NERS NEWS – Kelainan payudara berupa kanker merupakan keganasan yang paling banyak ditemui di Indonesia (WHO, 2020). Oleh karena itu, penting dilakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) oleh wanita secara rutin setiap bulan. Tujuannya untuk mengenali bentuk normal payudaranya dan mendeteksi dini kelainan pada payudara.
Kelainan pada payudara dapat dibedakan menjadi keganasan (kanker payudara) dan bukan keganasan (seperti tumor jinak payudara). Kelainan payudara umumnya menunjukkan gejala yang hampir sama, sehingga penting bagi wanita untuk mengenali dan meningkatkan kesadaran terhadap SADARI. SADARI merupakan salah satu cara yang mudah, efektif, tidak memerlukan biaya, serta memberikan manfaat yang signifikan untuk mendeteksi kelainan-kelainan pada payudara sehingga memungkinkan untuk ditatalaksana lebih awal dan memberikan prognosis yang lebih baik.
Mahasiswa Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga telah melakukan penyuluhan dan simulasi tentang SADARI pada Sabtu, 25 Januari 2025 di Balai RW 6 Kelurahan Kalijudan, Surabaya. Kegiatan tersebut dihadiri oleh ibu-ibu Kader Surabaya Hebat (KSH) dan ibu rumah tangga di RW 06 Kalijudan. Media yang digunakan adalah leaflet dan alat peragaan. Kegiatan dimulai dengan pemaparan materi mengenai kanker payudara. Kanker payudara merupakan keganasan yang berasal dari kelenjar di payudara. Ditandai dengan perubahan bentuk dan besarnya payudara, adanya benjolan di payudara, nyeri pada payudara, kulit pada payudara menebal, kulit puting susu dan areola melekuk ke dalam atau berkerut, adanya luka/borok yang tidak sembuh, serta keluar cairan yang tidak normal dari puting susu (berupa nanah, darah, cairan encer atau keluar air susu pada wanita yang tidak hamil dan menyusui).
Kemudian, dilanjutkan dengan pemaparan dan peragaan mengenai SADARI. SADARI dilakukan setiap bulan secara teratur pada hari ke-7 hingga ke-10 setelah haid, saat payudara mengendur, sehingga jika ada benjolan dapat diraba dengan mudah. Jika wanita sudah tidak lagi mendapatkan haid, sebaiknya menentukan satu hari tertentu untuk pemeriksaan, misalnya setiap tanggal satu setiap bulan. SADARI dilakukan dengan berdiri tegak di depan cermin; kedua tangan ke atas ditekuk ke belakang kepala; kedua tangan di pinggang dan condongkan bahu ke depan; angkat salah satu tangan ke atas dan tekuk siku hingga dapat menyentuh bahu bagian atas, dengan ujung jari dari tangan satunya untuk meraba dan menekan area payudara hingga ketiak, lakukan gerakan atas-bawah, gerakan lingkaran dan gerakan lurus dari arah tepi payudara ke puting, dan sebaliknya, ulangi gerakan yang sama pada payudara kanan; cubit kedua puting. Selanjutnya, pada posisi tiduran, letakkan bantal di bawah pundak kanan. Angkat lengan ke atas. Cermati payudara kanan dan lakukan tiga pola gerakan seperti sebelumnya. Dengan menggunakan ujung jari-jari, tekan-tekan seluruh bagian payudara hingga ke sekitar ketiak. Dari tata cara tersebut, cermati bentuk dan ukuran, serta deteksi adanya benjolan, tekstur kulit seperti kulit jeruk, dan cairan abnormal pada payudara.
Selama kegiatan, peserta tampak memperhatikan dengan saksama. Peserta sangat antusias dan aktif mengikuti peragaan dan diskusi mengenai SADARI. Pada akhir sesi, peserta dapat memberikan feedback yang sesuai dengan materi yang telah dijelaskan. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan ini telah berhasil dilaksanakan dan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi peserta serta bisa diterapkan untuk dapat mendeteksi dini adanya kelainan pada payudara.
Penulis: Nurul Indah Safitri
Editor: Nandyta Putri Rahmadhani (Airlangga Nursing Journalist)

