NERS NEWS—Setiap tahun pneumonia menjangkit sekitar 450 juta orang di seluruh dunia. Menurut sebuah penelitian dalam jurnal The Lancet, pneumonia menyebabkan 3 juta kematian pada tahun 2016 dan merupakan salah satu penyakit dengan kasus kematian paling sering di dunia.
Pneumonia adalah infeksi saluran pernapasan bawah yang menyebabkan inflamasi atau peradangan akut pada parenkim paru. Pneumonia terjadi disebabkan oleh mikroorganisme seperti, Streptococcus pneumoniae, virus, dan jamur. Beberapa bakteri lain juga dapat menyebabkan pneumonia namun dengan gejala yang lebih ringan misalnya, Mycoplasma pneumoniae, dan Chlamydophila pneumoniae sehingga kekebalan tubuh menjadi turun. Tak hanya itu, pneumonia juga dapat menginfeksi seseorang melalui bahan kimia, dan terpapar radiasi. Pneumonia memiliki gejala seperti demam, batuk kering, dan sesak napas.
Dilihat dari lokasi infeksinya yakni di saluran pernapasan, penyakit pneumonia sering disamakan dengan Covid-19. Lalu apakah penyakit ini sama dengan Covid-19 dan dapat memperparah gejala pada penderita Covid-19? Untuk membahas topik ini lebih lanjut, webinar yang bertajuk “Lawan Pneumonia Selama Pandemi Covid-19” pada Sabtu, (4/12/21) oleh kelompok 2 kelas A1 angkatan 2020.
Selama ini, sebagian masyarakat sering mengaitkan penyakit yang berhubungan dengan sistem pernapasan dengan Covid-19, salah satunya pneumonia. Namun, sebenarnya pneumonia dengan Covid-19 sangat berbeda. Jika pneumonia merupakan infeksi saluran pernapasan bagian bawah, Covid-19 merupakan penyakit infeksi berat saluran pernapasan bagian atas yang akhirnya dapat menyebar ke paru-paru.
Seseorang yang mengidap Covid-19 fase awalnya merasakan gejala berupa demam, batuk kering, hingga kelelahan. Selain itu, penderita Covid-19 juga mungkin mengalami mual, diare, nyeri otot, hingga muntah. Namun, jika infeksi tersebut sudah menyebabkan pneumonia, maka akan mengalami detak jantung yang lebih cepat, sesak napas, napas yang cepat dan pendek, hingga banyak berkeringat. Sedangkan pada penderita pneumonia biasa, beberapa gejala yang dapat terjadi adalah tampak kebiruan pada bibir dan kuku, mengalami delirium, batuk yang menghasilkan lendir, dan nyeri pada dada yang parah terutama ketika batuk. Meski begitu, hal yang paling terlihat dari perbedaan gejala pneumonia, pada Covid-19 di awal serangan adalah batuknya tidak berdahak.
Walaupun berbeda tetapi dapat disimpulkan bahwa seseorang penderita pneumonia saat pandemi dapat lebih mudah terjangkit Covid-19 karena merupakan penyakit yang berhubungan di saluran pernapasan. Selain itu, faktor utama yang dapat mengakibatkan pneumonia adalah illness history dan faktor usia karena kedua faktor tersebut memegang peranan penting terutama pada lansia yang menderita penyakit bawaan.
Setelah mengetahui perbedaan gejala, dan penyebab pneumonia diharapkan masyarakat dapat lebih memahami terkait gejala pneumonia dan Covid-19 yang berbeda. Untuk menghindari pneumonia masyarakat dapat melakukan dengan menerapkan pola makan yang sehat, rutin berolahraga, dan hindari kebiasaan merokok maupun asap rokok yang dapat mengganggu kesehatan sistem pernapasan.
Penulis : Dewi Rachmawati (Airlangga Nursing Journalist)
Editor : Risky Nur Marcelina (Airlangga Nursing Journalist)

