NERS NEWS - Surabaya, 14 Februari 2025 - Meningkatnya kasus hipertensi di masyarakat mendorong berbagai pihak untuk melakukan upaya pencegahan dan edukasi kesehatan. Salah satu metode yang terbukti efektif dalam mengontrol tekanan darah adalah senam anti hipertensi. Program ini diperkenalkan dalam kegiatan Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) di Poli Jantung, Rumah Sakit Universitas Airlangga pada Jumat, 14 Februari 2025.
Kegiatan ini diikuti oleh pasien dengan riwayat hipertensi yang datang ke Poli Jantung. Para peserta diberikan edukasi mengenai pentingnya olahraga dalam mengontrol tekanan darah serta diajak untuk mempraktikkan gerakan dasar senam anti hipertensi.
Apa itu senam anti hipertensi?
Senam anti hipertensi adalah serangkaian latihan fisik ringan yang bertujuan untuk membantu menstabilkan tekanan darah. Gerakan dalam senam ini difokuskan pada melancarkan sirkulasi darah, meningkatkan elastisitas pembuluh darah, serta mengurangi stres. Jika dilakukan secara rutin, senam ini dapat membantu mencegah komplikasi serius akibat hipertensi, seperti penyakit jantung dan stroke.
Menurut Wiwin Pratiwi, S.Kep.,Ns., selaku pembimbing klinik kegiatan ini, senam anti hipertensi merupakan langkah sederhana namun sangat bermanfaat. "Banyak pasien yang tidak menyadari bahwa aktivitas fisik sederhana seperti senam bisa berdampak besar dalam menjaga tekanan darah tetap stabil. Kami berharap kegiatan ini bisa menginspirasi pasien untuk lebih aktif bergerak," ujarnya.
Siapa saja yang bisa melakukan senam ini?
Senam anti hipertensi bisa dilakukan oleh semua kelompok usia, termasuk lansia. Gerakannya sederhana, mudah diikuti, dan tidak memerlukan peralatan khusus. Peserta hanya perlu menyediakan waktu 15–30 menit per hari untuk mendapatkan manfaatnya.
Dalam sesi penyuluhan ini, peserta menunjukkan antusiasme tinggi. Lebih dari 80% peserta aktif mengikuti sesi senam dan menyatakan ingin menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, sesi tanya jawab interaktif juga berlangsung menarik. Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah:
"Tensi normal untuk lansia berapa, ya?”
Jawaban: Tekanan darah kurang dari 150/90 mmHg masih dianggap aman pada lansia, terutama jika memiliki penyakit penyerta seperti diabetes atau jantung.
Apa rekomendasi untuk kegiatan selanjutnya?
Dari hasil evaluasi, beberapa rekomendasi yang diusulkan antara lain:
- Menambah durasi praktik senam, agar peserta lebih memahami gerakan dengan benar.
- Menyediakan lebih banyak leaflet dan poster edukasi, agar informasi dapat menjangkau lebih banyak pasien.
- Melakukan evaluasi pasca-penyuluhan, seperti melalui kuisioner singkat untuk menilai peningkatan pemahaman peserta.
Melalui kegiatan ini, diharapkan semakin banyak pasien yang menyadari pentingnya aktivitas fisik dalam mengontrol tekanan darah. Dengan rutin melakukan senam anti hipertensi, risiko komplikasi dapat dikurangi, dan kualitas hidup pasien hipertensi pun meningkat.
Ayo mulai kebiasaan sehat dengan senam anti hipertensi! Jantung sehat, hidup lebih berkualitas!
Penulis : Kelompok 1 Profesi Keperawatan 2025
Editor : Eva Khoirunnisa Adinta (Airlangga Nursing Journalist)

