
NERS NEWS — Program Studi S1 Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga menyelenggarakan kegiatan Guest Lecture Non-Alumni dengan tema “Hospital Disaster Plan: Kesiapsiagaan dan Respons Rumah Sakit Menghadapi Bencana” pada Kamis, 27 Agustus 2026. Kegiatan ini menghadirkan Sutono, S.Kp., M.Sc., M.Kep., dosen Departemen Keperawatan Dasar dan Emergensi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan I Dr. Sriyono, S.Kep.,Ns.,M.Kep.,Sp.,KMB Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga. Dalam sambutannya, Wakil Dekan I menekankan pentingnya penguatan pengetahuan dan kompetensi mahasiswa keperawatan dalam menghadapi kondisi bencana dan kedaruratan. Perawat sebagai bagian dari tenaga kesehatan memiliki posisi strategis dalam mempertahankan keselamatan pasien serta memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan ketika terjadi peningkatan kebutuhan pelayanan akibat bencana.
Guest lecture tersebut turut dihadiri oleh Koordinator Program Studi (KPS), Sekretaris Program Studi (SPS), Gugus Penjaminan Mutu (GPM), dosen, serta mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan. Kehadiran unsur pimpinan, pengelola program studi, penjaminan mutu, dan mahasiswa menunjukkan komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, khususnya pada bidang keperawatan bencana dan kegawatdaruratan.

Dalam pemaparannya, Ns Sutono menjelaskan bahwa rumah sakit merupakan fasilitas kritis yang harus tetap aman, berfungsi, dan dapat diakses sebelum, selama, maupun setelah terjadinya bencana. Bencana dapat menyebabkan kerusakan fasilitas, lonjakan jumlah pasien, gangguan logistik, keterbatasan tenaga kesehatan, serta terhentinya pelayanan kesehatan esensial. Oleh karena itu, setiap rumah sakit perlu memiliki Hospital Disaster Plan atau Rencana Penanggulangan Bencana Rumah Sakit yang jelas, sistematis, dan dapat diterapkan.
Mahasiswa juga memperoleh pemahaman mengenai Hazard Vulnerability Assessment, yaitu proses identifikasi ancaman, kerentanan, kapasitas, dan risiko yang dimiliki rumah sakit. Hasil analisis tersebut digunakan untuk menentukan prioritas risiko, menyusun strategi mitigasi, serta melakukan pemantauan secara berkelanjutan.
Pembahasan juga mencakup manajemen sumber daya manusia, ketersediaan obat dan alat kesehatan, alat pelindung diri, oksigen, air bersih, bahan bakar, komunikasi krisis, prosedur evakuasi, serta Continuity of Operations untuk menjamin rumah sakit tetap beroperasi. Setelah bencana, rumah sakit perlu melakukan pemulihan layanan, pemulihan tenaga kesehatan dan sarana, pemberian dukungan psikososial, serta After Action Review sebagai dasar perbaikan sistem kesiapsiagaan pada masa mendatang.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami konsep penanggulangan bencana rumah sakit, tetapi juga mampu mengidentifikasi peran perawat dalam sistem komando, triase, evakuasi, komunikasi, pengelolaan sumber daya, dukungan psikososial, dan kesinambungan pelayanan kesehatan. Rumah sakit yang tangguh dibangun melalui perpaduan antara fasilitas yang aman, sistem yang berfungsi, serta sumber daya manusia yang siap dan kompeten.
Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals, khususnya SDG 3: Good Health and Well-Being melalui penguatan kesiapsiagaan pelayanan kesehatan; SDG 4: Quality Education melalui pembelajaran bersama pakar; SDG 11: Sustainable Cities and Communities melalui pengembangan fasilitas kesehatan yang aman dan tangguh terhadap bencana; SDG 13: Climate Action melalui peningkatan kesiapan menghadapi bencana yang berkaitan dengan perubahan iklim; serta SDG 17: Partnerships for the Goals melalui kolaborasi akademik antara Universitas Airlangga dan Universitas Gadjah Mada.
Penulis: Dr. Iqlima Dwi Kurnia, S.Kep.,Ns.,M.Kep





