INFORMASI TEST ELPT (KLIK DISINI)

Pengalaman Perawat dalam memaknai tersedak lansia saat makan : Studi Fenomenologi

  • By USI_FKp
  • In Ners News
  • Posted 14 June 2022

NERS NEWS - Lansia akan mengalami penurunan fungsi fisiologis tubuh yang dapat dikaitkan dengan proses penuaan, salah satunya adalah disfagia (Aslam and Vaezi, 2013). Tahun 2021 terdapat delapan provinsi yang telah memasuki struktur penduduk tua, yaitu persentase penduduk lanjut usia yang lebih besar dari sepuluh persen. Kedelapan provinsi tersebut adalah DI Yogyakarta (15,52 persen), Jawa Timur (14,53 persen), Jawa Tengah (14,17 persen), Sulawesi Utara (12,74 persen), Bali (12,71 persen), Sulawesi Selatan (11,24 persen), Lampung (10,22 persen), dan Jawa Barat (10,18 persen) (BPS Jatim, 2021). Prevalensi disfagia pada orang berusia 65 tahun atau lebih berkisar antara 25% hingga 38% pada lansia yang hidup secara mandiri, dan 50% hingga 60% pada lansia yang menjalani perawatan (Pere Clavé et al., 2012; Igarashi et al., 2019; Sura et al., 2012). Sekitar 13%-51% lansia mengalami disfagia (Logrippo et al., 2017; Wirth et al., 2016).
Dampak yang ditimbulkan dari disfagia yakni menyebabkan lansia tersedak saat mengkonsumsi makanan dan minuman sehingga dapat masuk ke nasofaring (Duckett SA, Bartman M, Roten RA, 2010) (Aslam and Vaezi, 2013) (Christmas and Rogus, 2019). Kondisi tersedak pada lansia akan mengakibatkan kekurangan oksigen hingga mengakibatkan kematian (Putra, 2015). Selain kondisi kegawat daruratan tersebut, kejadian tersedak pada lansia akan menyebabkan pneumonia (Chen, Kent and Cui, 2021), malnutrisi (Cichero, 2018), dehidrasi (Ebihara et al., 2016), peningkatan waktu perawatan di rumah sakit (Sura et al., 2012), peningkatan waktu rehabilitasi dan kebutuhan bantuan perawatan untuk jangka panjang, kematian (Kramarow, Warner and Chen, 2014) (Taniguchi et al., 2021), serta meningkatkan biaya perawatan kesehatan (Sura et al., 2012).
Perawat harus mengetahui dasar perawatan dalam pemberian nutrisi pada lansia karena perawat merupakan tenaga kesehatan utama di panti wreda (Otto, Bischoff and Wollesen, 2019). Salah satu peran perawat dalam pemberian nutrisi antara lain menyiapkan makanan, memberikan makan, mengevaluasi kecukupan makan, dan memastikan keamanan saat makan (Beck and Hansen, 2010) (Barić, Šatalić and Keser, 2006). Masalah keamanan seperti tersedak sering muncul selama makan, dimana perawat tidak mengkaji tingkat kesulitan menelan pada lansia dan lansia makan tanpa pendampingan. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan perawat akan dysphagia dan tersedak pada lansia. Sánchez et al., (2021) menyebutkan bahwa tindakan serta pengetahuan perawat tentang definisi, diagnosis, dan tatalaksana klinis disfagia masih rendah.
Berdasarkan data pendahuluan di Panti Wreda Jawa Timur terhadap 15 staf panti, diperoleh lima belas orang (100%) menyatakan tidak adanya aturan tentang lansia yang sulit menelan makanan dan pendampingan makanan. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu bahwa pendidikan dan pelatihan terkait disfagia diterima oleh 69,9% responden, maka diperlukan kolaborasi antara ahli gizi dengan perawat dalam hal pemenuhan nutrisi pada pasien lanjut usia. Tingkat pengetahuan perawat yang rendah tentang pemenuhan nutrisi berhubungan dengan kejadian disfagia (rata-rata 5,14 berdasarkan rentang skor dari 0 hingga 10 poin) (Kim and Lee, 2019).
Berfokus pada makna, yakni cara perawat memaknai peristiwa atau pengalaman hidup tertentu yang menjadi perhatian peneliti, dalam situasi alamiah mereka apa adanya terkait dengan memaknai tersedak pada lansia. Banyak perawat yang mengabaikan terjadinya tersedak pada lansia. Perawat harus menyampaikan kepada pasien dan koleganya untuk memutuskan cara terbaik dalam memberikan penanganan tersedak (Wright, Smithard and Griffith, 2020). Dengan mengetahui persepsi perawat akan tersedak, tenaga kesehatan dapat melakukan rencana tindakan untuk mencegah tersedak saat makan dan menetapkan suatu aturan di Indonesia. Banyak negara yang telah menetapkan aturan tertentu akan diagnosis disfagia pada lansia, jenis makanan lansia, cara pemberian, dan jumlah nutrisnya. Beberapa negara yang telah menerapkan aturan antara lain Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Hong Kong, serta Australia (Govindaraju et al., 2018). Menurut Cichero (2018) pemilihan jenis/tekstur serta bahan makanan yang cermat bermanfaat untuk memaksimalkan asupan secara oral, terutama asupan protein, serta mempertahankan nutrisi yang cukup untuk lansia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimulainya kembali asupan oral oleh pasien yang menerima nutrisi enteral membutuhkan pemulihan dalam fungsi menelan (Furuya et al., 2020). Sebuah tinjauan mengklarifikasi bahwa terdapat kebutuhan studi yang dirancang dengan menganalisis intervensi spesifik yang memiliki efek dalam kaitannya dengan lansia yang mengalami disfagia (Melgaard et al., 2021).

Penulis : Rizky Putra Prihatama, S.Kep.,Ns.,Rn.

 

Pin It
Hits 71