NERS NEWS - Surabaya – Fenomena meningkatnya jumlah perokok remaja di Indonesia menjadi perhatian serius berbagai pihak. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa kelompok usia 15–19 tahun menjadi kelompok perokok terbanyak, sementara 7,4% perokok aktif berasal dari usia 10–18 tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa intervensi kesehatan pada usia sekolah sangat diperlukan. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga menggelar kegiatan edukasi bertajuk “BRONKUS 2025: Bersama Remaja Optimalkan Nilai Kesehatan dan Upaya Stop Merokok” di SMP Negeri 35 Surabaya pada Rabu, 19 November 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Project-Based Learning (PjBL) dalam mata kuliah Keperawatan Klien Dewasa yang berfokus pada sistem kardiovaskuler, respirasi, hematologi dan promosi kesehatan. Sasaran kegiatan adalah siswa Koordinator UKS dari berbagai kelas, yang diharapkan menjadi motor penggerak kesehatan di lingkungan sekolah.
Acara dibuka dengan sambutan dari pihak sekolah, dosen pembimbing, serta ketua pelaksana. Setelah itu, peserta mengikuti sesi edukasi utama yang disampaikan oleh divisi pendidikan kesehatan. Materi mencakup pengertian berbagai jenis rokok termasuk rokok elektrik dan nicotine pouch, kandungan zat berbahaya seperti nikotin, tar, dan karbon monoksida, serta efek jangka pendek dan jangka panjang bagi perokok aktif maupun pasif. Para pemateri juga menyampaikan data prevalensi terbaru tentang perokok remaja sehingga siswa memahami betapa seriusnya masalah ini di Indonesia. Tidak hanya menerima materi, siswa juga diajak berdiskusi dan mengajukan pertanyaan terkait fenomena merokok di lingkungan sekolah maupun rumah. Antusiasme terlihat dari banyaknya siswa yang berani berbagi pengalaman dan pandangan, menandakan bahwa isu ini sangat dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Kegiatan semakin menarik saat tim melakukan demonstrasi alat peraga paru-paru. Melalui alat sederhana tersebut, siswa dapat melihat simulasi bagaimana paru-paru bekerja dan bagaimana asap rokok dapat menyebabkan perubahan warna dan elastisitas jaringan paru. Demonstrasi visual ini menjadi momen penting karena memberikan gambaran nyata tentang dampak merokok terhadap sistem pernapasan, sehingga siswa lebih mudah memahami bahaya yang mungkin tidak terlihat secara langsung. Selain edukasi bahaya merokok, peserta juga diberikan pelatihan penanganan awal pada orang pingsan. Pelatihan ini bertujuan menambah keterampilan dasar siswa UKS sebagai garda terdepan dalam pertolongan pertama di lingkungan sekolah. Peserta belajar mengenai tanda-tanda pingsan, langkah aman membantu korban, serta kapan harus meminta bantuan tenaga medis.
Untuk mengetahui efektivitas edukasi, panitia memberikan pre-test dan post-test kepada peserta. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada nilai post-test, menandakan bahwa pengetahuan siswa mengenai bahaya merokok dan kesehatan respirasi meningkat setelah mengikuti kegiatan. Dosen pendamping BRONKUS 2025, ibu Laily Hidayati S. Kep., Ns., M.Kep., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk komitmen Fakultas Keperawatan dalam menjalankan Tri Dharma pendidikan yang salah satunya adalah pengabdian masyarakat. “kegiatan ini memang rutin dilaksanakan karena kita juga harus menjalankan tri dharma perguruan tinggi, saya harap adek adek mampu mengambil banyak ilmu dari kakak – kakak yang ada disini,” ujarnya.
Kegiatan ditutup dengan sesi dokumentasi dan pembagian leaflet edukatif mengenai bahaya merokok. Dengan terlaksananya BRONKUS 2025, tim pelaksana berharap SMPN 35 Surabaya semakin termotivasi untuk menciptakan lingkungan sekolah yang sehat, aman, dan bebas asap rokok, serta mampu membangun generasi remaja yang lebih sadar kesehatan.
Editor: Nasya Puspita Anggraeni (Airlangga Nursing Journalist)

