubin merupakan kondisi meningkatnya kadar bilirubin dalam darah bayi yang ditandai dengan perubahan warna kulit dan sklera mata menjadi kekuningan. Kondisi ini umum terjadi pada neonatus, terutama pada minggu pertama kehidupan. Meskipun sebagian besar kasus bersifat fisiologis, hiperbilirubin tetap memerlukan perhatian khusus karena apabila tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan komplikasi serius pada bayi. Oleh karena itu, keluarga sebagai pendamping utama bayi di rumah perlu memiliki pemahaman yang baik mengenai tanda, perawatan, serta langkah penanganan awal yang tepat.

Dalam kegiatan penyuluhan ini, materi disampaikan secara komunikatif dan interaktif oleh petugas kesehatan kepada keluarga pasien. Edukasi yang diberikan meliputi pengertian hiperbilirubin, penyebab terjadinya ikterus pada bayi, tanda dan gejala yang perlu diwaspadai, pentingnya pemberian ASI secara adekuat, pemantauan kondisi bayi di rumah, hingga kapan bayi perlu segera dibawa kembali ke fasilitas pelayanan kesehatan. Selain itu, peserta juga diberikan penjelasan mengenai pentingnya menjaga suhu tubuh bayi, memperhatikan frekuensi buang air kecil dan buang air besar, serta melakukan kontrol sesuai jadwal yang telah dianjurkan oleh tenaga kesehatan.

Pelaksanaan penyuluhan berlangsung dengan suasana yang kondusif dan mendapat respons positif dari para peserta. Keluarga pasien tampak antusias mengikuti kegiatan, terlihat dari adanya interaksi aktif melalui sesi tanya jawab dan diskusi terkait pengalaman merawat bayi dengan kondisi kuning di rumah. Beberapa peserta juga menyampaikan kekhawatiran mereka mengenai tanda bahaya hiperbilirubin dan cara memastikan bayi mendapatkan asupan nutrisi yang cukup. Melalui diskusi tersebut, tenaga kesehatan memberikan penjelasan yang mudah dipahami sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesiapan keluarga dalam melakukan perawatan mandiri di rumah.

Kegiatan penyuluhan ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan kesadaran keluarga pasien mengenai pentingnya deteksi dini dan perawatan yang tepat pada bayi dengan hiperbilirubin. Dengan edukasi yang baik, keluarga diharapkan dapat berperan aktif dalam mendukung proses pemulihan bayi, mencegah terjadinya komplikasi, serta meningkatkan kualitas kesehatan neonatus secara optimal. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang berorientasi pada peningkatan mutu edukasi dan keselamatan pasien di lingkungan rumah sakit.

Penulis: Debora Wailiti