CoLeN FKp Unair Enhances International Collaboration During Mobility Program with PNU Thailand Guest Lecture

Foto: Salma Ayu Pramesty

NERS NEWS — Kamis, 30 April 2026 — Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga menyelenggarakan kegiatan CoLEN (Collaborative Learning for Nurses) dalam bentuk guest lecture pada Kamis, 30 April 2026 yang dilaksanakan secara luring diikuti oleh mahasiswa keperawatan. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Latifah Jehloh, dosen keperawatan dari Faculty of Nursing, Princess Naradhiwas University, Thailand, yang turut hadir dalam program student inbound.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai palliative care, khususnya dalam menghadapi pasien dengan penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Sejak awal acara, suasana berlangsung interaktif melalui diskusi singkat yang diawali dengan pertanyaan-pertanyaan untuk menggali opini peserta terkait pengalaman dan pandangan mereka tentang perawatan paliatif.

Dalam pemaparannya, Dr. Latifah Jehloh menjelaskan bahwa palliative care merupakan pendekatan perawatan yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup pasien, bukan semata-mata pada penyembuhan. Materi yang disampaikan mencakup konsep dasar palliative care, penerapannya di instalasi gawat darurat (emergency department), perawatan pada pasien lansia, serta berbagai hambatan yang masih dihadapi dalam praktik pelayanan kesehatan saat ini.

Salah satu pembahasan penting dalam sesi ini adalah faktor-faktor yang memengaruhi akses layanan paliatif bagi lansia dengan penyakit serius yang membatasi kehidupan. Dijelaskan bahwa akses terhadap palliative care di instalasi gawat darurat dipengaruhi oleh lima faktor yang saling berkaitan, yaitu dukungan organisasi, pelatihan tenaga kesehatan, kompetensi budaya, sikap tenaga kesehatan, serta orientasi utama layanan gawat darurat yang cenderung berfokus pada penyelamatan nyawa. Mayoritas hambatan tersebut bersifat dapat dimodifikasi melalui perubahan kebijakan, peningkatan edukasi, serta penguatan kesadaran budaya dalam pelayanan kesehatan.

Pemateri juga menyoroti peran penting perawat dalam konteks ini. Perawat memiliki peran krusial dalam memulai percakapan terkait palliative care, menjadi advokat bagi pasien, serta menjembatani komunikasi antara pasien dan keluarga. Penerapan palliative care sejak dini di instalasi gawat darurat terbukti dapat meningkatkan kualitas hidup pasien, mengurangi tindakan medis agresif yang tidak diperlukan, serta tetap menjaga martabat pasien di akhir kehidupannya.

Selain itu, disampaikan pula bahwa masih banyak tenaga kesehatan yang menganggap keberhasilan hanya diukur dari kemampuan menyelamatkan nyawa. Hal ini seringkali menimbulkan dilema ketika pasien memilih keputusan Do Not Resuscitate (DNR), sehingga tenaga kesehatan merasa gagal karena tidak dapat melakukan intervensi maksimal. Padahal, dalam pendekatan paliatif, menghormati keputusan pasien merupakan bagian penting dari pelayanan yang berpusat pada pasien.

Acara diakhiri dengan sesi tanya jawab menjadi semakin hidup karena banyak peserta mengangkat isu-isu krusial yang berkaitan dengan aspek budaya, etika, serta preferensi pasien dalam pengambilan keputusan perawatan. Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa keperawatan mampu memahami konsep palliative care secara lebih komprehensif serta mengembangkan kemampuan komunikasi yang empatik dan profesional. Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 3 (Good Health and Well-being) dalam meningkatkan kualitas hidup pasien, serta poin 4 (Quality Education) melalui penguatan pembelajaran kolaboratif dan internasional.

Penulis: Fadilatul Azzahra

Editor: Nandyta Putri Rahmadhani (Airlangga Nursing Journalist)