
NERS NEWS — Pesatnya perkembangan teknologi digital saat ini mempermudah remaja dalam mengakses berbagai informasi. Namun, tanpa literasi yang tepat, kemudahan ini justru memperbesar risiko paparan konten negatif, cyberbullying, fenomena FOMO (Fear of Missing Out), hingga miskonsepsi mengenai kesehatan seksual. Menyikapi fenomena kompleks tersebut, Kelompok 3 Kelas A4/A2024 Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga menggelar program pengabdian masyarakat inovatif bertajuk “Beyond Puberty-Kenali Diri untuk Masa Depan”. Kegiatan yang dikemas dalam bentuk Project-Based Learning (PJBL) ini dilaksanakan pada Kamis, 4 Juni 2026 di SMP Hidayatul Ummah, Mulyorejo, Surabaya. Keunikan program ini terletak pada integrasi empat cabang keilmuan keperawatan sekaligus, yaitu Keperawatan Maternitas, Keperawatan Anak, Sehat dan Sakit Akut, serta Psikologi Sosial dan Budaya dalam Keperawatan. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan di bawah bimbingan tim dosen fasilitator: Retnayu Pradanie, S.Kep., Ns., M.Kep., Nuzul Quraniati, S.Kep.Ns., M.Ng., Ph.D., dan Nur Arifah Astri, S.Kep., Ns., M.Kep.
kegiatan yang diikuti oleh sekitar 28 siswi SMP berusia 14–17 tahun ini berfokus pada pemberian pemahaman biologis yang komprehensif mengenai masa pubertas. Kelompok ini membedah pentingnya menjaga personal hygiene demi mencegah berbagai masalah kesehatan reproduksi.
Para peserta diberikan panduan praktis mengenai manajemen kebersihan menstruasi (menstrual hygiene) untuk mencegah infeksi saluran reproduksi, serta edukasi deteksi dini keputihan patologis yang sering kali membuat remaja merasa malu atau takut untuk berkonsultasi. Melalui pembagian leaflet dan penyampaian materi yang interaktif, mahasiswa juga menekankan bahaya nyata dari pernikahan dini dan kehamilan remaja yang menurut data WHO (2024) meningkatkan risiko eklampsia hingga mortalitas maternal.
Tidak hanya menyentuh aspek fisik, program “Beyond Puberty” ini juga menyoroti aspek psikososial remaja. Peningkatan hormon pubertas secara biologis kerap memicu ketidakseimbangan serotonin yang berujung pada perubahan suasana hati yang cepat (mood swing). Kondisi ini diperberat oleh tekanan akademik maupun standar kecantikan semu di media sosial yang rentan menurunkan self-esteem siswi.
Dalam sesi ini, mahasiswa FKp Unair melatih para siswi untuk melakukan regulasi emosi secara sehat. Beberapa teknik sederhana seperti manajemen stres, membangun afirmasi positif, membatasi waktu layar (screen time), hingga keberanian membangun pergaulan sehat dan komunikasi positif diperkenalkan sebagai benteng pertahanan diri
Penulis : Grecia Stefania T
Editor : Eva Khoirunnisa Adinta (Airlangga Nursing Journalist)





