Pertolongan Pertama Gagal Napas: Penyuluhan di Ruang ICU Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya

  • By Eva Khoirunnisa Adinta
  • In Ners News
  • Posted 02 August 2025

NERS NEWS – (Jum’at, 25 Juli 2025) – Mahasiswa Profesi Ners Universitas Airlangga mengadakan kegiatan penyuluhan kesehatan bertema Pertolongan Pertama Gagal Napas: Penyuluhan di Ruang ICU Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya.

Kegiatan ini berlangsung di ruang tunggu ICU Rumah Sakit Universitas Airlangga yang ditujukan kepada keluarga pasien di lingkungan ICU Rumah Sakit Universitas Airlangga. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat awam mengenai tanda-tanda awal gagal napas serta langkah awal yang tepat sebelum bantuan medis lanjutan diberikan.

Penyuluhan ini dipandu oleh Agustin Nurmalasari selaku moderator dan didampingi oleh Ners Nisa selaku Kepala Ruangan ICU. Kegiatan dibuka dengan sapaan hangat dari pemateri, Soviya, yang menyampaikan, “Hari ini kita akan membahas salah satu masalah yang sering terjadi pada pasien ICU yaitu gagal nafas”

Pemateri menjelaskan bahwa gagal nafas adalah kondisi saat seseorang tiba-tiba sulit bernapas karena adanya peradangan dan penumpukan cairan di kantung udara paru-paru. Akibatnya, paru-paru tidak bisa menukar oksigen dengan baik sehingga tubuh kekurangan oksigen. “Gagal napas bisa terjadi sebagai efek dari penyakit berat lainnya. Oleh karena itu, penting bagi keluarga pasien untuk tahu gejala awalnya seperti napas cepat, sesak berat, atau bibir membiru,” ujar Soviya saat menyampaikan materi di hadapan peserta.

Pemateri lainnya, Rahma Nadya, menambahkan “tindakan cepat dan benar bisa menyelamatkan nyawa. Posisi duduk tegak, pemberian oksigen jika tersedia, dan segera menghubungi tenaga medis adalah langkah utama yang bisa dilakukan.” katanya.

Respon Positif dari Peserta

Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari peserta. Beberapa peserta menunjukkan ketertarikan dengan tampak aktif bertanya. Seorang ibu bertanya, “Jika pasien tidak sadar dan terlanjur dimiringkan ke kiri apakah berbahaya?”

Rahma Nadya menjawab, “Posisi miring kanan umumnya memang lebih direkomendasikan, terutama untuk mencegah aspirasi dan mempermudah pernapasan. “Namun, jika pasien tidak sengaja dimiringkan ke kiri, tidak langsung berbahaya. Yang penting jalan napas tetap terbuka dan kondisi pasien stabil.”

Penyuluhan ditutup dengan harapan agar keluarga pasien lebih sigap dan terlatih secara dasar dalam mengenali kondisi kritis. “Dengan edukasi ini, kami berharap keluarga tidak hanya jadi pendamping pasif, tapi juga bagian dari sistem pendeteksian dini. Itu sangat penting untuk pasien ICU,” tutup Mala.

 

Penulis: Kelompok 3 Stase Kritis
Editor : Eva Khoirunnisa Adinta (Airlangga Nursing Journalist)

Pin It
Hits 260

Berita Terbaru